Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 58


__ADS_3

Aku tahu jika pesta perayaan ulang tahun ibunda permaisuri tidak akan berjalan lancar tanpa adanya masalah baru yang akan di ciptakan Ma Mei Rong untukku. Setelah para pejabat dan bergiliran maju di hadapan tenda khusus keluarga kerajaan dan perwakilan kerajaan Han satu persatu memberi hadiah pada Ibunda permaisuri, kini giliran para pejabat militer kerajaan Zhang dan dengan angkuhnya Ma Mei Rong berdiri bersama jendral muda Wu Cheng yang langsung membuat bawahan jendral muda Wu Cheng berlari membawakan hadiah yang mereka bawa.


Jendral muda Wu Cheng mulai melangkah bersama dengan Ma Mei Rong yang mengalungkan lengannya pada lengan kekar jendral muda Wu Cheng. Awalnya dari penglihatanku mengenai gerak gerik keduanya, aku menangkap bahwa hubungan keduanya sedang tidak baik. Mungkin karna jendral muda Wu Cheng masih kesal dengan aib antara dirinya dengan Ma Mei Rong atau karna sejak awal jendral muda Wu Cheng hanya ingin memanfaatkan dan menikmati Ma Mei Rong tanpa ingin terikat apapun. Sayangnya karna saat ini Ma Mei Rong tengah mengandung anaknya ia harus terikat dengan wanita licik, karna darah dagingnya tengah tumbuh di rahim Ma Mei Rong.


Aku lantas mengerjap dan membuang pandanganku dengan cepat, sebab aku tak ingin Ma Mei Rong menyadari bahwa aku mengamati keduanya yang tengah melangkah menuju kemari. Aku tak ingin membuat Ma Mei Rong besar kepala dan merasa menang jika ia menyalah artikan tatapanku, terlebih meskipun aku menatap jendral muda Wu Cheng, tak ada lagi perasaan berdebar yang kurasakan seperti di kehidupanku yang dulu atau dalam ingatan mimpi burukku. Tak ada lagi pipi yang terasa panas ketika jendral muda Wu Cheng memberiku seulas senyum sopan yang dulu selalu ku salah artikan. Kini semua rasaku padanya telah mati dibakar api kemarahan dan dendam yang ada pada diriku akan perlakuannya di kehidupanku yang lalu.


Salam hormat keduanya menyapa indra pendengaranku, aku menatap mereka sekilas sebelum mengambil cangkir tehku dan menyesapnya dengan tenang. Nampaknya apa yang kulakukan saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang, pasalnya mereka tahu betapa aku begitu menggilai jendral muda Wu Cheng. Sayangnya, meskipun aku tahu mereka tengah menatapku dengan menahan nafas karna berpikir akan ada pertengkaran yang begitu panas, aku malah tidak peduli dengan harapan mereka karna bagiku akan sangat membuang - buang waktu dan tenaga.


"Yang mulia permaisuri, kami membawa sedikit hadiah untuk anda, kami harap yang mulia ingin menerima pemberian kami" kata jendral muda Wu Cheng lalu lantas menoleh pada bawahannya memberi bawahannya kode untuk menyerahkan hadiah itu pada seorang kasim.


"Jendral muda Wu Cheng sangat bermurah hati," puji permaisuri Yin Yin "Meskipun jendral muda Wu Cheng tak membawa hadiah sekalipun, hadiah yang paling berharga bagi Bengong (panggilan saya untuk permaisuri/putra mahkota) adalah doa kalian yang begitu beeharga. Terima kasih sekali lagi Bengong ucapkan" tambahnya


"Selain itu, bisakah hamba meminta sesuatu yang mulia?" pinta Ma Mei Rong yang cukup membuat semua orang terkejut.


"Apakah ada orang seberani dan selancang putri bungsu keluarga Ma? Ini adalah pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin kerajaan Zhang, karna suasana hati permaisuri sangat baik, ia dengan licik memanfaatkannya" dengus pangeran Min


"Dari penampilannya, ia memang wanita yang sangat licik. Namun ada seseorang yang lebih cerdik dan mengalahkan semua kelicikannya" balas putra mahkota Xin yang kini menatap putri Zhang Mu Lan sambil meneguk anggurnya.

__ADS_1


"Apa maksud gege?" tanya pangeran Min tak menagkap maksud dari perkataan putra mahkotan Xin.


