
Langit sore perlahan berubah menjadi gelap. Warna biru tua kehitam - hitaman pun mulai menghiasi langit malam kerajaan Zhang. Aku menatap setiap lembar kertas berisi semua coretan tulisan tanganku. Dalam setiap lembar tertuliskan sangat detail mengenai kejadian - kejadian yang akan aku ataupun keluarga kerajaan Zhang hadapi.
Aku mendesah lelah, nampaknya aku perlu beristirahat. Saat ini aku baru saja pulang dari ruang kerja Ayahanda kaisar. Selama beberapa jam lamanya aku menceritakan semua yang ku alami atau mungkin semua yang ku mimpikan pada Ayahanda kaisar Wei yang hanya terus mendengar sederet kalimat panjang mengenai kejadian - kejadian yang akan menimpa kami. Aku tahu aku telah melanggar hukum alam karna telah memberitahu bocoran masa mendatang pada Ayahanda, jika kelak langit akan menuntut pilihanku menyebar rahasian alam dan menentang takdir, maka aku akan bertanggung jawab akan hal itu dan menerima konsokuensi apapun di alam baka nanti.
Aku hanya berniat memberi Ayahanda sebuah peringatan dini agar kelak ia melakukan persiapan. Entah Ayahanda kaisar Wei akan percaya atau tidak, yang terpenting aku sudah memberi tahunya. Masalah kedepannya, aku akan memikirkan banyak rencana. Mulai dari rencana pembalikan serta rencana cadangan dan alternatif lainnya jika sewaktu - waktu kejadian yang akan kami alami seketika datang secara cepat karna perputaran waktu yang sangat jauh berbeda, atau saat kejadian - kejadian itu datang secara acak.
Aku beranjak bangun dari dudukku. Aku lalu melangkah menuju peraduan dan merebahkan tubuhku di atas kasur empukku. Aku menatap langit - langit kamarku seraya kembali berpikir, kejadian - kejadian yang ku alami 2 tahun mendatang begitu mengerikan. Semua yang ku miliki hilang di tangan pria yang begitu ku puja. Keluargaku, kekuasaan, abdi setia, dan segala hal yang merupakan milikku di rebut paksa olehnya, dan satu hal yang kusadari adalah bahka saat itu aku terlalu lemah dan buta oleh perasaan dan cinta yang selama ini ku agung - agungkan.
"Usiaku masih 14 tahun, namun keadaan memaksaku tumbuh menjadi dewasa dan kejam begitu cepat" desahan kembali keluar dari bibirku. Di kehidupan yang sekarang, terlalu banyak beban yang ku pikul. Aku tahu aku tak pantas mengeluh, bagaimanapun semua beban yang ku pikul adalah buah dari kesalahanku di masa mendatang. Dan saat ini aku tengah membayarnya dan menebusnya.
"Yang mulia putri, yang mulia permaisuri ingin bertemu..."
Suara kasim di luar kamarku yang baru saja mengumumkan kedatangan Ibunda permaisuri menyentakku dari lamunan. Aku dengan cepat beranjak bangun dan mendudukan diriku di atas peraduan sebelum berkata "Buka pintunya!" perintahku.
Sosok cantik ibunda permaisuri menyapa penglihatanku, aku dengan cepat beranjak turun dari peraduan dan menghampiri wanita yang masih nampak cantik di usianya yang tak lagi muda.
"Salam hormat hamba pada ibunda permaisuri" kataku saat telah berada di hadapan wanita yang bahkan hingga akhir hayatnya dalam ingatanku tak menyalahkanku atas apa yang telah ku perbuat.
"Bangunlah Lan'er" pinta Ibunda membantuku bangun dan menegakan kembali tubuhku.
Aku hanya terkekeh lantas memeluk wanita yang begitu mencintai dan menyayangiku dengan erat. Aku semakin terlena dalam pelukan ibunda permaisuri, pelukannya terlalu nyaman hingga aku terbuai oleh kehangatan dari balasan pelukannya, juga aroma parfumnya yang begitu menenagkan.
__ADS_1
"Lan'er ada apa?" tanya ibunda permaisuri Yin Yin
Aku hanya tersenyum di dalam dekapan permaisuri Yin Yin, lalu berkata "aku tidak apa - apa, hanya ingin memeluk Ibunda saja" jawabku
"Ibunda pikir kau juga turut sakit seperti gegemu, karna hari ini kau nampak sangat bermanja" kata permaisuri Yin Yin sedikit lega.
