Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 11


__ADS_3

Suara pukulan dan hantaman balok kayu juga sarung pedang yang menjadi alat pukul para prajurit balai gubernur ibukota Zhang terdengar nyaring di pendengaranku. Mataku terpejam saat bayangan - bayangan aku yang masih berusi 10 tahun begitu suka menyiksa dan memberi hukuman para kasim, dayang dan pelayan yang bahkan tak memiliki salah apapun. Hukuman pukulan dan cambukan selalu ku turunkan dan perintahkan untuk di laksanakan, suara tangis dan jerita permohonan ampun mereka ku abaikan. Hingga pada saat usiaku mencapai 16 tahun, alam membalikan semua keburukan yang kulakukan dari masalalu dengan merenggut semua milikku.


Genangan darah dan jerita kematian menjemput ajal adalah nyanyian mimpi buruk yang di berikan alam sebagai hukuman melalui pujaan hatiku sangat cukup membuatku terpukul begitu keras. Nyawa orang - orang yang tak bersalah bahkan nyawa seluruh keluargaku harus lenyap karna aku adalah malapetaka untuk mereka semua, karnaku yang penuh dosa dan mendapat kutukan dari langit atas perbuatanku pada akhirnya mendapat ganjaran yang lebih besar. Tapi kini di kesempatan yang di berikan langit, aku berjanji tak akan menyia - nyiakan kesempatan yang diberikan. Bagaimanapun aku harus merubah takdir walaupun laju waktu berputar kini telah berbeda.


Pook pook pook pook


Suara tepukan tangan menyentakku dari lamunan, aku dengan cepat membuka mataku dan pemandangan yang pertama kali kulihat adalah Ayahanda yang mulai melangkah maju kedepan dari sisiku.


Seketika aski pemukulan terhenti, seluruh mata tertuju pada sosok Ayahanda yang kini berdiri di tengah masih dengan tudung kepala yang masih menutupi pandangan semua orang untuk melihat wajah seorang kaisar Zhang Wei dari kerajaan Zhang.


"Apakah begini cara pejabat dan pemerintah melakukan tugas mereka? Apakah begini cara pengadilan menegakan hukum dan keadilan untuk seluruh masyarakan kerajaan Zhang?" kata Ayahanda kaisar terdengar mencemoh.


"Siapa kamu? Berani - beraninya menghentikan penertiban ini!" tanya salah satu prajurit yang menurutku nampak begitu berani. Mungkin posisi prajurit itu lebih tinggi dari yang lain sehingga ia bersikap angkuh pada Ayahanda kaisar.


"Putriku, maafkan Ayahandamu yang mengacaukan semua rencanamu hari ini" kata Ayahanda kaisar Wei menoleh kepadaku. Aku hanya mengangguk di balik kain satin yang menjuntai sebahu berwarna putih dari tunung kepala yang ku kenakan sebagai tanda persetujuan dan dukungan. Kaisar Wei berbalik menghadap kedepan dan berkata "Awalnya Zhen datang kemari mencari seseorang, nampaknya harus batal dengan insiden memalukan ini" kata Ayahanda membuka tudung kepalanya dan membuat salah satu penduduk yang tahu betul rupa Ayahanda segera bersujud di atas permukaan tanah.


"Salam hormat pada yang mulia kaisar Wei!"


Perkataan salah satu penduduk yang begitu hafal wajah Ayahanda membuat semua orang yang berada di sana terkejut, dengan cepat semua orang melakukan sujud dan penghormatan pada Ayahanda. Para prajurit yang melakukan kekerasan seketika pucat pasi.


"Berhenti mengaku sebagai seorang kaisar, yang mulia kaisar Wei tidak akan keluar istana saat ini karna sibuk bekerja!" Gertak prajurit yang sebelumnya begitu lancang pada Ayahanda.


"Bagaimana bisa kau jadi seorang prajurit, bahkan junjunganmu saja tidak kau ketahui?" tanyaku mulai kesal dengan sikapnya.


Mungkin karna suara berisik yang berada di luar balai gubernur, para pejabat yang kesal akhirnya keluar. Seorang pejabat dengan pakaian kebesran berwarna ungu tua dengan geram berkata "Aku memintamu menertibkan mereka yang melakukan keributan, apakah begitu saja kalian tidak be--- kalimat pejabat itu terpotong saat menemukan sosok Ayahanda yang berdiri di tengah orang - orang yang memberinya salam hormat. Sikap Ayahanda nampak tenang dengan kedua tangan bertautan di belakang punggungnya, saat Ayahanda menoleh pada pejabat tersebut, seketika pejabat tersebut merasa dingin merambat di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Ho-hormat hamba pada yang mulia kaisar Wei" kata pejabat itu terbata, walaupun demikian masih cukup mampu di dengar banyak orang termasuk prajurit angkuh yang seketika dengan cepat bersujud dan membenturkan kepalanya di atas permukaan tanah.


"Untuk para penduduk, bangulah," perintah Ayahanda yang langsung di turuti "Kalian boleh bubar, biarkan Zhen menuntut keadilan untuk kalian dengan menghukum para pejabat dan prajurit yang tidak becus dalam bekerja. bukannya memberi kenyamanan, kebutuhan dan hak, mereka malah memberi kekerasan. Sungguh perbuatan tercela" kata Ayahanda dingin.


