Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 63


__ADS_3

Aku menikmati pijitan lembut putra mahkota Liang pada jari - jariku, saat aku tiba di pavilium Shan bersamanya, ia lantas segera menyuruhku berbaring di peraduan dan ia akan membantuku melemaskan jari - jariku yang terasa kaku setelah bermain Qin tanpa ku minta. Padahal aku baru akan meminta ia memijit jari - jariku sebagai hukuman telah menempatkanku di situasi sulit seperti tadi. Beruntungnya aku bisa mengatasinya dan menyelesaikannya tanpa mempermalukan diriku.


"Gege kurasa sudah cukup" kataku yang merasa kasihan pada putra mahkota Liang yang terus memijitku padahal malam sudah sangat larut, terlebih aku tahu jika ia sangat kelelahan sepertiku.


Putra mahkota Liang menggeleng dan mejawab "Anggap saja ini hukuman untukku" Aku yang mendengarnya tak bisa berbicara banyak, bagaimanapun aku melihat sedari tadi saudaraku menampakan raut wajah bersalah dan khawatir denganku.


"Gege aku sungguh sudah mendingan, ada baiknya gege pulang dan beristirahat" bujukku setelah terjadi keheningan beberapa menit.


"Aku tidak akan pulang setelah memastikan jari - jarimu mulai lemas dan mei mei telah tertidur" jawabnya keras kepala "Terlebih aku tahu bermain Qin tidaklah mudah, apalagi kau memainkan lagu dibawah cahaya rembulan yang kudengar lumayan sulit" tambahnya.


"Ngomong - ngomong mengenai keberhasilanmu malam ini, aku sedari tadi penasaran, dimana mei mei belajar bermain Qin? Setahuku kau dulu tidak pandai apapun" tanyanya yang membuatku melotot tidak terima.


Putra mahkota Liang lantas terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan salah satu tangannya, ia lalu berkata "Apakah aku salah? Bukannya dulu mei mei memang seperti itu?" tanyanya yang membuatku mendesah.


Putra mahkota Liang memang tidak sepenuhnya salah, namun mengingat kembali kenangan memalukan dan kebodohan yang ku lakukan membuatku geram ketika bayangan Ma Mei Rong yang memberikan tatapan mengejek dan senyum kemenangan yang terukir di wajahnya seketika muncul dalam kepalaku. Amarah dan dendamku padanya seketika membara, namun aku meredamnya dan menyimpannya dalam hati bagaimanapun putra mahkota Liang masih berada disini. Aku tak ingin kepekaan putra mahkota Liang berhasil menebak pikiranku, terlebih aku tak ingin melibatkannya dalam masalah balas dendamku ini selama aku masih bisa menanganinya.


"Gege tidak sepenuhnya salah. Dulu aku terlalu naif sehingga begitu mudah di bodohi dan di manfaatkan, tapi sebenarnya aku tak seperti yang aku tunjukan pada para penduduk selama bertahun - tahun terakhir, aku juga berbakat, hanya saja bakat dan prestasiku tak pernah ku tampakan di permukaan karna saran Ma Mei Rong" jawabku dengan suara yang terdengar sedikit kesal saat aku menyebutkan nama ****** itu.


"Sudahlah.. yang berlalu biarlah berlalu. Dibanding mengenang masa lalu yang penuh dengan kesalahan, mengapa tak memikirkan cara bagaimana memperbaiki kesalahan dan hidupmu di masa sekarang?" tanya putra mahkota Liang "Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang buruk, tapi kita juga selalu memiliki kesempatan untuk memperbaikinya di masa depan" tambah putra mahkota Liang bijak yang entah mengapa berhasil menyentil hatiku.


Apa yang putra mahkota Liang katakan tidak sepenuhnya salah, malah hatiku mengatakan jika perkataan saudaraku memang benar. Aku terlalu sibuk memikirkan masa lalu dan memikirkan cara bagaimana aku membalaskan dendam dan rasa sakit yang kurasakan, aku terlalu sibuk dengan hal itu hingga lupa dengan cara memperbaiki kesalahan dan dosaku di masa sekarang. Aku terlalu dibutakan oleh dendam hingga aku tak memikirkan melakukan cara memperbaiki kesalahan yang ku perbuat dan membalas perbuatan mereka dengan cara elegan.


"Apa yang di katakan gege benar, terima kasih karna telah menyadarkanku akan beberapa hal" kataku yang membuat putra mahkota Liang mengernyit bingung.

