
Suara kicauan burung saling bersahutan, perlahan mentari pun beranjak naik dibalik bukit timur kerajaan Zhang. Hawa dingin yang sedari tadi menyelimuti, kabut dan embun pagi yang menghiasi pun kini perlahan hilang dan tergantikan dengan cahaya terang sang mentari yang mulai memancarkan kehangatan.
Pagi ini ibukota kerajaan Zhang masih hangat membicarakan masalah kecantikan putri Zhang Mu Lan. Sudah terhitung tiga hari dengan hari ini rumor mengenai kecantikan dan penampilan memukaunya di perbincankan oleh para penduduk ibukota Zhang yang entah karna memang bangga atau hanya sekedar pamer.
Ada banyak di antara para penduduk ibukota Zhang yang begitu penasaran mengenai kebenaran rumor tersebut, terlebih para rakyat dari kalangan biasa hingga kalangan rakyat jelata. Mereka tentu saja iri dengan para bangsawan dan keluarga pejabat yang dapat menghadiri pesta dan melihat kecantikan serta penampilan putri Zhang Mu Lan, sayang mereka hanya bisa mendengar dari mulut ke mulut tanpa bisa menyaksikan.
Rumor putri Zhang Mu Lan belum juga surut, hal itu membuat Ma Mei Rong yang berada di kediaman Wu sangat kesal dan marah pasalnya kecantikan dan penampilan putri Zhang Mu Lan yang begitu mengejutkan membuat penampilan tarinya pada malam perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin tenggelam.
Prang!
Muak mendengar berita pagi yang sama dari pelayan yang bekerja dengannya, Ma Mei Rong melempar cangkit tehnya kesal. Ia sudah mendengar berita yang sama selama tiga hari, namun bukannya perlahan surut, rumor mengenai putri Zhang Mu Lan malah semakin panas di perbincangkan.
Hal lain yang membuat Ma Mei Rong kesal adalah perlakuan brengsek jendral muda Wu Cheng padanya tiga hari yang lalu, tepatnya pada penutupan pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin, ia di tinggal begitu saja dengan kejam saat ia terlelap karna menunggu suami brengsek-nya. Alhasil Ma Mei Rong pulang ke kediaman Wu dini hari dengan tubuh gemetar, ia sempat berpikir akan mati membeku karna dinginnya angin malam yang menyapu permukaan kulitnya dan menusuk hingga ke tulang - tulangnya.
"Nyonya tenangkan dirimu, tidak baik untuk anda banyak pikiran dan marah - marah sepagi ini, itu akan mengganggu kandungan anda" kata salah satu pelayan mengingatkan.
"Omong kosong!" gertak Ma Mei Rong "Aku yang hamil, maka hanya aku yang tahu kondisi dan keadaanku saat ini!" teriak Ma Mei Rong murka.
Para pelayan yang berada di dalam kamarnya lantas terkejut dengan teriakan Ma Mei Rong, sejak kemarin suasana nyonya muda Wu sedang tidak baik. Ia terus saja berteriak marah, memecahkan barang - barang, atau bahkan menghukum seenak hatinya meskipun mereka para pelayan tak melakukan apapun.
"Mengapa kau menegurnya, kuarasa kita sebentar lagi akan dapat hukuman" bisik pelayan lain pada pelayan yang baru saja menasehati Ma Mei Rong dengan takut - takut.
Kemarin mereka baru saja mendapat pukulan rotan di betis mereka hingga betis mereka yang mulus terluka, luka mereka bahkan belum kering dan sekarang nampaknya nyonya muda Wu mereka akan kembali memberi mereka hukuman yang entah apa.
"Kalian semua akan ku hukum karna berani - beraninya menegurku!" kata Ma Mei Rong dingin
"Siapa yang memberimu izin menghukum para pelayan kediaman Wu?" tanya perdana mentri Wu Ge Ming yang entah sejak kapan memasuki kamar Ma Mei Rong.
Melihat mertuanya datang secara tiba - tiba dan tak terduga, Ma Mei Rong sempat terkejut namun lantas segera menguasai ekspresi wajahnya dan menetralkan detak jantungnya yang berdetak tidak normal karna aura mengintimidasi perdana mentri Ming yang seakan membuatnya tertekan dan juga takut secara bersamaan.
"Ayah!" panggil Ma Mei Rong beranjak bangun dari duduknya.
