
**Catatan buat kalian yang masih bingung ;
Istana Han adalah istana bagian dalam kerajaan Zhang. Tempat/kediaman kaisar Wei dan permaisuri Yin Yin.
Sedangkan, Kerajaan Han adalah kerajaan tetangga kerajaan Zhang.
Karna kedepannya kalian akan menemukan Istana Han dan kerajaan Han di beberapa bab yang lalu dan beberapa bab yang akan datang, jadi aku memberi tahukan kalian perbedaannya biar kalian tak bingung dan bertanya lagi. Ku harap tidak akan ada lagi yang bertanya karna jujur aku adalah orang yang paling malas menjekaskan untuk kedua kalinya.
Dan masalah jadwal Up cerita ini, aku akan update setiap hari Sabtu/Minggu. Finally, Happy reading, and don't forget to VoMent 😉**
.
.
.
Undangan pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin dari kerajaan Zhang telah tiba di beberapa kerajaan tetangga seperti kerajaan Han. Saat ini kaisar Han Yong Zheng baru saja selesai membaca isi dari undangan itu saat ia bersama dengan kedua putranya, putra mahkota Han Zi Xin yang berusia 21 tahun dan pangeran Han Ze Min yang berusia 15 tahun.
Ia dan kedua putranya baru saja menyelesaikan makan siang bersama sebelum kembali akan melakukan pekerjaan mereka yang harus tertunda jika saja tadi permaisuri Ye Jinjing tak datang dan memarahi mereka yang selalu gila kerja.
Saat kedua putranya selesai makan, kaisar Han Yong Zheng atau biasa di panggil dengan sebutan kaisar Zheng lantas berdehem. Hal yang ia lakukan jelas menarik perhatian para putranya.
"Ayahanda kaisar, ada apa?" tanya putra mahkota Han Zi Xin atau biasa di sebut dengan putra mahkota Xin.
"Kepekaanmu tak pernah mengecewakan, Xin'er" puji kaisar Zheng yang langsung mendapat tatapan jengah dari putra sulungnya.
"Ayahanda kaisar tidak memiliki bakat bercanda di saat wajah ayahanda masih menampakan raut wajah datar" tegur pangeran Han Ze Min.
"Tks, kau sungguh tak menyenangkan Min'er" decak kaisar Zheng "padahal pria tua ini sedang berusaha" tambahnya
"Ayahanda sudahlah, saat ini bukan waktunya untuk anda mengulur - ulur waktu" tegur putra mahkota Xin.
Kaisar Zheng mendesah, percuma saja memuji putra sulungnya, baik putra mahkota Xin ataupun pangeran Min tak akan pernah merasa tersanjung. Kedua putranya terlalu sering mendapat pujian oleh banyak orang, hingga mereka telah terbiasa. Selain itu salahkan juga dirinya sebab sikap dingin, datar dan kejamnya menurun kepada kedua putranya. Tak ada dari mereka yang mengikuti istrinya, adaikan kedua putranya mengikuti sifat dan sikap istrinya, kaisar Zheng pasti akan merasa senang karna dengan begitu kehidupan kedua putranya akan berwarna.
"Baiklah - baiklah, kalian menang!" kata kaisar Zheng mengalah "Ayahanda hanya ingin mengatakan jika dalam waktu sebulan lebih, kerajaan Zhang akan mengadakan pesta ulang tahun permaisuri Yin Yin. Apakah ada dari kalian yang ingin mewakili kerajaan kita?" tanya kaisar Zheng langsung pada intinya
__ADS_1
"Aku tidak bisa Ayahanda, aku harus mengikuti ujian" kata pangeran Min yang di maklumi kaisar Zheng sebab ia tahu jika putra bungsunya akan menghadapi ujian kelulusan di sekolah khusus bangsawan.
Kaisar Zheng lantas menatap putra mahkota Xin yang nampak sibuk membaca buku strategi perang yang selalu ia bawa kemana - mana. Merasa di tatap seseorang, putra mahkota Xin lantas mendongak dan berkata "Apa?" tanyanya
"Apakah kau sibuk bulan depan?" tanya kaisar Zheng
"Tidak, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku" jawab putra mahkota Xin lantas kembali menunduk membaca setiap kata dan kalimat dalam buku strategi perang yang ia pegang.
"Kalau begitu, Xin'er saja yang datang menghadiri pesta sebagai perwakilan kerajaan Han" putus kaisar Zheng yang langsung di patahkan oleh putra mahkota Xin.
"Tidak akan!" tegas putra mahkota Xin tanpa mengalihkan tatapannya dari buku yang ia baca
"Mengapa kau mengatakan hal itu?" tanya kaisar Zheng pada putra sulungnya
"Itu karna gege tak ingin melihat putri Zhang Mu Lan!" sahut pangeran Min yang lantas membuat kaisar Zheng mengernyit bingung.
"Mengapa kau tak ingin melihatnya? Apakah putri kerajaan Zhang pernah menolakmu?" tanya kaisar Zheng penasaran.
Pertanyaan kaisar Zheng jelas langsung mendapat pelototan dari putra mahkota Xin, sedangkan pangeran Min tertawa terbahak - bahak mendengar pertanyaan Ayahandanya.