"Bahkan tanpa aku sakit pun, mulai sekarang dan kedepannya aku akan terus bermanja dengan Ayahanda, Ibunda dan Gege" gumamku
.
.
.
Gadis itu adalah Mei Rong. Saat ini ia menyelinap keluar dari kediamannya saat jam pergantian, sehingga ia bisa dengan mudah keluar dari kediamannya saat pengawal dan penjagaan dirumahnya tengah lengah. Ini bukan kali pertamanya ia keluar dari kediamannya, ia sudah sering keluar dan saking seringnya ia telah hafal.
Andai saja ia tak melakukan penyamaran saat ini, mungkin ia akan dengan mudah di kenal. Bagaimanapun ia merupakan gadis cantik ibukota Zhang yang begitu di puja banyak pemuda, selain itu keluarganya cukup terkenal karna jabatan perdana mentri Dong juga karna saudarinya Ma Xiao Qing yang dulunya merupakan bunga ibukoata Zhang karna kecantikan dan kecerdasannya.
Walaupun saat ini rumor mengenai kecantikan putri kerajaan Zhang masih tersebar dan hangat di perbincangkan, Mei Rong yang tengah berjalan sendiri membela dinginnya angin malam percaya jika rumor itu tak akan mampu menghapus rumor kecantikannya yang selama bertahun - tahun telah begitu di kenang seluruh penduduk ibukota Zhang.
Suara keramaian menyentak lamunan Mei Rong, ia lantas mendongak saat menyadari ia telah sampai di pusat ibukota kerajaan Zhang yang masih saja nampak ramai walaupun hari telah beranjak malam dan sebentar lagi akan menyambut larut malam.
__ADS_1
Kerlap kerlip dari lampu lampion menerangi sepanjang jalan raya ibukota kerajaan Zhang, suara teriakan pedagang yang berjajar di pinggir jalan menggema, aroma makanan lezat menguar di udara dan masuk kedalam indra penciumannya. Jika saja saat ini ia tak akan menemui seseorang yang sangat begitu penting, mungkin ia akan singgah di beberapa pedagang makanan tengah malam untuk mengisi perutnya yang seketika meronta.
Mei Rong mendesah seraya melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, ia lalu melangkah dengan cepat menerobos kerumunan orang - orang yang berlalu lalang pada malam hari. Hingga usahanya membuahkan hasil saat iya tiba di sebuah restoran dan juga merupakan sebuah penginapan yang sangat mahal di ibukota Zhang.
Saat Mei Rong melangkah masuk, seorang pelayan langsung menghampirinya dan bertanya "Apakah anda nona muda Ma?" Mei Rong hanya membalasnya dengan anggukan, dan dengan cepat pelayan itu berkata "Biarkan pelayan ini menunjukan jalan, tuan muda Wu telah lama menunggu" katanya menuntun Mei Rong pada sebuah ruangan pribadi yang ada di lantai dua restoran tersebut.
Setelah menaiki anak tangga dan berjalan hingga di ujung koridor, pelayan yang menuntun Mei Rong pun berhenti pada sebuah pintu ruangan pribadi restoran. Pelayan itu lantas berkata "ini adalah ruangan tuan muda Wu, apakah pelayan ini perlu mengumumkan kedatangan anda?" tanyanya dengan sangat hati - hati karna takut bersinggungan dengan putri perdana mentri Dong yang di kenal cukup sombong karna kepopulerannya di kalangan para pemuda ibukota Zhang.
"Tidak perlu, kau cukup membukakan pintu untukku" jawab Mei Rong dingin dan terdengar tidak bersahabat.
Pelayan itu lantas meringis seraya meminta maaf, sebelum ia membukakan pintu untuk Mei Rong dan membuat pemuda yang berada di dalam ruangan lantas memfokuskan tatapannya kedepan. Raut wajah yang tadinya nampak datar dan dingin lantas berubah, sebuah senyum menghiasi wajahnya dan tak berselang berapa lama ia menghampiri Mei Rong saat ia telah masuk kedalam ruangan dan berkata "Mengapa kau lama sekali membuat kekasihmu menunggu?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Rabu, 27 Mei 2020**