"Kau tak perlu tahu, tugasmu hanya menjadi penonton, sebab akan ada pertunjukan yang begitu menarik sebentar lagi" jawab putra mahkota Xin yang membuat pangeran Min mengangguk paham.


"Permintaan apa yang kau minta? Jangan membuang - buang waktu, masih banyak pejabat dan keluarganya yang ingin menyapa. Kau jangan menjadi penghalang untuk mereka" kata kaisar Wei angkat bicara.


"Yang mulia!" tegur permaisuri Yin Yin yang langsung dibalas dengusan oleh kaisar Wei.


"Nyonya muda Wu, permaisuri ini berharap agar kau tidak memasukan perkataan yang mulia kaisar di hatimu. Yang mulia tidak bermaksud menyakitimu, hanya memberitahumu jika yang lain juga ingin menghadap dan memanjatkan doa dan ucapan untuk Bengong," jelas permaisuri Yin Yin "Tapi jika B**engong mampu mengabulkannya, maka katakanlah" tambah permaisuri Yin Yin


"Mei Rong, apa yang kau lakukan?" tanya jendral muda Wu Cheng berbisik pada wanita yang berdiri disisinya dengan nada penuh penekanan. "Aku sudah memperingatimu sebelumnya, dan kau jangan berpikir jika aku hanya main - main. Aku bisa saja menghancurkanmu setelah ini jika kau mempermalukan keluarga Wu-ku!" tekannya masih dengan berbisik.


Ma Mei Rong tersenyum sinis, ia lalu berkata "Kau tenang saja, aku hanya ingin mengangkat nama keluarga Wu - mu" balas Ma Mei Rong


"Yang mulia permaisuri tidak perlu khawatir, hamba sangat mengerti maksud yang mulia kaisar," kata Ma Mei Rong "Hamba tidak akan menunda waktu yang lainnya, hamba hanya meminta di izinkan menampilkan sebuah tarian sebagai hiburan sembari para pejabat lain menyapa dan melantunkan doa dan ucapan selamat pada yang mulia permaisuri" tambah Ma Mei Rong yang di angguki permaisuri Yin Yin.


"Baiklah, kau boleh tampil!"

__ADS_1


Musik yang mengiringi Ma Mei Rong akhirnya selesai begitupun dengan para pejabat militer yang akhirnya selesai memberi hadiah, ucapan serta doa pada Ibunda permaisuri. Sepanjang Ma Mei Rong menari, aku sama sekali tidak memperhatikannya, ia terlalu membosankan di mataku.


Mungkin jika aku masihlah gadis polos yang dengan gampangnya di bodohi oleh Ma Mei Rong akan dengan mudah merasa kagum dan iri hingga aku dengan nekat menampilkan sebuah tarian yang pada akhirnya mendapat kritikan dan ejekan karna gerakanku selalu saja salah di setap irama ketukan alat musik yang mengiringiku, maka kini aku tak ingin melakukan apa - apa terlebih aku tak akan termakan provokasi Ma Mei Rong yang secara terang - terangan ia tunjukan padaku. Aku sadar aku tak memiliki bakat menari, meski pun tetap saja rasa iri yang ku miliki dengan bakat Ma Mei Rong masih saja ada, atau tetap tidak akan mempermalukan diriku.


"Mei mei.."


Suara yang begitu akrab menyapa indra pendengaranku, panggilannya berhasil membangunkanku dari lamunan. Aku lantas menoleh dan menatap putra mahkota Liang yang entah sejak kapan berada di hadapanku.


"Sekarang giliran kita memberi ibunda permaisuri hadiah" kata putra mahkota Liang yang lantas membuatku bergegas beranjak bangun. Bo Qing yang sedari tadi berdiri di belakang kursiku lantas mengikutiku dari belakang sembari membawa kotak hadiah yang telah ku bungkus begitu rapi.


Aku melangkah bersama putra mahkota Liang menuju kedepan tenda, sesaat pandanganku bertemu dengan Ma Mei Rong yang nampak kesal karna aku tak termakan provokasinya, dan saat ini aku tahu ia tak akan melepaskanku dan akan terus mencari masalah denganku.


"Ah, nampaknya aku harus membungkamnya dengan sesuatu yang mengejutkan" desahku


**TBC


Selasa 21 Juli 2020**

__ADS_1


__ADS_2