
Fakta dan kenyataan yang ia dengar semalam tak lantas membuat ambisinya menjadi wanita nomor satu ibukota Han pudar ataupun lenyap dalam semalam. Meskipun ia tahu kenyataan jika ia hanyalah anak dari hasil perselingkuhan perdana mentri Sun Go Yu dengan wanita bayaran di rumah pelacuran, ia tetap akan mengejar ambisinya selama ayahnya masih berada di pihaknya.
Sun Yao Yao tidak peduli bagaimana menyakitkannya kata - kata mentri muda Lang semalam akan dirinya, ambisinya, dan seluk beluk keberadaannya yang begitu rendah di mata pemuda 21 tahun itu. Ia berpikir, selama ayahnya masih memanjakannya dan menyayanginya, ia tak akan gentar akan ancaman keluarga kerajaan Han, ia tak takut bersaing dengan putri Zhang Mu Lan dari kerajaan Zhang, sebab ia yakin ia akan melakukan berbagaimacam cara agar bisa naik keperaduan putra mahkota Han Zi Xin sebelum pernikahan aliansi dua kerajaan berlangsung.
"Sun Yao Yao, sekarang waktunya kau bertindak. Kau harus membuat rencana cadangan jika sewaktu - waktu rencana Ayahmu gagal" katanya pada dirinya sendiri
"Sebelum naik ke peraduan putra mahkota Xin, kau harus tahu jadwal kapan putra mahkota Xin ke istana sebelum kembali ke kerajaan Zhang membawa mempelai pengantin perempuannya. Namun siapa yang mengetahui setiap jadwal perjalanan putra mahkota Xin dengan akurat?" Tanyanya pada diri sendiri.
Seketika bayangan sosok pemuda tampan melintas dalam pikirannya "Pangeran Han Ze Ming!" Serunya
"Yah, pangeran Han Ze Ming pasti tau semua jadwal keberangkatan dan kepergian putra mahkota Xin dengan akurat. Aku harus menemuinya!" Putusnya lantas bangkit dari duduknya dan bergegas memanggil pelayan membantunya mengganti pakaian.
Selepas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menurut Yao Yao lebih layak ia kenakan saat mengunjungi istana Han yang mewah, ia lalu keluar dari kediamannya dan melangkah menuju pintu samping yang merupakan penghubung antara kediaman utama keluarga Sun dan kediamannya yang berada di bagian barat.
Saat Yao Yao sampai di halaman kediaman utama Sun, seketika keningnya mengernyit ketika mendapatkan pelayan dari kediaman mentri muda Lang bolak balik mengangkat dan membawa barang dari kediaman mentri muda Lang yang berada di bagian timur ke halaman kediaman utama.
"Kau" panggil Yao Yao menahan salah satu pelayan kediaman mentri muda Lang
"Ada yang bisa pelayan ini bantu nona muda?" Tanyanya yang di balas gelengan oleh Yao Yao
"Tidak ada, hanya saja aku ingin bertanya, mengapa barang - barang gege berada di luar?" Tanya Yao Yao
"Tuan muda hari ini akan pindah" jawab pelayan itu "Nona.. jika tak ada hal lain, pelayan ini pamit undur diri karna pelayan ini harus kembali bekerja" tambahnya mengundurkan diri.
Sepeninggalan pelayan dari kediaman mentri muda Lang, seketika bayangan pertengkaran mentri muda Lang dan perdana mentri Go Yu terlintas di dalam kepalanya. Ia baru ingat jika mentri muda Lang memilih memutuskan hubungan darah dengan Ayahnya hanya karna dirinya. Mengingat hal itu membuat Yao Yao meremas dadanya yang terasa sesak, perkataan mentri muda Lang yang menyakitkan, serta kenyataan akan latar belakangnya yang menamparnya begitu keras membuat Yao Yao sulit mempercayainya di lihat dari bagaimana perdana mentri Go Yu begitu memanjakannya. Yao Yao lantas menggeleng dan mengenyahkan pikirannya, ia tak peduli dengan kepergian mentri muda Lang, sebab yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana ia menjalankan rencananya dan membuktikan jika perkataan mentri muda Lang salah.