"Ayahanda bercanda? Bagaimana gadis bodoh dan jelek seperti putri Zhang Mu Lan bisa bersanding dengan gege?" tanya pangeran Min di sisa sisa tawanya.
Kaisar Zheng memukul kepala pangeran Min dengan sumpit hingga putra bungsunya mengaduh kesakitan, ia lalu berkata "Jangan menghina orang lain! Kau tak melihat dirimu sendiri? Kau juga jelek dengan tubuh gemuk seperti ini" kata kaisar Zheng marah "Jika Ibundamu tau Min'er merendahkan orang lain, Ayahanda tak akan membantumu bahkan jika kau menangis saat ibundamu memberi hukam" lanjut kaisar Zheng
"Ayahanda sangat kejam" kata pangeran Min sendu tak lupa mengusao kepalanya yang berdenyut.
"Ayahanda sudah di kenal kejam oleh semua orang, lantas mengapa tidak kejam dengan putranya sendiri yang tidak di siplin dan menghargai orang?" tanya kaisar Zheng "Harusnya Min'er mendapat hukuman cambuk agar kedepannya tidak memandang orang lain dengan rendah hanyak karna ia merasa lebih baik dari orang itu" tambah kaisar Zheng yang berhasil membuat pangeran Min mulai berkaca - kaca
"Gege bantu aku!" pinta pangeran Min yang meminta bantuan pada putra mahkota Xin
Putra mahkota Xin lantas menutup buku strategi perang yang di bacanya, ia lalu menatap adiknya dan berkata "Aku tidak bisa membantumu, bagaimanapun apa yang di katakan ayahanda benar, kau perlu di beri pelajaran dan kedisiplinan agar sadar bahwa pentinya menghargai orang lain jika kau juga ingin di hargai" kata putra mahkota Xin yang berhasil membuat pangeran Min akhirnya menangis.
"Huwaa... bahkan gege memihak Ayahanda kaisar" raung pangeran Min.
.
__ADS_1
.
.
Di sisi lain, di kerajaan Zhang. Seorang gadis berusia 14 tahun sedari tadi tak berhenti bersin. Gadis itu tak tau mengapa hidungnya terasa gatal dan alhasil ia terus bersin di hadapan kaisar Wei dan putra mahkota Liang yang saat ini bersamanya mendiskusikan masalah hadiah ulang tahun untuk Ibunda permaisuri Yin Yin dalam waktu dekat.
"Lan'er apakah kau masuk angin?" tanya kaisar Wei khawatir pada putrinya yang terus bersin
Aku lantas menggeleng dan berkata "Aku sama sekali tidak sakit, hanya saja hidungku terasa gatal" jawabku
"Apakah ada seseorang yang menyebut namamu?" tebak putra mahkota Liang yang tak lupa menggodaku dengan menaik turunkan alisnya
Saat aku hendak ingin membantahnya, Ayahanda kaisar Wei lebih dulu memotong perkataanku yang baru saja hendak keluar dengan berkata "Berhentilah menggoda Lan'er, Ayahanda tak akan mengizinkan ia menjalin hubungan kekasih dengan pemuda manapun di usianya sekarang. Terlebih putri pria tua ini terlalu berharga dan tak ada di antara semua pemuda yang layak" tegas kaisar Wei yang lantas membuat putra mahkota Liang mendesah. Bagaimanapun ia sudah sangat bosan mendengar kalimat itu dari mulut Ayahandanya.
"Dari pada Ayahanda dan gege berdebat, mengapa tidak membahas masalah hadiah untuk ibunda saja" kataku melerai keduanya.
Baik kaisar Wei ataupun putra mahkota Liang menangguk dengan saranku, kami pun kembali berdiskusi masalah hadiah Ibunda permaisuri Yin Yin hingga putra mahkota Liang lantas kembali memberi masukan untuk kesekian kalinya dalam diskusi kami.
"Mengapa tak memberikan Ibunda permaisuri hadiah perhiasan atau baju saja?" usul putra mahkota Liang yang langsung membuat kaisar Wei menjawab dengan tanpa pikir panjang berkata "Permaisuri Yin Yin kalian telah memiliki banyak baju dan perhiasan, lagian tahun lalu Ayahanda juga memberi permaisuri Yin Yin hadiah yang serupa"
Putra mahkota Liang mendesah begitupun dengan kaisar Wei, keduanya lantas kembali termenung sebelum kembali berpikir masalah hadiah untuk Ibunda permaisuri sebelum aku berkata "Mengapa jika memberi Ibunda permaisuri hadiah yang bermakna" usulku yang lantas membuat kaisar Wei dan putra mahkota Liang mengernyit bingung.
"Mei mei apa maksudmu?" tanya putra mahkota Liang.
"Maksudku kita tak perlu memberi hadiah untuk ibunda permaisuri dalam bentuk barang. Kita bisa saja memberi ibunda bunga, puisi atau pentas menari, menyanyi atau bermain alat musik sebagai hadiah. Bukankah memberi hadiah seperti itu lebih bermakna dibandingkan dengan barang?" tanyaku yang lantas membuat Ayahanda dan putra mahkota Liang saling pandang dengan mata berbinar. Keduanya lantas berkata "Setuju" dengan serempak.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Sabtu, 6 Juni 2020**