
Panji - panji kerajaan Han berkibar sepanjang jalan raya ibukota Zhang. Setelah melakukan perjalanan selama 3 hari, akhirnya rombongan perwakilan kerajaan Han telah tiba di wilayah kerajaan Zhang di hari ke 4 perjalanan. Siang ini keramaian ibukota kerajaan Zhang sangat padat dan ramai oleh aktivitas para penduduk yang berdagang dan berlalu lalang di sepanjang pinggir jalan raya. Ketika para rombongan bagian depan meminta jalan, seketika para penduduk ibukota kerajaan Zhang pun menyingkir dan membuka jalan.
"Gege nampaknya penduduk kerajaan Zhang tau siapa kita sehingga setiap kita datang akan membuka jalan" kata pangeran Min yang mensejajarkan kuda putih tunggangannya dengan kuda hitam yang putra mahkota Xin tunggangi
"Dibanding menagatakan perkataan yang telah kau temukan jawabannya, mengapa kau tak mengatakan alasan padaku mengenai kehadiranmu bersamaaku saat ini" balas putra mahkota Xin terdengar sedikit kesal "bukankah kau tak ingin ikut? lantas mengapa pada akhirnya kau berubah pikiran?" tambah putra mahkota Xin yang membuat pangeran Min memberinya cengiran.
"Ujianku telah selesai, dibanding berdiam diri di istana timur selama liburan, di tambah gege pergi menjadi perwakilan kerajaan Han. Aku memilih untuk ikut saja, mungkin akan ada hal yang menarik nantinya, contohnya pertujukan topeng putri Zhang Mu Lan mungkin saat menyambut kedatangan kita" jawab pangeran Min tak lupa menggoda putra mahkota Xin dengan menaik turunkan alisnya.
Tentu saja kenangan satu tahun lalu masih membekas dalam ingatan putra mahkota Xin. Bagaimana ia terkejut saat di sambut oleh putri Zhang Mu Lan sebagai perwakilan kerajaan Han saat menghadiri urusan penting dua kerajaan mewakili kaisar Han Yong Zheng, Ayahandanya.
Saat itu putra mahkota Xin tak mampu menutupi keterkejutannya, ia masih ingat bagaimana ia berkata mengapa salah satu penari topeng yang menyambutnya. Kenangan itu sungguh kenangan buruk dan memalukan. Setelah hari itu, hubungannya dengan putri Zhang Mu Lan tidak membaik setelah ia mengatakainya sebagai penari topeng.
Sebenarnya itu tentu saja bukan salahnya, riasan putri Zhang Mu Lan jelas sangat tebal. Dan mungkin melebihi riasan para penari topeng yang biasa ia saksikan di pasar malam. Namun putra mahkota Xin juga sadar jika perkataannya cukup keterlaluan dan menyakitkan. Ia tak berani meminta maaf, bagaimana pun saat hari - hari berikutnya saat mereka bertemu, putri Zhang Mu Lan mengacuhkan dan bersikap dingin padanya hingga ia kembali ke kerajaan Han.
"Aku berharap kali ini bukan putri Zhang Mu Lan yang menyambut kedatangan kita" gumam putra mahkota Xin yang lantas mengundang tawa pangeran Min yang mendengarnya.
Suara tawa saudaranya itu berhasil mengundang perhatian para penduduk ibukota kerajaan Zhang, bahkan ada beberapa nona muda yang berada di sepanjang jalan yang kami lewati menjerit. Entah apa yang membuat mereka menjerit histeris, putra mahkota Xin tidak peduli. Sebab saat ini ia merapalkan banyak doa dalam hatinya agar kedatangan mereka di seambut keluarga kerajaan Zhang, kecuali putri Zhang Mu Lan.
.
.
.
__ADS_1
Disisi lain, tepatnya di pavilium Shan bagian dari istana dalam kerajaan Zhang. Putra mahkota Liang tengah membangunkan seorang gadis cantik berusia 14 tahun di atas peraduannya. Pemuda tampan berusia 21 tahun itu terus menepuk pipi adiknya dengan pelan, sesekali ia menggoyakan tubuh mungil itu di atas peraduannya.