.
.
.
Seorang kasim datang menghampiri pemuda tampan yang tengah menikmati makan siangnya, kasim itu lantas menghampiri pemuda tampan tersebut dan membisikan sesuatu.
"Apa? Nona Sun Yao Yao datang dan ingin menemuiku?" Tanya pangeran Han Ze Ming yang merupakan pemuda tampan yang tengah menikmati makanannya saat kasim yang baru saja berbisik mengenai kedatangan putri perdana mentri Sun Go Yu menarik diri.
__ADS_1
"Iya yang mulia pangeran" jawab kasim itu
"Apa yang ia inginkan?" Tanya pangeran Ming
"Nona Sun Yao Yao sama sekali tak mengatakan alasan kedatangannya selain ingin menemui anda" jawab kasim itu
Pangeran Ming menaru sumpitnya di atas mangkuk nasinya yang masih setengah, ia lalu menautkan kedua tangannya dengan kedua siku yang bertumpu pada permukaan meja. Posisi yang ia lakukan saat ini adalah posisi yang sering pangeran Ming lakukan ketika memikirkan sesuatu.
Memikirkan alasan dan tujuan kedatangan Nona muda dari kediaman Sun, seketika bayangan bagaimana perdana mentri Sun Go Yu menentang pertunangan putra mahkota Han Zi Xin dan putri Zhang Mu Lan seketika terlintas dalam kepalanya.
"Ah, akhirnya aku tahu!" Gumam pangeran Ming saat menemukan jawaban kedatangan nona muda Sun Yao Yao di kediamannya.
"Saat ayahnya tak menemukan jalan untuk membawanya masuk ke istana, nona muda Sun ternyata mengambil inisiatif membuat langkah sendiri dan memanfaatkanku sebagai orang yang paling dekat dengan gege sehingga ia dengan mudah mengali informasi untuk rencananya" pangeran Ming menggeleng dramatis sebelum melanjutkan "Sungguh nona muda yang sangat cerdik, sayangnya otak cerdasku dan penalaran serta instingku yang kuat lebih dulu menangkap kebusukan yang akan ia lakukan sebelum ia berhasil menyembunyikannya dengan rapat - rapat"
"Katakan padanya jika aku sedang sibuk dan tidak menerima tamu dalam beberapa hari mendatang" perintah pangeran Ming pada kasim yang datang melaporkan kedatangan Sun Yao Yao
Sepeninggalan kasim itu, pangeran Ming lantas tersenyum miring "Tentu akan sangat menarik jika ada bumbu - bumbu penyedap sebelum acara pernikahan gege, sayangnya aku sama sekali tak menyukai nona muda Sun Yao Yao terlebih bagaimana perdana mentri Sun Go Yu memperlakukannya bak mutiara, juga kejelekan - kejelekan serta kejahatan apa yang ia lakukan untuk membela putrinya. -- pangeran Ming menjeda seraya menarik nafas sebelum menghembuskannya dengan kasar -- dan alasan mengapa perdana mentri Sun Go Yu menentang pertunangan hingga pernikahan gege, tentu saja tidak akan jauh dari putrinya. Dan sebelum hal yang lebih buruk itu datang ada baiknya aku memutusnya dengan cepat dan mungkin segera memberitahu gege. Yah, aku harus memberitahu gege akan hal ini!"
.
.
.
"Anda harus meminum teh anda terlebih dahulu, cairan kecoklatan dengan aroma madu dan melati itu tak akan berpindah keperut anda jika anda hanya melihatku saja" tegur wanita cantik yang kini memakai hanfu berwarna merah muda yang nampak sangat cocok dengan kulitnya yang seputih susu.
"Hausku rasanya sudah hilang hanya dengan memandangmu" balas putra mahkota Xin yang berhasil membuat kedua pipiku terasa panas.
