
Putra mahkota Liang mengerjap sesaat sebelum berkata "Mei mei bagaimana bisa kau ingin menyembunyikan lukisanku di belakang lemari pakaianmu, lukisanku bisa saja rusak jika ruangannya terlalu sempit" protes putra mahkota Liang.
"Gege aku tak mungkin ingin merusak lukisanm, terlebih aku tahu melukis perlu kesabaran, konsentrasi dan waktu" kataku "Dari pada gege terus berpikiran buruk tentangku, mengapa menyimpan lukisan gege terlebih dulu di lantai dan membantu menggeser lemari itu" tambahku sambil menunjuk lemari yang ada di hadapanku dengan dagu.
Putra mahkota Liang awalnya ragu, namun pada akhirnya pun menuruti perkataanku dengan menaruh lukisannya sebelum mulai membantuku menggeser lemari dihadapan kami. Butuh waktu untuk kami menggeser lemari tersebut, hingga akhirnya kami berhasil membuat cela yang cukup muat untuk satu orang.
Aku lantas berjalan menuju cela seraya mencari sesuatu yang harus ku tekan sebelum dinding dihadapanku bergeser. Aku meraba - raba permukaan dinding di hadapan dan juga di sampingku, hal itu tentu saja membuat putra mahkota Liang bingung. Ia lantas berkata "Mei mei apa yang kau lakukan?" tanyanya
"Apakah kau membersihkan dinding itu dengan lengan bajumu?" tanya putra mahkota Liang lagi dengan kedua mata memincing curiga.
"Gege berhentilah berburuk sangaka padaku, aku tengah mencari sesuatu" balasku.
Aku lantas berhenti meraba permukaan dinding dengan gusar, aku sama sekali tak menemukan tombol yang harus ku tekan. Aku lantas menunduk lesu menatap permukaan lantai kayu ruangan pakaianku. Bayangnya kejadian terakhir sebelum permusnahan keluarga kerajaan Zhang kembali berputar, saat itu Ayahanda kaisar menarikku paksa menuju ruangan ini saat aku berhasil kabur dari kediaman Wu saat tahu jika jendral muda Wu Cheng akan menjadikanku sandra untuk mengancam keluarga kerajaan.
Karna terlalu panik, aku tidak terlalu memperhatikan Ayahanda kaisar lakukan. Saat itu aku hanya melihatnya berjongkok dan .. -- tunggu, berjongkok?
Seakan mendapat jawaban dari kegusaranku, aku lantas berjongkok mencari sesuatu pada lantai. Putra mahkota Liang yang penasaran dengan apa yang ku lakukan lantas menghampiriku dan mengamati aku yang mulai memperhatikan permukaan lantai kayu, semua potongannya nyaris sama, hanya ada satu potongan kayu lantai dekat dinding nampak berbeda dari potongan kayu lantai lainnya. Aku mengetuk permukaan kayu untuk mendengar suara ketukan, suara "tok tok"terdengar nyaring saat aku mengetuknya. Lalu aku pun mengetuk kayu dengan potongan berbeda, suara ''tuk tuk" lantas yang keluar.
"Mengapa kayu itu menghasilkan suara berbeda?" tanya putra mahkota Liang padaku
"Karna kayu ini tidak terpaku dan memiliki ruang, sehingga ia menghasilkan suara yang berbeda" jawabku lantas membuka potongan kayu itu pada lantai dan berhasil membuat putra mahkota Liang terkejut karna apa yang ku katakan benar.
Dibalik potongan kayu itu terdapat sebuah ruangan kecil, ruangan itu berisi tombol yang akan membuka pintu rahasia yang berada di depanku. Aku lantas menekan tombol yang berada disana, seketika dinding di hadapankupun bergeser kesamping hingga membuat putra mahkota Liang cukup terkejut.
Sebuah ruangan berisi peraduan dan satu set kursi dan meja yang berada tengah diruangan menyapa kami, pemandangan yang nampak di hadapanku masih sama persis saat pertama kali aku dibawa kemari oleh Ayahanda kaisar. Tempat itu masih sama dengan perabot yang masih berada di tempatnya, seketika air mataku menetes membasahi pipiku saat menatap tempat rahasia tersebut, hingga pertanyaan putra mahkota Liang menyentakku dari lamunan dan dengan cepat aku menghapus air mataku sebelum ia melihat cairan bening yang baru saja jatuh dari pelupuk mataku.
