
Seketika harapan pembebasan untuk dirinya sendiri pupus, hal itu berhasil membuat beberapa orang terkejut dengan penolakan putri Zhang Mu Lan secara terang - terang dengan mengangkat status dan posisinya saat ini.
Disaat jendral muda Wu Cheng terpuruk dan putus asa dalam ketermenungannya, kaisar Wei tersenyum puas dan penuh bangga pada putrinya, begitupun dengan putra mahkota Xin yang akhirnya bisa bernafas lega setelah menahan nafasnya menunggu jawaban yang mungkin membuatnya sakit hati dan kecewa msngingat betapa besarnya perasaan putri Zhang Mu Lan dulu pada jendral muda Wu Cheng yang menurutnya adalah saingan terberatnya. Tapi sekarang ia patut bersyukur karna saingan yang ia anggap berat telah di tolak mentah - mentah oleh gadis cantik yang begitu ingin ia jadikan pendamping, dan entah mengapa hal ini membuat putra mahkota Xin sangat lega, bersyukur dan senang secara bersamaan.
Bukankah apa yang aku katakan benar? Semenjak terbangun dari mimpi buruk akan kesempatan hidup kedua yang di berikan padaku, perasaanku pada jendral muda Wu Cheng pun telah mati. Segala perasaan suka dan kagumku telah musnah seiring dengan besarnya niatku membalaskan dendam atas rasa sakit dan penderitaan yang ku alami.
Memanfaatkan kondisi dua keluarga yang tengah dilanda masalah jelas akan memberi pukulan yang sangat berat, terlebih sejarah pengkhianatan mereka dan kesialan yang menimpa mereka akan di catat dalam catatan sipil agar semua orang mengetahui kejahatan mereka kelak di masa mendatang.
"Ayahanda kapan ini selesai, semakin lama kita menunda, maka ini akan semakin membosankan" keluhku yang di angguki kaisar Wei
"Jatuhkan hukumannya sekarang! Zhen punya banyak pekerjaan!" titah kaisar Wei tanpa bantahan.
**Crass!
Crass!
Crasss**!
Hukuman penggalpun di jatuhkan kepada seluruh pejabat, bangsawan dan tuan muda dari keturunan mereka, sedangkan untuk para nyonya dan nona yang merupakan putri mereka di paksa meminum racun mematikan.
Bau anyir darah menguar hebat bersama dengan hembusan angin kencang. Meskipun pemandangan di depanku sangat mengerikan dan menjijikan, hal itu tak lantas membuatku merasa iba ataupun merasa pusing dan mual. Aku masih tetap bertahan menyaksikan proses kematian Ma Xiao Qing secara perlahan, musuh terbesarku kini perlahan jatuh tersukur di tanah dengan kedua mata melotot tajam. Hanya dalam beberapa detik racun tersebut memasuki tubuhnya, pada akhirnya semua nyonya dan nona muda yang meminumnya merenggang nyawa sama seperti Ma Xiao Qing.
Ada perasaan lega saat aku berhasil membalaskan dendamku di kehidupan sebelumnya dengan kematian mereka, ada rasa syukur pula yang kurasakan karna berhasil melindungi keluarga kerajaan Zhang meskipun semua yang ku lakukan tak sepenuhnya aku sendiri yang mengerjakan. Keberhasilan ini kuraih berkat bantuan Ayahanda kaisar dan putra mahkota Liang yang turut andil.
Baik Ma Mei Rong yang mati karna pendarahan di tengah jalan menuju menara penyiksaan, atau perdana mentri Dong, perdana mentri Ming dan jendral muda Wu Cheng yang di jatuhi hukuman penggal, serta Ma Xiao Qing dan Cai Ning yang berakhir dengan racun yang mengakhir hidup mereka, semua itu berkat bantuan Ayahanda kaisar dan putra mahkota Liang. Jika saja tanpa mereka, aku tak bisa menyelesaikannya secepat ini.
"Yang Mulia, kita apakan mayat - mayat mereka?" tanya seorang prajurit khusus kerajaan.