__ADS_1


Saat aku sadar jika putra mahkota Liang ingin menyuarakan kebingungannya, aku dengan cepat memotong kalimat yang hendak keluar dari mulutnya dengan berkata "Gege aku ingin tidur, gege pulanglah dan terima kasih telah merawatku" usirku halus.


.


.


.


Byurr!


Dinginnya air sungai di akhir musim kemarau perbatasan kerajaan Han dan kerajaan Zhang menyapu permukaan kulitnya hingga terasa menusuk hingga ketulang. Kepala yang terasa pusing di tambah dengan derasnya aliran air yang bercampur dengan amisnya darah yang terus merembes keluar dari luka goresan yang ia dapatkan saat memburuh terus saja keluar hingga ia merasakan perih dan sakit yang terasa dua kali lipat lebih sakit karna derasnya air yang menghantam kuat lukanya.


Tubuhnya terlalu lemah untuk untuk berenang, terlebih saat ini ia berpencar dengan rombongan kerajaannya sehingga ia sendiri. Derasnya air membawa tubuhnya mengikuti arus, dengan sisa sisa kesadaran dan kekuatan yang ada, ia berusaha naik di permukaan karna tak ingin hidupnya berakhir seperti ini. Pada akhirnya ia berhasil ke permukaan dengan tubuhnya yang basah kuyup terdampar di sebuah batu besar yang ada di pinggir sungai.


"Tentang cinta.. antara kau dan aku,"


"Tetaplah bersamaku, menikmati malam.. di bawah cahaya rembulan dan bintang - bintang ~~"


Lantunan lagu indah itu pun berakhir seiring dengan pikikan seorang gadis yang mungkin menyadari keberadaan dan kondisinya, dan saat ia terbangun, tubuhnya telah terbungkus dengan sebuah mantel bulu beruang coklat tebal dan lukanya telah dililit sebuah potongan kain sutra yang ia tahu harganya sangat mahal.


"Apakah kau sudah bangun?" sapa gadis itu yang membuatnya terkejut.


"Putri Zhang Mu Lan!" Teriak putra mahkota Han Zi Xin beranjak bangun dan mendudukan diri di atas peraduannya. Nafasnya memburu hebat, bulir - bulir keringat dingin pun telah membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Ti-dak mungkin" gumam putra mahkota Han Zi Xin dengan nafas yang masih memburu hebat. "Tidak mungkin gadis itu adalah putri Zhang Mu Lan" sangkalnya lagi setelah nafasnya kembali normal.


"Terlebih mengapa sosok gadis dalam mimpiku itu menampakan wajah putri Zhang Mu Lan yang sekarang, padahal kejadian itu saat aku berumur 15 tahun. mungkinkah gadis itu memang putri Zhang Mu Lan?" tebaknya.


"Suara dan wajah mereka cukup mirip!" tambah putra mahkota Han Zi Xin yang membuatnya seakan menyadari satu hal yang besar.


Putra mahkota Xin lantas memijit keningnya yang terasa berdenyut, terakhir ia memimpikan kejadian 5 tahun yang lalu yang pernah ia alami saat usianya 17 tahun, dan kini ia kembali memimpikannya saat usianya telah 20 tahun. Kejadian itu masih membekas dalam ingatannya, bagaimana putra mahkota Xin pernah berpikir ia akan mati jika saja tak di tolong oleh gadis yang menyelamatkannya.


"Aku telah meminta prajurit Yong Le ku untuk mencarinya sejak 3 tahun terakhir. Namun mereka tak menemukan apapun mengenai identitas dewi penyelamatku" kata putra mahkota Xin "Jika memang benar tebakanku benar mengenai putri Zhang Mu Lan adalah dewi penyelamatku, maka wajar mereka tak dapat menemukan gadis itu karna tak pernah menduga jika mungkin gadis itu adalah putri kerajaan Zhang, terlebih penampilan putri Zhang Mu Lan berubah derastis saat usianya menginjak 10 tahun. Selain itu penjagaan terhadap putri Zhang Mu Lan sangat ketat sehingga sangat sulit untuk prajurit Yong Le yang baru berusia 3 tahun untuk menembusnya" tambahnya.


"Kurasa pradugaku ini saling berhubungan, tapi nampaknya aku harus mencari bukti dan kebenarannya"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Rabu 29 Juli 2020**


__ADS_2