
Hari masih pagi, namun rumor mengenai kejadian kemarin siang mulai tersebar di seluruh wilayah kerajaan Zhang bahkan menembus dinding kerajaan - kerajaan tetangga. Kabar burung mengenai kaisar Wei yang dengan tegas dan kejam memberi hukuman pada para pejabat balai gubernur juga hukuman yang langsung di turunkan dan mengharuskan mereka para oknum yang lalai dalam bertugas di seret menuju menarak penyiksaan.
Selain itu, kamar kecantikan dan kemurahan hati putri kerajaan Zhang juga tidak kalah panasnya, beberapa buruh bangunan dan penduduk yang melihatnya secara langsung menyebarkan bantahan bahwa rumor yang selama ini beredar mengenai temperamennya yang buruk hanyalah sebuah berita bohong. Mereka yang menyebar rumor tersebut hanyalah orang - orang bodoh yang merangkai kata dan menyebarkan kebohongan yang bertahun - tahun membutakan semua orang hingga akhirnya termakan hasutan dari kebohongan tersebut dan pada akhirnya turut berprasangka buruk.
Saat kabar burung ini menyebar luas bagaimana semua orang memuji kaisar Wei dan putri Mu Lan. Di sebuah kediaman besar di ibukota Zhang, tepatnya di sebuah paviliun bagian barat kediaman Ma. Seorang gadis cantik menggebrak meja yang berada di tengah - tengah peraduannya. Wajahnya memerah, kedua tanganya terkepal kuat hingga buku - bukunya memutih.
"Mengapa kini semua orang memujinya? Aku putri pejabat Ma Ze Dong selama bertahun - tahun mendapat pujian karna kecantikan dan kemampuannya dalam seni di ibukota Zhang tidak terima jika dibanding - bandingkan dengan putri Mu Lan!" geram nona muda Ma Mei Rong dari keluarga Ma.
"Nona tenangkan diri anda" tegur pelayannya
"Aku tidak bisa tenang. Hatiku terbakar amarah ketika semua orang membandingkanku dengan wanita jelek, bodoh dan naif itu!" balas Mei Rong kesal.
Pelayannya hanya bisa mengembuskan nafas lelah. Biarpun ia sekuat tenaga meminta nonanya tenang, semua tegurannya tak akan di dengar. Selamanya Ma Mei Rong akan tetap menjadi Ma Mei Rong. Gadis cantik berusia 15 tahun itu terlalu keras kepala jika di ingatkan ataupun di tegur. Walaupun parasnya cantik dan pandai dalam beberapa seni, temperamennya sangat buruk.
Di bandingkan dengan nona muda Ma Xiao Qing yang merupakan saudara kandung Mei Rong, nona sulung memiliki temperamen yang cukup baik. Ia sangat penurut, lemah lembut, pintar dan berparas ayu. Saat ia masih gadis, ada banyak pemuda yang datang melamarnya, hingga pilihan tuan besar Dong akhirnya menikahkan putri sulungnya dengan seorang tuan muda Lao Yu Zhu dari keluarga Lao. Yu Zhu merupakan seorang sarjanawan dan putra dari Lao Fu Pei yang merupakan saudagar kaya di ibukota Zhang.
"Aku sudah membuatnya menutupi parasnya dengan memintanya memakai riasan tebal, mana mungkin ia melupakan saranku itu padahal aku bahkan telah menjual nama jendral muda Wu Cheng" jeda Mei Rong "Tidak mungkin bukan jika ia mengabaikan saranku yang telah ia lakukan bertahun - tahun. Terlebih aku tahu jika ia masih menyukai pemuda yang diam - diam ku cintai" tambah Mei Rong kesal.
"Aku harus kembali membodohinya, bagaimana pun aku tak ingin ada gadis yang lebih cantik dariku!" kata Mei Rong tak lupa senyum licik menghiasi wajah cantiknya.
.
.
__ADS_1
.
Disisi lain, tepatnya di paviliun Shan yang berada di istana dalam. Pagi ini kediaman putri kerajaan Zhang itu tengah mendapat kunjungan dari putra mahkota Liang. Sayangnya saat ini sang pemilik kediaman masih bergelung dengan selimut tebalnya.
Sebenarnya aku telah bangun lebih awal, namun karna kedatangan putra mahkota Liang, aku kembali tidur di atas peraduanku tak lupa menyelimuti seluruh tubuhku dan berpura - pura tidur. Suara teriakan bahkan saat kedua tangan putra mahkota Liang yang mengguncang tubuhku tak ku pedulikan walaupun jujur aku berusaha menahan kesal dan rasa geli yang ia hantarkan.
