Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 75


__ADS_3

Tidak ada yang lebih menyenangkan saat mendengarkan kabar Ma Xiao Qing di pulangkan keluarga Lao ke kediaman Ma karna rumor yang telah ia sebarkan. Popularitas Ma Xiao Qing yang begitu gemilang di mata para penduduk ibukota kerajaan Zhang telah membantunya memberi keluarga Ma pukulan telat. Tak akan ada yang menyangka jika gadis yang memiliki bakat gemilang dan tanpa cela itu hanyalah seorang wanita cacat dibalik kesempurnaan yang ia tunjukan selama ini.


Bagi semua orang, wanita sempurna adalah mereka yang mampu memberi keturunan. Sedangkan Ma Xiao Qing hanyalah wanita cacat yang mungkin sebagian orang berpendapat jika ia hanyalah sebuah sampah yang dibungkus dengan kain sutra terbaik dan mahal sehingga kekurangannya dengan rapi tersembunyikan.


"Kau terlalu meremehkanku Ma Xiao Qing" gumam Ma Mei Rong dengan senyum yang tak pernah pudar terukir di wajahnya yang nampak pucat.


"Aku mengetahui kekuranganmu, maka dengan begitu aku bisa dengan mudah menghancurkanmu di tambah dengan bantuan popularitasmu di kalangan penduduk ibukota kerajaan Zhang semakin memudahkan dan melancarkan rencana penyeranganku padamu"


"Ah.. aku bukan hanya menghancurkanmu, tapi juga menghancurkan keluarga Ma. Tanpamu perdana mentri Ma Ze Dong bukanlah apa - apa, selama ini kau adalah pilar dan juga kelemahan keluarga Ma. Ketika kau hancur, maka semua yang ada di kediaman Ma pun ikut hancur, dan sekarang aku hanya tinggal menunggu berita kehancuranmu bersama keluarga kediaman Ma sembari menunggu reaksi obat kemandulan pada jendral muda Wu Cheng" tambah Ma Mei Rong .


Disaat Ma Mei Rong menikmati kemenangannya atas kemalangan yang menimpa Ma Xiao Qing, disisi lain, tepatnya di salah satu kamar besar yang ada di kediaman Wu, jendral muda Wu Cheng baru saja bersenang - senang dengan para wanita bayarannya di hari yang sebentar lagi menjelang sore ini.


Amarahnya pada Ma Mei Rong ia luapkan pada semua wanita yang melayani dan menghangatkan peraduannya. Permainannya yang keras dan kasar membuat 2 di antara 3 wanita bayaran di rumah pelacuran yang ia sewa tak mampu bangun dan berdiri dari atas peraduan. Beberapa hari terakhir jendral muda Wu Cheng baru menyadari jika nafsunya semakin hari semakin bertambah, gairahnya semakin memuncak di atas peraduan dan hal itu membuatnya berpikir jika mungkin hal yang ia alami adalah hal yang normal. Namun hari ini ia mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya. Kepalanya terasa berat, penglihatannya terasa berputar, dan keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya.


Jendral muda Wu Cheng lantas mencari tumpuan agar tubuhnya tak tumbang, penglihatannya sedikit menggelap dan kepalanya terasa berkunang - kunang. Tak ingin jatuh tak sadarkan diri begitu saja, ia mengumpulkan sisa - sisa tenaganya dan berteriak "Pelayan! Pelayan!"


Suara teriakan jendral muda Wu Cheng lantas berhasil membuat pelayan yang berjaga di luar berhamburan masuk, mereka dengan cepat membungkuk di hadapan jendral muda Wu Cheng yang salah satu tangannya bertumpu pada salah satu pilar yang ada dalam ruangan tersebut.


"Cepat panggilkan dokter atau tabib kerajaan sekarang" perintahnya tegas


Salah satu pelayan lantas lari mencari tabib atau dokter kerajaan, sedangkan beberapa pelayan lain membantu jendral muda Wu Cheng kembali ke kamar utama yang ada di kediaman jendral muda Wu Cheng. Tak berselang berapa lama, pelayan yang tadi memanggil tabib atau dokter kerajaan pun kembali. Kedatangannya tidak hanya sendiri melainkan ia membawa seorang tabib paruh baya bersamanya yang tak sengaja lewat depan kediaman Wu setelah mengobati seorang bangsawan.


"Tuan muda, hamba kembali bersama seorang tabib" lapor pelayan itu pada jendral muda Wu Cheng yang saat ini memejamkan matanya karna pusing yang melandanya.