"Hummm"
Suara gumaman keluar dari bibir mungil dan tipis dari gadis tersebut, usikan dan segala gangguan yang di terimanya membuatnya lantas berdecak kesal seraya berkata "berhentilah menggangguku. Aku masih ingin tidur siang!" keluhnya
"Tidak bisa, pokoknya tidak bisa" kata putra mahkota Liang dengan nada suara tegas "Kau harus bangum mei mei dan menemaniku menyambut rombongan kerajaan Han yang sebentar lagi tiba"
Mendengar perkataan putra mahkota barusan, kesadaranku yang masih tercerai berai di alam bawah sadarku lantas terkumpul sepenuhnya. Dengan cepat aku bangun mendudukan diri dan hal itu berhasil membuat putra mahkota Liang terkejut.
"Mereka akan tiba?" tanyaku yang di angguki putra mahkota Liang dengan sedikit kaku karna masih memulihkan perasaannya dari perilaku spontanku.
"Gege saja yang pergi. Aku mau melanjutkan tidurku!" putusku yang membuat putra mahkota Liang melotot dan segera menahanku saat hendak menjatuhkan diriku kembali keatas kasurku yang nyaman.
"Pokoknya kau harus menenamiku!" putus putra mahkota Liang mutlak
"Aku tidak akan menemani gege terlebih aku tahu siapa yang akan kusambut!" kataku dengan tegas.
Mendengar perkataanku, putra mahkota Liang lantas mengernyit, ia lalu berkata "Jangan katakan kau masih dendam dengan putra mahkota Han Zi Xin karna tahun lalu mengataimu sebagai seorang penari topeng?" tebak putra mahkota Liang yang berhasil membuatku mendengus kesal.
Aku jelas tidak akan lupa kejadian itu, bahkan untuk dua kesempatan hidup yang ku terima. Bagaimana aku seorang putri kerajaan disamakan dengan para penari topeng. Jujur saja aku tidak mencela ataupun merendahkan mereka para penari topeng, hanya saja kenangan itu sangat membuatku marah dan kesal karna selama ini termakan oleh perkatan Ma Mei Rong yang telah berhasil membuatku di bodohi selama bertahun - tahun. Melihat putra mahkota Xin jelas akan membuatku mengingat perkataannya itu bersamaan dengan penyesalan - penyesalanku akan kebodohan yang ku lakukan dan pada akhirnya membuatku malu sendiri.
Aku tak tahu mengapa jika aku berhadapan dengan putra mahkota Han Zi Xin dari kerajaan Han, aku merasa begitu rendah dan memalukan. Mungkinkah karna tatapan tajamnya atau karna aura dingin mengintimidasi yang ia keluarkan. Entahlah, yang selalu ku lakukan jika keberadaannya berada dekat denganku, radarku dengan cepat memberi peringatan pada diriku sendiri agar segera menjauh, meskipun aku harus terlibat dengannya entah itu di sengaja atau tidak, aku harus membentengi diriku dengan sikap acuh dan dingin, karna jika tidak, aku merasa harga diriku telah habis jika berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Gege sudah mengatakannya, sekarang pergilah dan sambut kedatangannya. Aku tidak akan mau menyambut orang yang pernah menghinaku" putusku mutlak yang membuat putra mahkota Liang menggeleng tidak setuju.
"Tidak, tidak. Keputusanmu tidak akan ku terima, bagaimanapun apa yang putra mahkota Xin katakan benar, dandanan mei mei dan cara berpakaianmu dulu begitu norak dan aku setuju dengan perkataan putra mahkota Xin yang mengataimu bagaikan seorang penari topeng!" Kata putra mahkota Liang terang - terangan.
Aku yang mendengar pengakuan saudaraku sendiri lantas melototinya dengan tatapan tajam, sedangkan putra mahkota Liang yang baru saja tersentak dari perkataan yang baru ia lontarkan lantas melirikku dengan takut - takut.
"Gege kau jahat!" Teriakku lantas melemari putra mahkota Liang dengan bantal kepalaku namun sayang bantal itu tak mengenai putra mahkota Liang yang dengan cepat menghindari lemparan bantal atas amukanku.
"Aku akan pergi menyambutnya sendiri, mei mei hanya perlu berdiam diri dan menenangkan dirimu!" kata putra mahkota Liang dengan cepat melarikan diri.
.
.
.
.
.
**TBC
Selasa, 7 Juli 2020**
__ADS_1