"Lan'er.. apakah kau punya saran mengenai mayat - mayat mereka?" tanya kaisar Wei pada putri kesayangannya
"Bakar hingga mereka menjadi debu!" kataku dingin dan acuh tak acuh
Beberapa prajurit, baik prajurit khusus kerajaan atau prajurit militer, kasim dan dayang atau putra mahkota Liang yang mendengar perkataanku sangat terkejut.
"Mei mei kau sangat mengerikan!" kata putra mahkota Liang bergidik ngeri.
.
.
.
Dua hari berlalu setelah hari pemusnahan para pengkhianat kerajaan Zhang, selama itu pula putra mahkota Liang dan Ayahanda kaisar Wei di sibukan dengan merombak dan membentuk struktur baru pemerintahan secara besar - besaran. Meskipun kutau apa yang mereka lakukan adalah hal yang wajar menginggat dua perdana mentri yang sangat mencolok dan dominan di kerajaan Zhang telah mati karna kejahatan mereka, tapi hal yang menurutku masih sangat tak wajar dan kejelasan akan beradaannya yang masih ku pertanyakan. Putra mahkota Han Zi Xin. Pemuda itu masih menetap di kerajaan Zhang selama tiga hari terhitung dari waktu kedatangannya. Selama ia berada di kerajaan Zhang, belum ada kejelasan yang pasti mengenai kedatangannya kemari.
"Jika kau penasaran, maka tanya saja pada putra mahkota Xin secara langsung!"
Saran putra mahkota Liang tiba - tiba terngiang di benakku, seketika aku mempertimbangkan saran tersebut karna rasa penasaranku yang teramat besar.
"Haruskah aku menemui dan menanyakannya secara langsung?" tanyaku pada diri sendiri
"Tapi bukankah hubungan kami bisa dikatakan kurang baik, aku masih saja kesal dengan hari dimana ia mengiraku seorang penari topeng"
"Ah sudahlah, rasa penasaranku lebih besar ketimbang rasa kesalku. Aku harus menemui putra mahkota Xin dan menanyakannya sendiri" putusku lantas beranjak bangun dari tidurku, aku lantas segera beranjak turun dari peraduan dan meminta manten bulu rubah putih pada seorang dayang untuk membungku tubuhku. Meskipun hari masih siang, namun udara di akhir musim gugur begitu kencang. Angin yang berhembus menyapu permukaan tanah yang menghantarkan debu dan dedaunan yang bergugurang terbang tak tentu arah.
"Yang mulia tuan putri, anda hendak kemana?" tanya Bo Qing ketika melihat junjungannya keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lengkap mengingat hawa musim dingin perlahan mulai terasa.
__ADS_1
"Aku ingin mengunjungi tempat putra mahkota Han Xi Zin, ada hal yang ingin kutanyakan" jawabku yang membuat Bo Qing mengangguk
"Hamba akan menemani anda" putus Bo Qing yang membuatku sedikit termenung.
"Apakah kak Bo Qing hari ini tak latihan bersama Ah Ke?" tanyaku yang dibalas gelengan oleh Bo Qing.
"Yang mulia putra mahkota Liang saat ini terlalu sibuk mengurus dan mengelolah penerintahan yang sebentar lagi akan terbentuk struktur baru sehingga kami di liburkan dalam beberapa hari" jawab Bo Qing yang membuatku mengangguk
"Kalau begitu mari kita pergi sekarang" putusku melangkah lebih dulu dan di susul Bo Qing dan para rombongan kasim dan dayang yang juga mengekor di belakangku.