Berusaha menutupi rona merah pada kedua pipiku, aku lantas menunduk. Namun pergerakanku nampaknya tak selihai jemari - jemari besar nan kasar milik putra mahkota Xin yang menahan daguku dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Hei.. jangan menunduk, kau membuatku nyaris kehilangan pemandangan indah ini karna kau ingin menutupinya" pinta putra mahkota Xin yang membuatku membeku.
Meskipun telah melewati hari - hari penuh kesibukan bersama demi mengurus persiapan pernikahan mereka, aku ataupun putra mahkota Xin tak pernah melakukan kontak fisik baik itu seperti sentuhan kecil atau sebagainya. Namun hari ini entah putra mahkota Xin sadar atau tidak, perbuatannya kini membuat jantungku berdetak begitu kencang, wajahku pun mulai terasa semakin panas. Aku tak bisa membayangkan semerah apa kulit wajahku sekarang, yang jelas aku tak ingin membayangkannya sebab hal itu hanya akan membuatku merasa semakin malu dan gugup.
"Putri Zhang Mu Lan" panggil putra mahkota Xin dengan nada suara lembut "Kau tahu jika kau nampak semakin cantik dengan rona merah di kedua pipimu?" Tanyanya yang ku balas gelengan "Meskipun kau merasa malu karna setiap perkataan manisku, ku harap kau tak pernah menyembunyikan ini, sebab aku menyukainya" aku putra mahkota Xin yang semakin membuat detak jantungku menggila.
__ADS_1
Aku sungguh tamat. Bagaimana bisa ia membuat detak jantungku berdetak segila ini hanya karna perkataan manisnya, apakah sekarang aku sudah memiliki rasa pada putra mahkota Xin?
Terlalu berlarut dalam pikiranku, aku tak sadar jika kini jarak antara wajahku dan wajah tampan putra mahkota Xin sangat dekat. Aku mengerjap tatkala baru menyadari jika putra mahkota Xin kini berusaha mengikis jarak antara kami.
'Tunggu! Apakah ia akan menciumku?' bantinku
'Oh Sang maha pencipta, apa yang harus kulakukan!' Seruku dalam hati
Tak tahu berbuat apa, mataku hanya melotot menatap putra mahkota Xin yang semakin mendekat. Saat wajahnya hanya tinggal beberapa inci dari wajahku, refleks aku tiba - tiba saja memejamkan kedua mataku tanpa ku sadari. Hembusan nafas putra mahkota Xin kini mulai terasa menyapu permukaan kulitku, dan saat bibir putra mahkota Xin hendak menempel pada bibirku, tiba - tiba saja terdengar suara seseorang yang datang mengintrupsi ciuman yang hendak kami lakukan.
"Astaga. Nampaknya aku datang di waktu yang tidak tepat!" Kata Zian hendak berbalik namun tertahan saat putra mahkota Xin berdecak lalu lantas menarik wajahnya yang hanya tinggal beberapa senti dari wajah cantik tunangannya, ia lalu menatap Zian dengan kesal berkata "Zian apakah kau sengaja?"
"Tentu saja hamba tidak berani!" Jawab Zian
"Lalu mengapa kau datang dan merusak moment kami?" Tanyanya masih dengan nada yang sama
"Yang mulia pangeran Ming mengirimi anda pesan yang sangat mendesak melalui salah satu burung elang khusus prajurit. Dari kertas yang ia ikat pada kaki elang, ia memintaku menghantarkan tabung ini pada anda karna surat yang ada di dalamnya sangat penting" jelas Zian
"Tapi --
"Yang mulia.. tak perlu marah saat bawahanmu ini mengintrupsi kegiatan anda, sebab bukannya nanti anda akan memiliki banyak waktu melakukan hal yang lebih setelah anda menikah?" Tanya Zian yang berhasil membuat kedua pipi putra mahkota Xin dan putri Mu Lan memanas karna tahu makna dari pertanyaan Zian.
"Letakan tabung itu di atas meja, dan segeralah enyah dari hadapanku!" Teriak putra mahkota Xin manahan rasa malunya.
.
.
.
.
.
**TBC
__ADS_1
Rabu, 2 Desember 2020**