Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 31


__ADS_3

Menyulam ternyata tak semudah yang ia bayangkan, seperti perkataan wanita penjahit itu, ia perlu belajar mengenai dasar - dasar menyulam terlebih dahulu sebelum menggambar pola sulaman yang aku inginkan pada selembar kain sebelum menyulamnya dengan kesabaran dan konsentrasi yang tinggi.


Saat ini aku tengah membaca buku dasar - dasar kerajinan. Namun baru beberapa jam aku membaca buku dasar - dasar kerajinan yang di ambil di perpustakaan kerajaan, aku sudah merasa sangat mengantuk padahal malam baru saja menyapaku dan wanita penjahit yang akan menjadi guruku pun telah lama pulang. Sebelum ia pulang, ia memintaku membaca buku dasar - dasar kerajinan, sebelum besok malam mulai mengajariku dengan menggambar atau membuat pola pada kain yang akan ku sulam.


Dari banyaknya pelajaran dan buku - buku yang ku pelajari secara sembunyi - sembunyi, hanya pelajaran seni yang selalu berhasil membuat bosan dan berakhir mengantuk. Padahal jika di bandingkan dengan pelajaran sejarah atau buku - buku militer dan strategi perang yang lebih rumit, hanya seni yang selalu berhasil membuatku seperti ini. Jika saja hadiah ini bukan untuk ibunda permaisuri, aku tak akan repot - repot mempelajari pelajaran yang begitu membosankan seperti ini, walaupun dalam seni aku sangat mahir bermain berbagaimacam musik. Hanya saja aku terlalu lama telah menyembunyikan bakatku, akhirnya aku mulai terbiasa dengan menyembunyikan kemampuanku atas saran dari putri bungsu keluarga Ma yang selama ini memnodohiku.


Aku meketakan buku yang ku baca di atas meja bundar yang berada di tengah - tengah kamarku, setelah itu aku lantas beranjak bangun dari dudukku dan melangkah dengan gontai menuju peraduanku. Nampaknya aku perlu membaringkan tubuhku sejenak, terlebih rasa ngantuk yang menyerangku semakin membuat mataku memberat dan ingin segera terpejam.


Aku membaringkan tubuhku di atas peraduan, saat hendak memejamkan mataku, tiba - tiba saja pintu kamarku di buka secara paksa dari luar. Aku lantas terbangun mendudukan tubuhku karna terkejut, mengelus dadaku terlebih dahulu sebelum menoleh menatap pelaku keributan. Belum cukup keterkejutanku, aku kembali di kejutkan dengan sosok putra mahkota Liang yang nyaris membuat jantungku berhenti berdetak karna kehadirannya yang tiba - tiba dihadapanku. Dengan kesal aku lantas memukul lenganya kuat karna mengganggu istirahatku, juga karna mengangetkanku.


"Gege!" teriakku kesal


"Tidak bisakah gege mengetuk pintu terlebih dahulu? Aku nyaris mati karna kedatangan gege yang nyaris membuat jantungku berhenti!" tanyaku dengan nada kesal.


"Ma--afkan aku, tapi ini darurat. Ibunda permaisuri nyaris menemukan lukisanku saat datang mengunjungiku, maka dari itu aku akan menyimpan lukisanku di kediamanmu untuk sementara waktu karna aku tak punya tempat aman lain selain disini" jelas putra mahkota Liang dengan nafas yang masih putus - putus


Aku hanya mampu menghembuskan nafasku dengan kasar, andai kedatangan putra mahkota Liang bukan karna alasan ingin menyembunyikan hadiah yang akan ia berikan untuk Ibunda permaisuri, mungkin saja aku akan meminta penjaga menyeretnya keluar karna mengganggu waktu istirahatku.


"Mei mei... bantulah aku menyembunyikan lukisanku" pinta putra mahkota Liang meraih salah satu tanganku lalu mengoyakannya seraya membujukku.


Aku mendesah pasrah dan berkata "Ya sudah, gege boleh menyembunyikannya disini" kataku pada akhirnya

__ADS_1


"Tapi dimana aku akan memyembunyikannya? Seluruh tempat yang ada di kamarmu pasti akan terjamah dan di pantau oleh ibunda permaisuri" kata putra mahkota Liang.