"Kakak Bo Qing apakah kau tak berniat mendaftar prajurit kerajaan? Ku dengar pendaftaran prajurit tingkat rendah, menengah, tinggi dan bahkan untuk posisi wakil jendral akan dibuka" kataku
"Tapi hamba adalah pengawal anda saat ini yang mulia" jawab Bo Qing yang membuatku menghentikan langkahku dan berbalik menatap Bo Qing
"Kakak Bo Qing takut semua orang akan beranggapan jika nanti kakak Bo Qing berhasil masuk dalam pasukan militer, semua orang akan berpikiran buruk mengenai keberhasilan kakak ada campur tanganku?" tanyaku yang di angguki Bo Qing
"Itu adalah salah satu alasan yang mulia" jawab Bo Qing
Aku lantas berbalik dan kembali melanjutkan langkahku yang tertunda sembari berkata "Lakukan saja apa yang kakak Bo Qing suka, mendaftarlah jika memang kakak Bo Qing merasa terpanggil memasuki pasukan kerajaan" jedaku "Tak perlu mendengar apa kata orang - orang mengenai keberhasilan kakak Bo Qing ada campur tanganku atau tidak, yang perlu kakak Bo Qing lakukan hanyalah memberi mereka pembuktian jika kakak Bo Qing berhasil dengan usaha kakak Bo Qing sendiri" tambahku
"Anda benar yang mulia, hati hamba merasa terpanggil, namun hamba masih tetap pengawal anda saat ini" kata Bo Qing
"Kakak Bo Qing, kau tak selamanya akan terus bersamaku, ada akan waktu dimana aku akan melepas kakak Bo Qing. Entah itu karna aku akan menikah, atau kakak Bo Qing ingin mengejar kebahagiaan kakak. Cepat atau lambat waktu itu akan datang, maka sebelum hal itu terjadi, mengapa kakak Bo Qing tak mencoba mendaftar terlebih dahulu, masalah kakak lulus dan masih bekerja menjadi pengawal pribadiku itu adalah urusan belakangan" saranku yang di angguki Bo Qing.
Bo Qing merasa perkataan tuan putrinya benar, ada baiknya ia segera menyiapkan masa depannya dari sekarang, terlebih ia tahu sebentar lagi akan ada putra mahkota Xin yang akan menjaga putri Zhang Mu Lan kelak di masa mendatang. Baik kaisar Wei, putra mahkota Liang ataupun ia sekalipun akan menyerahkan tugas dan tanggung jawab mereka atas keselamatan dan hidup putri Zhang Mu Lan pada putra mahkota Xin sepenuhnya.
Ah.. rasanya waktu begitu cepat berlalu, tak terasa masa pengabdiannya pada putri Zhang Mu Lan akan berakhir. Tak mampu Bo Qing pungkiri jika ia merasa sedih, mungkin karna ia sudah menganggap putri Zhang Mu Lan sebagai saudari kandungnya, atau karna tak pernah mendapat perlakuan baik dari juragan dan tuan - tuan tempat ia bekerja dulu. Meskipun ia merasa sedih, secara bersamaan ia juga merasa senang dan bahagia, sebab ia berpikir ketika putri Zhang Mu Lan telah menemukan kebahagiaannya maka ia pun turut bahagia. Hanya saja yang perlu ia pikirkan sekarang adalah membuat persiapan untuk masa depannya sendiri.
.
.
.
Putra mahkota Xin berdehem dan membasahi tenggorokannya dengan salivanya, ia berusaha keras memikirkan banyak cara untuk menghilangkan kecanggungan antara dirinya dan putri Zhang Mu Lan. Pada akhirnya, setelah mengumpulkan keberanian yang memakan waktu lama, ia pun bersuara "Ada hal apa yang membuat putri Zhang Mu Lan datang kemari secara tiba - tiba?" tanya putra mahkota Xin masih dengan suara yang terdengar canggung.
Aku yang mendapat pertanyaan tersebut lantas mengerjap sesaat sebelum menjawab "Hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku" jawabku "Apa alasan dan tujuan anda kemari, yang mulia putra mahkota Han Zi Xin?" tanyaku "Aku sudah menanyakan hal ini pada Ayahanda kaisar, Ibunda permaisuri, atau bahkan pada Gege Liang, namun mereka tak memberiku jawaban yang ku butuhkan. Akhirnya aku datang kemari menanyakannya secara langsung, itupun setelah aku mempertimbangkan saran dari gege Liang" tambahku langsung pada intinya.