Perlahan para penduduk membubarkan diri, sebagian dari mereka membantu para buruh bangunan yang tak berdaya sehabis di pukul. Aku dengan cepat menghampiri pemuda yang seingatku adalah Bo Qong, aku membantunya bangun dan membawanya duduk disalah satu kursi kedai makanan yang berada tepat di samping balai gubernur.


"'Zhen tidak tahu, beginikah cara kalian bekerja selama ini?," tanya kaisar Wei "apakah kalian lupa jika gaji yang kalian dapatkan merupakan hasil dari pajak yang di ambil dari masyarakat. Apakah kalian lupa jika tanpa mereka kalian bukan apa - apa?" tambah Ayahanda dingin dan menusuk.


Ayahanda lantas bersiul, seketika prajurit khusus kerajaan melompat turun dari langit setelah mendapat perintah dari kaisar Wei untuk datang. Kedatangan mereka yang mengenakan pakaian serba hitam membuat banyak orang terkejut dan takut.


"Bawa mereka dan seluruh pejabat yang berada dalam balai gubernur ke menara penyiksaan, introgasi para pejabat mengenai dana pembangunan dermaga hingga mereka mengaku, lalu beri mereka hukuman," perintah kaisar Wei " Setelah itu zhen akan mengurus pemecatan dan pengambilan aset keluarga mereka untuk di sita" tambahnya yang membuat semua orang bergidik karna kekejaman kaisar Wei. Selain itu mereka juga merinding saat mendengar kata menara penyiksaan.


Siapa yang tak tau mengenai menara penyiksaan. Menara penyiksaan merupakan penjara tingkat dua sebelum penjara bawah tanah kerajaan Zhang yang menempati posisi pertama. Walaupun masih menempati posisi kedua, tapi penyiksaannya tidaklah jauh beda dengan penjara bawah tanah kerajaan Zhang.


Mereka dengan cepat melaksanakan perintah, mereka menyeret para pejabat lain keluar dan hanya dalam sekejap mereka hilang bersama dengan angin yang tiup dengan kecang. Selepas kepergian mereka, yang mulia kaisar Wei menghampiriku bersama dengan para buruh bangunang yang beristirahat di kedai setelah mendapat kekerasaan hingga menyisahkan luka memar dan luka sobek.


Para buruh yang menyadari kehadiran Ayahanda kaisar hendak bersujud namun di tahan oleh Ayahanda dengan berkata "Kalian tidak perlu memberi hormat di saat kondisi kalian seperti ini"


"Tapi yang mulia, bukankah itu lancang?" tanya Bo Qing yang berada di sampingku.


"Zhen hanya memberi keringanan untuk saat ini," jeda kaisar Wei "masalah upah kalian, Zhen betul - betul minta maaf. Zhen tidak tahu jika para pejabat melakukan hal seperti ini, dan juga mengapa dari kalian tak pernah mengajukan protes ke istana?" tanya Ayahanda.


"Menjawab yang mulia, kami sudah melakukannya banyak kali. Namun sebanyak apa kami mengirim protes melalui surat, sebanyak itu pula para pejabat menahannya" jawab buruh bangunan yang nampak seusia dengan Ayahanda.


"Zhen merasa sebagai kaisar yang tidak berguna, untuk menebus kesalahan dan kelalaian Zhen, Zhen akan mengundang kalian dalam jamuan makan siang besok sekaligus membayar upah kalian selama bekerja membangun dermaga. Selain itu Zhen akan menindak lanjuti oknum - oknum yang terlibat" kata Ayahanda yang membuat mereka berbinar senang.

__ADS_1


"Terima kasih, terima kasih banyak atas kemurahan hati yang mulia kaisar" kata mereka serempak


"Putriku, maafkan Ayahanda yang mengacaukan rencanamu. Sekarang kita bahkan tak menemukan orang itu" kata Ayahanda kaisar menoleh padaku.


Aku melotot menatap Ayahanda kaisar Wei, bukankah dengan ia bicara seperti itu akan mengungkap identitasku? Namun nampaknya semua buruh bangunan dan penduduk yang berada di sekitarkan mulai terkejut dengan perkataan Ayahanda. Nampaknya aku harus parsah sebab bagaimanapun aku tak mampu lagi menyembunyikannya.


"Ayahanda kaisar sungguh tidak asik, padahal putri ini begitu menikmati menjadi orang biasa dan berbaur dengar semua orang" kataku sedikit kesal lalu membuka tudung kepalaku dan membuat semua orang syok "Dan masalah rencanaku, Ayahanda tak usah khawatir. Aku sudah menemukannya" kataku memaksa Bo Qing yang tengah duduk di sampingku berdiri.


"Dia pemuda yang ingin ku jadikan pengawalku!" kataku yang membuat Bo Qing terkejut


"A-apa?"


.


.


.


.


.


**TBC


Senin, 18 Mei 2020**

__ADS_1


__ADS_2