Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 23


__ADS_3

Aku tak tahu mengapa jantungku berdetak begitu kencang, entah karna aku yang terpesona dengan kakak Feng atau karna tak menyangka jika putra mahkota Liang menceritakan serta membanggakan perubahanku pada sahabatnya. Ada perasaan senang yang kurasakan jika benar putra mahkota Liang turut menceritakan tentangku pada sahabatnya, aku berpikir jika isi kepala dan hatinya masih di penuhi Ma Xiao Qing, musuh terbesarku.


"Karna Bo Qing dan Ah Ke telah siap, bagaimana kalau kita mulai saja" kata putra mahkota Liang yang menyentakku dari lamunan.


Aku menoleh sesaat menatap Bo Qing, pengawalku itu lantas tersenyum dan berkata "yang mulia putri tak perlu khawatir" katanya berusaha menenangkanku yang kini kembali di landa rasa takut dan khawatir.


Aku mengangguk seraya menguatkan hati dan pikiranku, berusaha mempercayai Bo Qing bagaimanapun pengawal pribadiku itu butuh dukungan. Jika aku terus menampakan kecemasan dan khawatir yang kurasakan, itu akan membuat Bo Qing kepikiran dan konsentransinya pecah.


"Kau harus menang, bagaimanapun kau turut membawa namaku dalam pertandingan ini" kataku yang langsung di angguki Bo Qing


Bo Qing dan Ah Ke mulai berjalan ketengah halaman bangunan utama Guang Bai yang merupakan markas besar perajurit Shi Rong. Guang Bai yang berlantai 2 bagiku semacam kantor pengadilan, lalu bangunan berlantai dua yang lebih besar dari Guang Bai yang terletak di sisi kanannya adalah kamar para prajurit Shi Rong. Bangunan berlantai satu di sisi kirinya merupakan dapur, dan terdapat kandang kuda di belakang Guang Bai serta kebun sayuran dan buah, juga terdapat ladang padi dan gandum. Tidak jauh dari Guang Bai terdapat air terjun dan sungai yang mengalirkan air sebagai sumber mata air mereka. Markas persembunyian prajurit Shi Rong sungguh seperti sebuah desa tersembunyi yang makmur.


Suara riuh para penonton yang mengelilingi Bo Qing dan Ah Ke menarik perhatianku. Sejak tadi aku terlalu banyak melamun karna terlalu banyak pikiran. Tapi kini aku harus fokus menonton pertarungan mereka, bagaimanapun aku tak ingin melewatkan pertarungan mereka. Terlebih lagi sebagai seorang pendukung Bo Qing satu - satunya, juga sebagai junjungannya, aku harus mengabadikan moment pertarungannya yang pastinya akan sangat seru.


Jantungku berdebar cepat saat Bo Qing dan Ah Ke membungkuk seraya melakukan penghormatan sebelum keduanya mengambil kuda kuda masing - masing. Keduanya saling berputar terlebih dahulu sebelum Ah Ke menyerang Bo Qing dengan gerakan cepat, Bo Qing yang tak siap dengan gerakan Ah Ke lantas mendapat pukulan di wajah dan perut. Aku meringis tatkala melihat sudut bibir dari teras bangunan Guang Bai tempatku berada.


Bo Qing meludahkan darah, ia lalu menyeka sudut bibirnya yang mengalir darah segar. Tatapannya mulai nampak serius walaupun ia masih saja pergerakannya sangat lambat dan mudah di baca oleh Ah Ke yang tak hentinya menyerang Bo Qing dengan sekuat tenaga.


**Buk!


Buk!


Buk**!


Suara pukulan dan erangan yang lolos dari mulut Bo Qing membuatku lantas terpejam, aku tak bisa membayangkan bagaimana sakit dan perih yang pengawalku rasakan. Terlebih Ah Ke menyerangnya dengan kekuatan penuh.


"Jadi ini kemampuan, kekuatan, bakat dan keterampilan Bo Qing yang kau bangakan, mei mei?" tanya putra mahkota Liang yang entah sejak kapan telah berdiri di sisinya


Aku menoleh sesaat sebelum kembali membuang pandanganku kedepan dan berkata "Gege tidak tahu, bagi Bo Qing ini hanyalah sebuah pemanasan" kataku yang entah kenapa mengingat perkataan Bo Qing yang mengatakan ia butuh sebuah rangsangan, tubuhnya baru akan merespon jika ia terdesak atau nyawanya terancam dalam bahaya.

__ADS_1


Aku tahu tak akan mudah mempercayai perkataan Bo Qing, namun jika aku tak percaya bawahanku sendiri rasa percaya dirinya akan menurun. Dan yang kulihat dari pancaran mata Bo Qing, ada kekecewaan dan kesedihan yang tergambar sangat jelas. Mungkin karna para penonton di dominasi oleh teriakan pendukung Ah Ke, sehingga rasa percaya diri Bo Qing semakin menipis.


