
"Salam hormat untuk Ayahanda kaisar dan Ibunda permaisuri, semoga Ayahanda kaisar dan Ibunda permaisuri panjang umur seribu tahun" ucapku dengan putra mahkota Liang serentak tak lupa membungkuk hormat di hadapan kedua orang tua kami.
"Bangulah putra mahkota Zhang Yong Liang dan putri Zhang Mu Lan" pinta permaisuri Yin Yin yang lantas kami patuhi.
Setelah mengikuti perintah, putra mahkota Liang pun berkata "Kami menghadap pada Ibunda permaisuri seraya ingin memberi hadiah, mungkin harganya tidaklah semahal hadiah - hadiah yang Ibunda permaisuri terima dari kerajaan Han ataupun dari pejabat pemerintahan dan pejabat militer, tapi kami berdua harap Ibunda permaisuri tetap menerima hadiah yang penuh rasa tekun, kesabaran, cinta dan ketulusan yang kami curahkan lewat hadiah yang akan kami beri" kata putra mahkota Liang lantas menoleh kebelakang memberi kode pada bawahannya agar hadiahnya di bawah padanya, hal yang sama juga kulakukan pada Bo Qing yang dengan cepat menyerahkan kotak hadiah berisi sulamanku.
"Semoga Ibunda permaisurinya menyukainya, maaf jika hasilnya kurang rapi" harapku menyerahkan kotak hadiahku pada Ibunda permaisuri begitupun putra mahkota Liang yang menyerahkan gulungan lukisannya yang telah kutambah pita sebagai pemanis.
Ibunda permaisuri dengan cepat menerimanya, ia lalu berkata "Bolehkah Ibunda buka hadiah kalian?" tanyanya yang langsung membuat putra mahkota Liang menatapku meminta persetujuan.
Aku yang menyadari tatapan saudaraku lantas menoleh dan membalas tatapannya, hanya sesaat sebelum aku kembali membuang pandanganku pada Ibunda permaisuri "Tentu saja Ibunda permaisuri bisa membukanya" jawabku tak lupa tersenyum lebar hingga menampakan kedua lesung pipiku.
Permaisuri Yin Yin lantas membuka hadiah putra mahkota Liang terlebih dahulu, saat ia membuka gulungan itu, ia tertengun beberapa saat dan berkata "I-ini.. ini lukisan foto Bengong saat masih berusia 15 tahun, bagaimana bisa kau melukisnya Liang'er, lukisan ini sudah lama hilang dan seingat Bengong, Bengong hanya pernah memperlihatkanmu sekali dan itu saat usiamu masih 9 tahun, bagaimana kau bisa mengingatnya hingga sedetail ini?" tanya permaisuri Yin Yin lantas mengeluarkan sapu tangannya karna terharu.
"Ibunda permaisuri, putramu ini meminta maaf telah membuatmu menangis. Aku tidak bermaksud seperti itu, Ibunda tolong berhentilah, Ibunda tahu tatapan mengintimidasi Ayahanda kaisar nyaris membuatku tak bisa berdiri tegak" kata putra mahkota Liang
"Ibunda tidak menangis karna sedih, tapi karna Ibunda merasa sangat senang" jawab permaisuri Yin Yin "terima kasih Liang'er karna telah membuatkan lukisan yang hampir sama dengan lukisan mendiang kakekmu" tambahnya
"Sama sama Ibunda, itu tidaklah seberapa dengan hadiah yang mei mei berikan" balas putra mahkota Liang yang membuat semua orang bertanya - tanya dengan rasa penasaran akan hadiah yang kuberikan.
"Gege, kira - kira hadiah apa yang putri Zhang Mu Lan berikan kepada permaisuri Yin Yin?" tanya pangeran Min pada putra mahkota Xin
"Mengapa kau tanya padaku, aku bahkan tidak tahu apa isi dari kotak hadiah yang ia berikan" balas putra mahkota Xin sedikit kesal dengan rasa penasaraan adiknya
__ADS_1
"Gege kau tidak asik, aku hanya bertanya, kau tidak perlu marah" keluh pangeran Min
"Kau hanya perlu banyak bersabar, sebentar lagi kau akan tahu apa isinya" balas putra mahkota Xin yang berhasil membuat pangeran Xin cemberut.
"Kehidupanmu terlalu datar gege jika kau terus datar dan serius seperti ini" gumam pangeran Min yang masih dapat di tangkap pendengaran putra mahkota Xin.
"Dan hidupmu tidak akan berkembang jika kau terus mengurusi urusan orang lain" balas putra mahkota Xin yang membuat pangeran Min bungkam.