Aku lantas berpikir lama sebelum mengingat satu tempat rahasia di dalam kamarku yang tak seorang pun yang tahu kecuali aku dan Ayahanda kaisar. Aku lantas segera turun dari peraduanku dan menarik putra mahkota Liang memasuki ruangan samping kanan dekat permandianku yang merupakan ruangan pakaian. Dalam ingatanku, aku ingat jika memiliki ruangan rahasia di balik lemari - lemari pakaianku. Ruangan rahasia itu merupakan ruangan yang Ayahanda kaisar dan prajurit khusus kerajaan bangun sebagai ruangan persembunyian jika sewaktu - waktu bahaya mengincarku di dalam istana.


Aku sangat ingat jelas dalam ingatanku dalam mimpi yang ku alami begitu nyata, atau kehidupan yang pernah ku lalui secara nyata sebelum kembali di bangkitkan dari kematian dalam tubuhku yang kini baru berusia 14 tahun. Saat jendral muda Wu Cheng mulai bergerak menyerang kerajaan bersama para pendukungnya untuk menggulingkan keluarga kerajaan di atas takhta, Ayahanda kaisar Wei saat itu menyeretku memasuki ruangan tersebut untuk bersembunyi.


Jika saja aku tak mendengar teriakan serta ancaman jendral Wu Cheng di dalam kamarku yang mengumumkan dengan keras dan lantang mengenai ancamannya yang akan membunuh seluruh keluargaku jika aku tak kembali padanya sebagai istri dan juga tawanannya, semua keluargaku akan lenyap. Akhirnya akupun keluar dari persembunyianku karna tak ingin seluruh keluargaku mati, sayangnya saat aku memilih keluar dari persembunyian itu, saat itu pula aku menyesal karna saat itu juga seluruh keluargaku di bantai di depan mataku dan saat itupula aku pun turut menyusul mereka dan mati di tangan jendral muda Wu Cheng yang begitu ku puja dan kagumi dulu.


Andai saja aku tetap bertahan, kematian Ayahanda kaisar, Ibunda permaisuri dan gegeku tak akan sia - sia jika aku masih tetap hidup. Dengan begitu aku bisa membalaskan dendamku untuk kematian mereka, sayangnya jalan takdir berkata berbeda, pada akhirnya akupun mati di tangan orang yang begitu ku puja.


"Mei mei.. mengapa kau membawaku kemari?" tanya putra mahkota Liang menyentakku dari lamunan.


"Kau bercanda? ruangan pakaianmu adalah tempat yang selalu ibunda permaisuri perhatikan!" kata putra mahkota Liang tidak habis pikir


"Apakah kau sengaja membiarkan ibunda permaisuri menemukan hadiahku?" tuduhnya


Aku lantas melototi putra mahkota Liang karna tuduhan tak beralasannya, rasa kesalku yang sempat hilang kini kemabali karna tuduhannya padaku. Aku lantas berkata "Jika aku membiarkan ibunda permaisuri menemukan lukisan gege, mengapa aku harus mau membantu gege dengan mengizinkan gege menyembunyikan lukisan gege disini jika ibunda permaisuri bisa saja menemukan tempat persembunyian gege?" tanyaku dengan nada ketus


"Jika aku berniat buruk seperti itu, mengapa aku harus repot membantu gege! Harusnya sejak tadi aku meminta penjaga menyeret gege keluar, sekarang aku sangat kesal dengan gege" kataku lantas berbalik ingin meninggalkannya dalam ruangan pakaiannku, namun langkahku tertahan saat putra mahkota Liang dengan cepat mecegal lenganku.


"Mei mei aku hanya bercanda, kau tak perlu seserius itu" kata putra mahkota Liang memelas

__ADS_1


"'Ayolah maafkan aku, aku janji jika kau memaafkanku, aku akan sering membawamu mengunjungi Bo Qing dan melihat perkembangannya" tawarannya yang seketika membuatku menimbang - nimbang. Tak perlu waktu yang lama, aku lantas setuju dengan tawaran putra mahkota Liang. Aku lantas berbalik dan berdiri di posisiku semula.


"Lalu dimana kita akan menyembunyikan lukisanku?" tanya putra mahkota Liang


"Kita akan menyembunyikannya, di balik lemari itu" jawabku yang seketika membuat putra mahkota Liang menganga karna terkejut.


"Hah?"


.


.


.


.


.


**TBC


Selasa, 9 Juni 2020**

__ADS_1


__ADS_2