__ADS_1


"Perintahkan ia segera memeriksaku!" titahnya


Tanpa menunggu waktu yang lebih lama, tabib pun memeriksa denyut nadi jendral muda Wu Cheng, sesaat tabib itu mengernyit bingun saat tak menemukan gejalan apapun, padahal jendral muda Wu Cheng saat ini sangat pucat dan dibanjiri keringat dingin.


Tabib kerajaan itu menarik jemarinya yang baru saja menekan denyut nadi jendral muda Wu Cheng, ia lantas berkata "Tabib tua ini tak menemukan gejala penyakit yang serius, jendral muda Wu Cheng tak perlu khawatir sebab anda hanya kelelahan dengan aktivitas yang berlebih" jeda tabib kerajaan itu berdehem sesaat "Anda hanya perlu istirahat yang cukup, tabib tua ini juga akan memberi resep ramuan obat agar kondisi anda lekas membaik" tambah tabib itu.


"Kau yakin aku tak mengalami gejala penyakit yang serius?" tanya jendral muda Wu Cheng seakan - akan tak percaya dengan diagnosa tabib kerajaan mengenai keadaannya


"Tabib ini sangat yakin"


"Beri tabib itu upah, aku ingin istirahat sejenak!" perintah jendral muda Wu Cheng mengusir mereka semua.


Selepas kepergian tabib itu, seorang pelayan datang ke kamar Ma Mei Rong dengan sangat hati - hati. Setelah menutup pintu dengan rapat, ia menghampiri Ma Mei Rong dan melaporkan kondisi jendral muda Wu Cheng.


.


.


.


Disaat Ma Mei Rong menikmati kemenangannya karna satu persatu rencana awal balas dendamnya berjalan lancar, disisi lain seorang gadis cantik melangkah sangat cepat sore ini menuju istana Han yang merupakan bangunan utama di istana bagian dalam kerajaan Zhang. Setelah mendengar kabar bahwa Ma Xiao Qing di pulangkan keluarga Lao ke kediaman Ma karna rumor kemandulannya yang di akui sarjanawan Lao Yu Zhu yang mengejutkan dan menggemparkan ibukota kerajaan Zhang, gadis cantik yang sebentar lagi beranjak 15 tahun itu dengan cepat ingin menemui Ayahandanya yang ia tahu saat ini tengah berada di ruang kerjanya.


"Yang mulia.. perhatikan langkah anda" tegur salah satu kasim yang berada di barisan terdepan rombongan yang mengekorinya di belakang saat ia nyaris jatuh karna tersandung batu.

__ADS_1


Aku yang mendengar itu hanya menjawab "Aku tak punya waktu, kita harus bergegas menemui Ayahanda kaisar" kataku semakin melebarkan langkahku.


Para kasim dan dayang yang mengekoriku di belakang hanya mampu mendesah pasrah, mereka tak punya pilihan lain selain menuruti dan juga berjalan cepat hingga nyaris berlari karna berusaha menyeimbangi langkah putri Zhang Mu Lan yang begitu cepat. Jika saja saat ini ada Bo Qing bersama mereka, pengawal junjungan mereka itu akan menemani putri Zhang Mu Lan dengan berjalan dan menjaga di belakangnya. Tak ada yang pernah meragukan kemampuan Bo Qing yang mampu menyeimbangi putri Zhang Mu Lan dalam berbagai hal.


Langkah mereka terhenti saat tiba di pintu utama istana Han. Mereka semua pun mulai membubarkan diri dari belakang putri Zhang Mu Lan dan berbaris rapi di sepanjang koridor istana Han saat junjungan mereka memasuki istana Han.


Disaat para rombongan yang mengikutinya menunggu di luar, putri Zhang Mu Lan pun bergegas menuju ruangan kerja kaisar Wei yang nampak sepi. Biasanya di depan pintu ruang kerja Ayahandanya akan ada beberapa kasim dan dayang yang berjaga, namun sore ini tak ada seorang pun berdiri di depan pintu kokoh yang ada di hadapannya.


Menepis pemikirannya mengenai keberadaan para kasim dan dayang yang biasa berjaga, putri Zhang Mu Lan lantas membuka pintu ruang kerja kaisar Wei dengan sangat lebar, hal yang pertama memasuki pandangannya adalah kaisar Wei yang tengah menikmati jamuan sore. Tak memperhatikan suasana yang ada diruangan, putri Zhang Mu Lan pun berkata "Ayahanda, kurasa sekarang adalah waktu yang tepat menghancurkan mereka!" kataku yang berakhir dengan keterkejutan saat menyadari keberadaan orang lain yang ada diruangan yang sama dengan kaisar Wei


"Pu-putra mahkota Han Zi Xin!"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Selasa 18 Agustus 2020**


__ADS_2