Awalnya putra mahkota Xin cukup terkejut dengan kedatangan putri Zhang Mu Lan, terlebih kedatangannya kesini menanyakan alasan dan tujuannya secara terang - terangan tanpa berbasah basih terlebih dahulu. Putra mahkota Xin tahu jika memang akan terasa sangat aneh jika ia mendatangi kerajaan Zhang padahal ia baru saja pulang ke kerajaannya beberapa waktu lalu dalam waktu yang sangat singkat. Ia mendesah, nampaknya rasa penasaran putri Zhang Mu Lan kini membuatnya mau tak mau harus membicarakannya dengan jujur berdua saja, selain ia ingin tahu respon putri Zhang Mu Lan, ia juga sebenarnya tak bisa berbasah basih di saat ia di landa gugup seperti ini.
"Kedatanganku kemari ingin melamar putri Zhang Mu Lan secara resmi. Aku sudah memberi tahu yang mulia kaisar Wei, permaisuri Yin Ying atau bahkan putra mahkota Liang saat terakhir kali sebelum aku kembali ke kerajaan Han, sebelum melamarmu secara resmi aku meminta mereka merahasiakannya. -- jeda putra mahkora Xin membasahi tenggorokannya yang tiba - tiba terasa kering -- Tak kusangka, karna hal ini membuatmu kepikiran, maafkan aku" tambahnya yang sangat membuatku terkejut.
"A-apa? Me-melamar?" tanyaku gagap
"Yah aku datang melamar cinta pertamaku!" balas putra mahkota Xin
"Apakah kau ingat 5 tahun yang lalu saat kau menyelamatkan pemuda di pinggir sungai?" tanya putra mahkota Xin yang jelas ku angguki, aku masih memgingat kejadian itu dimana untuk pertama kalinya aku rela merobek pakaian mahalku demi menolang pemuda yang tengah terluka di saat aku tengah berlatih Qin di dekat sungai.
"Apa hubungannya kejadian 5 tahun itu dengan kedatangan anda melamarku?" tanyaku bingung saat tak menemukan hubungan kejadian tersebut dengan kedatangan putra mahkota Xin
"Tentu saja ada hubungannya" jawab putra mahkota Xin "Aku pernah bersumpah dan berjanji akan menikahi gadis yang menolongku waktu itu. Aku telah mencarinya 3 tahun terakhir dan sangat tak menyangka jika gadis itu adalah anda, putri Zhang Mu Lan. Maaf sebelumnya, aku sungguh tak menyangka gadis itu adalah anda karna perubahan penampilan anda yang sangat mengejutkan dan membuatku kesulitan mengebali anda" tambah putra mahkota Xin merasa sedikit tidak enak karna mengungkit - ungkit penampilan putri Zhang Mu Lan dulu.
"Apakah anda datang melamarku hanya karna ingin memenuhi sumpah dan janji anda?" tanyaku yang entah mengapa tidak suka dengan alasan lamaran putra mahkota Xin meskipun aku bahkan belum memberi jawaban apapun
Dengan cepat putra mahkota Xin menggeleng seraya menyangkal pertanyaan putri Zhang Mu Lan, ia lalu berkata "Awalnya aku berpikir menikahi anda hanya untuk memenuhi janjiku, tapi kini kusadar jika aku menyukaimu" kata putra mahkota Xin menatapku dengan tatapan sungguh - sungguh.
__ADS_1
"Aku menyukai anda, putri Zhang Mu Lan dan itu sejak 5 tahun yang lalu dan sampai sekarang dihatiku hanya ada anda" aku putra mahkota Xin yang entah mengapa membuat jantungku berdebar.
**Deg.
Deg.
Deg**.
"Putri Zhang Mu Lan, menikahlah denganku" pinta putra mahkota Xin yang langsung membuatku menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipiku.
Seharusnya aku datang kemari hanya ingin tahu alasan dan tujuan kedatangan putra mahkota Xin, bukan untuk mendengar pengakuan dan lamarannya yang sialnya membuatku tersipu malu dan berdebar. Aku tak pernah merasakan hal ini dikehidupanku sebelumnya, meskipun kala itu aku berhasil bersama jendral muda Wu Cheng. Aku tak pernah merasakan debaran yang terasa asing ini, meskipun dulu aku mengakui begitu mencintai jendral muda Wu Cheng. Mungkinkah karna saat itu perasaanku tak terbalas, atau karna dulu aku masih sulit membedakan perasaan kagum dan suka? Entahlah yang ku tahu saat ini, aku hanya dilanda dengan kebingungan dan gugup secara bersamaan.