Disaat putra mahkota Xin dan pangeran Min berdebat, Ma Mei Rong yang baru beberapa menit menyelesaikan tarianya menatap punggung putri Zhang Mu Lan dengan tatapan tajam. Setelah harapannya mendapat pertunjukan menarik akan penampilan putri Zhang Mu Lan yang akan sangat memalukan seperti dalam bayangannya gagal, juga provokasinya yang kembali berakhir gagal. Membuat Ma Mei Rong sangat marah hingga amarahnya telah mencapai ubun - ubunnya.
Sosok pemilik punggung yang tengah membelakanginya kini telah banyak berubah, mungkinkah karna semenjak insiden ia terjatuh dan membuatnya sangat berhati - hati? Ataukah ia tahu dan sadar jika selama ini Ma Mei Rong tengah membodohinya. Diantara banyaknya praduga yang bermunculan dalam benaknya, membuat Ma Mei Rong merasa pening. Merasa pusing, Ma Mei Rong mengambil secangkir teh yang di atas meja dan menandaskannya dengan sekali tegukan. Kemarahannya ternyata berdampak pada sakit kepala dan membuatnya kehausan, alhasil ia kembali menuang teh kedalam cangkirnya dan menghabiskannya.
"Nampaknya kau sangat berusaha sangat keras," sindir jendral muda Wu Cheng yang lantas membuat Ma Mei Rong menoleh dan menatapnya dengan tatapan kesal "Sayangnya pandangan semua orang sejak awal telah tertuju pada putri Zhang Mu Lan yang menjadi pusat perhatian, usahamu jelas sangat sia - sia meskipun ada beberapa pejabat dan bangsawan tua yang menari bersamamu dalam keadaan mabuk" tambahnya yang semakin membuat amarah Ma Mei Rong mendidih.
"Mei Rong, aku hanya menyuruhmu istirahat, ini demi kebaikan anak kita. Ingatlah kondisimu, kandunganmu masih sangat lemah. Mengapa kau tak mendengarkanku!" kata jendral muda Wu Cheng mulai bersandiwara.
Ma Mei Rong yang menyadari tatapan semua orang yang kini telah menatapnya dengan tatapan mengejek, meremehkan dan mencemoh mulai menyindirnya satu persatu. Ma Mei Rong lantas membuang pandangannya kembali ke jendral muda Wu Cheng yang kini tersenyum penuh kemenangan padanya.
Jendral muda Wu Cheng lantas memajukan wajahnya tepat di depan wajah Ma Mei Rong yang perlahan memerah karna amarah "Teruslah seperti ini Ma Mei Rong, tunjukan pada semua orang rupa aslimu di balik topeng keindahan yang kau tunjukan selama ini. Maka dengan begitu aku akan merasa sangat puas!" bisik jendral muda Wu Cheng yang perlahan menjauhkan wajahnya di hadapan Ma Mei Rong dan memfokuskan pandanganya pada aktivitas keluarga kerajaan di hadapannya seakan - akan tidak terjadi persiteruan antara ia dan Ma Mei Rong.
Baru saja jendral muda Wu Cheng memperhatikan pandangan di depannya, suara decakan kagum para pejabat perwakilan kerajaan Han terdengar sangat keras ketika permaisuri Yin Yin mengankat sebuah kain sutra putih gading dengan sulaman burung pheonix dari benang emas dan merah yang begitu indah dan rapi. Selain itu sulaman pheonix itu di kelilingi dengan sulaman bunga mawar berwarna merah muda, ungu, dan jingga yang menambah kecantikan bordir pada kain tersebut.
"Yang mulia permaisuri Yin Yin, sulaman pada kain sutra itu sangat indah dan unik" puji salah satu pejabat perwakilan kerajaan Han
__ADS_1
"Yah, ini sangat cantik!" puji permaisuri Yin Yin
"Yang mulia putri Mu Lan, siapa penjahit yang menyulam dan membordir kain sutra tersebut?" tanya salah satu pejabat perwakilan kerajaan Han lainnya yang tentu saja menyuarakan pertanyaan yang ingin di tanyakan semua orang setelah melihat kain sutra dengan sulaman dan bordir indah tersebut.
"Tidak ada penjahit," jedaku yang berhasil membuat semua orang mengernyit bingung "Apa maksud anda yang mulia putri?" tanya pejabat yang sebelumnya menanyaiku dengan raut wajah bingun.
"Aku tidak menyewa penjahit manapun untuk menyulam dan membordir kain tersebut" jawabku
"Lalu dimana anda mendapatkannya?" tanya pangeran Min yang tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
Mendengar adiknya menyuarakan pertanyaan membuat putra mahkota Xin menoleh pada pangeran Min dan menatap saudaranya dengan tatapan tajam, sayangnya pangeran Min membuang mukanya setelah membalas tatapan saudaranya. Ia sudah besar dan biarkan ia menyuarakan pikiran dan rasa penasarannya yang tak bisa lagi ia tahan.
"Aku menyulamnya sendiri" jawabku yang berhasil membuat semua orang terkejut.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Rabu 22 Juli 2020