"Cihh," perdana mentri Ming berdecak "Jika saja kau tidak mengandung pewaris kediaman Wu, aku mana sudi ingin di panggil 'Ayah' oleh ******* dan pembawa petaka sepertimu" tambah perdana mentri Ming tajam.
"Selain itu, kau tak memiliki hak suara ataupun posisi dan kekuasaan apapun di kediaman Wu. Kau tak bisa menghukum atau melakukan apa saja sesukamu karna kau bukan bagian dari keluarga Wu, kau hanyalah seorang selir, dan dimataku kau tidaklah lebih seperti seorang wanita tak tau malu yang menumpang disini"
.
__ADS_1
.
.
Pangeran Han Ze Ming menatap saudaranya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa saudaranya itu tiba - tiba memberitahukan kepadanya dan juga rombongan kerajaan Han untuk berkemas pagi. Bukankah saudaranya itu tengah mencari informasi mengenai masa lalu putri Zhang Mu Lan 5 tahun terakhir, lantas mengapa sekarang mereka akan pulang dengan cepat?
Tak ingin memendam rasa penasarannya begitu lama, pangeran Han lantas bertanya "Gege mengapa kita begitu terburu - buru pulang, bukankah kau mengatakan nampaknya kita akan pulang sedikit lebih lama karna kau ingin menyelidiki masalalu putri Zhang Mu Lan terlebih dahulu?"
"Bukankah hari ini memang jadwal kita untuk pulang?" tanya putra mahkota Han Zi Xin balik
Pangeran Ming menangguk dan berkata "Jadwal kita pulang ke kerajaan Han memang jatuh pada hari ini" kata pangeran Xin "Tapi bagaimana dengan pencarian sosok dewi penyelamat gege. Bukankah gege mengatakan akan mencari sosok dewi penyelamatmu dan target penyelidikanmu adalah putri Zhang Mu Lan" tambah pangeran Xin
"Kurasa sekarang itu tidak perlu" balas pura mahkota Xin yang berhasil membuat pangeran Ming mengernyit bingung.
"Gege apa maksudmu?" tanya pangeran Ming tidak mengerti.
"Aku sudah menemukannya" jawab putra mahkota Xin
"Kau menemukan a-aap -- kalimat pangeran Xin yang hendak ia lontarkan terpotong saat ia berhasil mencerna perkataan putra mahkota Xin, perlahan kedua bola mata pangeran Ming membulat tidak percaya dan berseru..
"Benarkah...???" tanya pangeran Ming tidak percaya
"Jangan katakan jika dewi penyelamat dan penolong gege adalah putri Zhang Mu Lan!" tebak pangeran Ming yang tak menutupi keterkejutannya.
Putra mahkota Xin mengangguk dan hal itu membuat pangeran Ming membungkam mulutnya yang menganga lebar saking terkejutnya dengan fakta yang ia dengar. Sungguh tak pernah ada dalam bayangan pangeran Ming jika dewi penyelamat dan penolong saudaranya adalah putri Zhang Mu Lan dari kerajaan Zhang yang beberapa tahun terakhir begitu terkenal akan rumor buruknya.
"Tapi dari mana gege tahu jika itu dia?" tanya pangeran Ming setelah berhasil mengontrol keterkejutannya
"Putra mahkota Liang memberitahukan jawaban yang selama ini kucari" jawab putra mahkota Xin
"Mengapa tiba - tiba menyangkut pautkannya dengan putra mahkota Liang, apakah gege memilih rencana kedua ketimbang rencana pertama yang kau susun?" tanya pangeran Ming
"Ceritanya sangat panjang, tapi intinya aku akhirnya menemukannya" jawab putra mahkota Xin yang membuat pangeran Ming menganggukan kepalanya paham akan alasan mengapa saudaranya tiba - tiba ingin pulang ke kerajaan Han.
" Jadi ini alasan gege kenapa terburu - buru ingin pulang?" tanya pangeran Ming menaik turunkan alisnya
"Yah, karna hal ini aku sangat ingin pulang cepat untuk segera melunasi janjiku"
__ADS_1
.
.
.
.
.
**TBC
Selasa 4 Agustus 2020
Mau tau dong kalian ngedukung siapa?
XinLan
QingLan
ChengLan
__ADS_1
4.Isi sendiri (lainnya**)