__ADS_1
"Mei mei dari mana kau tahu ada tempat rahasia disini?" tanya putra mahkota Liang cukup terkejut dan takjub dengan ruangan rahasia tersebut
"Gege tidak perlu tahu!" jawabku
Putra mahkota Liang lantas berdecak, ia lalu berkata "Semenjak kau tersadar dari saat insiden jatuhmu beberapa hari yang lalu, kini kau mulai menyimpan banyak rahasia tanpa sepengetahuanku bahkan ayahanda ataupun ibunda"
"Dibanding dengan rasa penasaran gege tentang semua rahasia yang kutau, alangkah baiknya jika gege segera menyimpan lukisan gege disini dan menepati janjimu" balasku yang langsung membuat putra mahkota Liang mendengus.
.
.
.
Tak terlepas dari keramaian penduduk kerajaan Zhang yang masih berlalu lalang di jalan raya setapak ibukota. Seorang gadis muda nampak menerobos kerumunan orang dengan tergesah, langkahnya sangat cepat hingga perlahan kaki mungilnya pun memelan saat mencapai restoran bertingkat yang ada di tengah ibukota kerajaan Zhang.
Gadis itu adalah Ma Mei Rong. Beberapa hari yang lalu ia mengirim surat pada jendral muda Wu Cheng yang baru saja pulang dari perbatasan untuk bertemu dengan alasan ia sangat merindukan kekasihnya itu. Pagi tadi Ma Mei Rong mendapat balasan surat dari jendral muda Wu Cheng yang mengatakan ingin bertemu dengannya malam ini. Tentu saja dengan semangat dan di liputi oleh perasaan senang, Ma Mei Rong kembali keluar dengan sembunyi - sembunyi dari kediaman Ma untuk ke sekian kalinya, ia tentu saja berhasil keluar dengan mudah hingga mencapai restoran tempat biasa ia saling bertemu.
Ma Mei Rong melangkah memasuki restoran, kehadirannya lantas segera di samput oleh seorang pelayan yang langsung bertanya "apakah anda nona Ma?" tanya pelayan itu yang langsung di angguki oleh Ma Mei Rong di balik kain satin hitam yang menjuntai dari tudung kepala yang ia kenakan.
"Tuan Wu telah menunggu anda" katanya "mari pelayan ini mengantar anda menuju ruanga" tambahnya lalu menuntun Ma Mei Rong menuju ruangan pribadi yang telah di pesan oleh jendral muda Wu Cheng yang berada di lantai dua.
Ma Mei Rong menaiki satu persatu anak tangga, saat mencapai anak tangga terakhir, ia pun kini mulai berjalan di sebuah koridor panjang dan saat mencapai pertigaan, pelayan restoran itu lantas menuntunnya berbelok ke kanan dan melangkah menyusuri koridor panjang lagi hingga ia mencapai sebuah pintu ruangan yang berada di ujung.
"Nona Ma, ini adalah ruangan tuan Wu" kata pelayan itu "Haruskah pelayan ini mengumumkan kedatangan anda?" tanya pelayan itu
__ADS_1
Ma Mei Rong hendak mengangguk dan menyetujui perkataan pelayan itu hingga suara desahan samar menyapa indra pendengaran Ma Mei Rong yang berada di hadapan pintu ruangan.
"pe--pelan, ahk.. pe --pelan"
Suara desahan seorang wanita jelas menyapa indra pendengaran Ma Mei Rong. Seketika amarah mulai menguasai Ma Mei Rong yang seketika mengambil kesimpulan jika jendral muda Wu Cheng tengah berselingkuh dan kini ia tengah menjamah wanita lain.
Dengan perasaan marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu, Ma Mei Rong membuka pintu dengan paksa hingga menghasilkan suara 'bruk!' yang cukup keras dan berhasil mengejutkan jendral muda Wu Cheng dan seorang wanita yang saat ini meninding jendral muda Wu Cheng dengan pakaian wanita itu telah melorot hingga pinggang dan menampakan dadanya yang tak terhalang apapun.
Melihat kedatangan Ma Mei Rong yang tanpa di sangka jendral muda Wu Cheng yang kini berada di bawah wanita yang bersamanya, ia dengan cepat bangun dan mendorong wanita yang duduk tepat di atas keperkasaannya hingga wanita itu tersungkur jatuh dan mengerang kesakitan.
"Mei Rong, aku bisa jelaskan"
.
.
.
.
.
**TBC
Rabu, 10 Juni 2020**
__ADS_1