Sejak semalam, saudaraku itu terus menggangguku karna penasaran dengan masalah yang aku dan Ayahanda kaisar temui ketika kami keluar istana. Entah bagaimana putra mahkota yang kerap kali menampilkan raut wajah datar dan dingin itu begitu ingin mengetahui hal tersebut, padahal aku selalu mengatakan jika Ayahanda kaisar akan membahasnya besok pada rapat pagi mereka.
Namun putra mahkota Liang tetap saja putra mahkota Liang. Ia tidak akan menyerah sebelum mendapat jawaban. Andai saja aku tak berjanji pada Ayahanda untuk mengungkit masalah ini sebelum Ayahanda membahasnya lebih dulu pada rapat, aku pasti sudah menceritakan hal tersebut pada putra mahkota Liang terlebih aku juga ingin memberitahukannya jika aku juga telah menemukan pemuda yang begitu ingin ku jadikan pengawal.
Sayangnya Ayahanda kaisar Wei memintanya tetap diam. Alhasil yang dapat kulakukan hanya mencari banyak alasan untuk menghindari putra mahkota Liang hingga melakukan kebohongan seperti ini.
"Mei mei, aku tau kau sudah bangun. Berhentilah membohongiku" kata putra mahkota Liang yang berhasil membuatku berdecak di balik selimut.
"Aku sekilas melihatmu dari cela pintu dimana kau begitu tergesa menaiki peraduan saat aku baru saja akan masuk" jawab putra mahkota Liang seakan membaca pikiranku.
Aku mendengus kesal. Terlebih lagi aku tak akan biarkan saudaraku itu menang. Aku sudah berjanji pada Ayahanda, terlebih Ayahanda memberikan bayaran yang mengiurkan jika aku berhasil menutup mulutku dengan rapat. Ayahanda kaisar berjanji akan membantu membujuk Bo Qing agar ia ingin menjadi pengawalku dengan sukarela, terlebih Ayahanda kaisar akan menghanguskan hukuman kurunganku dalam kediaman. Jika aku buka suara, itu berarti tawaran Ayahanda kaisar akan hangus dan aku tak akan mendapat apa - apa.
Kamu sudah sampai disini Zhang Mu Lan, berjuang beberapa menit lagi tidak akan menjadi masalah besar untukmu!
Aku terus menyemangati diriku dalam hati. Bagaimanapun aku telah berjuang sampai disini. Aku tidak akan menyerah, walaupun saat ini aku tengah di landa perang batin. Sisi lain diriku memintaku terus mengabaikan putra mahkota Liang, di sisi lain diriku mulai merasa kasihan dengan putra mahkota Liang yang terus datang mengemis penjelasan padaku.
Jujur saja aku lelah terus diganggu dan diusik oleh putra mahkota Liang. Tingkat rasa penasarannya membuatku kewalahan mengimbanginya. Otakku ku paksa bekerja begitu keras untuk mengelak dan menghindar dari sosok putra mahkota Liang yang pandai dan memiliki insting yang tajam.
__ADS_1
Aku mendesah lelah. Apakah aku sudah banyak mengulur waktu? Menyelimuti diri dengan selimut tebal seperti ini jujur saja membuatku kepanasan. Guncangan dari putra mahkota Liang yang memaksakan bangun akhirnya membuatku menyerah. ku sibakan selimut tebal yang menutup seluruh tubuhku, jubah tidur dan pelipisku telah basah oleh keringat. Aku menatap kesal putra mahkota Liang yang tanpa dosa memasang wajah datarnya, seketika sebuah ide mengerjainya terlintas dalam kepalaku sebagai pembalasan dendam dari penderitaan yang kurasakan karnanya.
"Baiklah aku menyerah!" kataku berpura - pura pasrah
"Benarkah?" tanya putra mahkota Liang tanpa curiga
Aku hanya mebalasnya dengan anggukan dan berkata "Aku akan membisikannya dengan gege, tapi gege harus berjanji agar tidak memberi tahu Ayahanda jika aku yang memberitahu gege" pintaku yang langsung di balas anggukan oleh putra mahkota Liang.
Aku meminta putra mahkota Liang mendekat, lalu aku pun mulai membisikan "Masalah yang kemarin... sebentar lagi akan gege tahu, jadi sekarang pergilah ke aula utama istana" bisikku yang berhasil membuat putra mahkota Liang kesal
"Zhang Muuuu Llllaaannnn!"
.
.
.
.
.
**TBC
__ADS_1
Rabu, 20 Mei 2020**