Aku lantas menarik putra mahkota Liang, aku memaksanya mengikutiku dan bergabung dengan kerumunan. Kerumunan prajurit khusus Shi Rong yang tengah menonton dan menyadari kehadiran kami berdua lantas membuka jalan, tak lupa mereka memberi salam hormat yang ku balas dengan senyum dan anggukan.


Ketika kami tiba di baris paling depan, putra mahkota Liang lantas menatapku dan berkata "Mei mei ada apa denganmu? Mengapa kau tiba - tiba menarikku kesini?" tanyanya dengan nada sedikit kesal.


"Aku hanya ingin menonton pertandingan pengawal pribadiku dengan jelas" jawabku lalu menoleh dan mendongak menatap putra mahkota Liang dimana saat ini kedua tatapan kami bertemu. Aku lantas tersenyum dan dengan serius berkata "Juga ingin memperlihatkan pada gege, bagaimana Bo Qing mengalahkan prajurit terbaikmu" tambahku yang membuat putra mahkota Liang tersenyum miring.


"Ini menarik!" gumam putra mahkota Liang "Sayangnya mei mei mungkin akan kecewa dengan hasil akhirnya" tambah putra mahkota Liang


"Kita lihat saja, siapa nanti yang akan kecewa pada akhirnya" balasku melempar pandangan kepada dua pemuda yang saling beradu.


Disaat kami tengah asik menonton pertandingan, nampaknya Bo Qing dan Ah Ke tengah melakukan percakapan pada perkelahian mereka.


"Aku sangat kecewa. Ku pikir kakak Bo Qing adalah orang yang kuat, nampaknya kakak kekuatan, keterampilan dan bakat kakak Bo Qing tidaklah lebih dari apa yang ku bayangkan" kata Ah Ke memberi Bo Qing tendangan pada wajah Bo Qing yang telah babak belur, namun di halau oleh Bo Qing dengan memblok tendangan itu dengan kedua tangannya yang ia silangkan.


"Aku belum mencapai akhir, jangan terlalu bangga!" balas Bo Qing yang membuat Ah Ke mencemoh "Berhentilah berbual, bahkan kemampuanmu tak menghampiri prajurit kelas rendah sekalipun, keterampilanmu tak lebih dari hanya seorang amatiran. Dan aku muak membuang - buang waktuku denganmu!" geram Ah Ke bergerak dengan cepat memberi pukulan dan tendangan bertubi - tubi pada Bo Qing. Bo Qing yang mampu menahannya namun, tak di sangka ia menyisahkan cela dan akhirnya.


Bo Qing terlempar jauh setelah mendapat pukulan keras dari Ah Ke. Tubuhnya terbang sebelum terhempas jatuh menghantam permukan rumput dengan keras. Aku cukup terkejut menyaksikan hal itu, dan dengan spontan aku berteriak memanggil nama pengawal pribadiku.


"Bo Qing!"


Aku lantas berlari menghampirinya. Aku melihat tubuh Bo Qing bergetar mungkin karna rasa sakit yang ia rasakan serta nyeri yang melandanya. Aku lantas berjongkok di hadapannya, lalu mulai menangis melihat kondisi Bo Qing yang penuh luka.


"Bo.. Bo Qi..Qing" kataku segugukan.


Bo Qing lalu tersenyum dengan deru nafas yang nampak putus - putus, tak lama ia meludahkan seteguk darah dan beranjak bangkit dengan susah payah.


"Tak usah memaksakan diri, kondisimu sudah seperti ini" kataku menahannya.

__ADS_1


"Apakah anda tak mempercayaiku?" tanyanya padaku


Aku lantas menggeleng lalu menyeka air mataku, aku lalu berkata "Aku sangat percaya padamu" kataku serius


"Jika anda mempercayaiku, anda hanya perlu menunggu. Ini tidak akan lama" katanya beranjak melangkah meninggalkanku yang masih berjongkok di tempat. Tak berselang berapa lama aku mendengar keriuhan semakin memanas tak berselang...


**Buk!


Buk!


Buk**!


Suara pukulan begitu keras dan nyaring memenuhi pendengaranku, tak berselang berapa lama tubuh seseorang melayang dan jatuh tak jauh di hadapanku. Dan suara benda menghantam permukaan rumput membuat suara nyaring yang kuat.


Brak!


Mataku terbelalak saat melihat sosok yang baru saja jatuh dan menghantam pembukaan rumput dengan keras dengab tubuh babak belur dan tak sadarkan diri adalah Ah Ke. Aku lantas menoleh kebelakang dimana Bo Qing memberi senyum dan berteriak "Yang mulia, pengawalmu ini menang" katanya sebelum jatuh dan tak sadarkan diri.


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Selasa, 2 Juni 2020**


__ADS_2