"Apakah anda menerima lamaranku?" tanya putra mahkota Xin cemas.
Aku tersentak berkat pertanyaan putra mahkota Xin, aku lantas mendongak sesaat menatap wajahnya yang nampak begitu gugup menanti jawabanku, tapi aku hanya menatapnya sesaat sebelum aku kembali menundukan kepalaku seraya berpikir mengenai jawaban apa yang akan ku berikan.
"Ta-tapi umurku masih 14 tahun" kataku yang baru saja membuatku terkejut saat kusadari jika perkataanku itu sama saja dengan mengiyakan lamaran putra mahkota Xin.
Aku mengutuk diriku saat menyadari perubahan raut wajah putra mahkota Xin, dari ekor mataku ku lihat pemuda itu nampak tersenyum dan senyumnya berhasil membuatku terpaku.
"Aku akan menunggu hingga usia anda genap 15 tahun, bukankah itu tinggal beberapa bulan lagi?" tanyanya yang langsung ku angguki
Aku memutar kepalaku seraya mencari alasan menghindar, dan dengan spontan aku berkata "Tapi anda tahu jika semua rencana pemusnahan para pejabat itu adalah pintaku. Aku adalah gadis yang kejam dan dingin, bukankah semua pemuda menginginkan gadis yang lemah lembut?" kataku yang membuat putra mahkota Xin tersenyum miring
"Apakah sekarang anda berusaha menghindar dan menolakku padahal sebelumnya pertanyaan anda masalah usia seakan mengiyakan lamaranku?" tebak putra mahkota Xin yang membuatku menghindari tatapannya dengan memandang segala arah
"Putri Zhang Mu Lan, aku bukan mereka yang ingin memiliki istri yang lemah lembut. Aku hanya ingin anda dan memiliki anda sepenuhnya, tak peduli anda kejam sekalipun karna bagiku, dimataku anda hanyalah calon ibu dari anak - anakku, juga calon permaisuri kecilku yang mungkin sedikit kejam" kata putra mahkota Xin tulus
Aku yang mendengar itu lantas terpaku, kupandangi putra mahkota Xin dengan tatapan dalam seraya mencari kebohongan di kedua matanya, namun aku tak menemukan hal yang ku cari. Hal yang ku temukan malah hal yang sebaliknya, dalam matanya hanya ada sebuah kejujuran dan ketulusan.
"Karna anda begitu bersikukuh, maka jadikan aku permaisuri kecil anda yang kejam" putusku yang membuat putra mahkota Xin dengan tanpa sadar melompat saking senang.
Melihatnya bertingkah demikian ada perasaan hangat yang kurasakan. Aku tak tahu perasaan apa yang kurasakan, saat ini jelas aku tahu aku belum menyukainya seperti ia yang setia menyukaiku hingga menghabiskan waktu 5 tahunnya menunggu dan mencariku, tapi satu hal yang ku tahu, berada di dekatnya entah mengapa aku merasa nyaman.
.
.
.
.
.
**THE END
Sabtu 29 Agustus 2020
Author Note :
Akhirnya cerita Permaisuri Kecilku Yang Kejam 'Tamat' 🤧🤧. Terimakasih atas dukungan seluruh para pembaca yang masih setia menunggu dan menanti cerita ini, jujur tanpa kalian cerita ini tidak akan ada apa - apanya, jadi aku sungguh mengucap banyak terima kasih meskipun ucapanku ini tak sebanding kesabaran kalian ðŸ˜ðŸ˜
Sejujurnya bab ini bukanlah akhir dari ceritanya, sebab masih ada bab - bab selanjutnya hingga Epilog dan Extra part, namun karna ceritanya bakal ku ebookan segera dan rampung pertengahan bulan depan, jadi versi lengkapnya hanya ada di ebooknya. Jika para pembaca ingin baca versi lengkapnya, maka silahkan beli ebooknya di google play store dengan cukup share "Baekhyun_G" maka semua karya saya akan muncul 💙
Mungkin hanya sekian, sampai jumpa di lain waktu dan lain kesempatan. ILY 💙**
__ADS_1