
Mei Rong mengabaikan perkataan jendral muda Wu Cheng, ia lantas melangkah memasuki ruangan dengan langkah cepat ia pun kini telah berada di hadapan wanita berusia sekitar 19 tahun yang masih terduduk di atas lantai dengan pakaian yang masih melorot sehingga menampakan buah dadanya yang membuat Mei Rong iri dalam hati karna tak memiliki buah dada yang sama besar.
Mei Rong lantas menggeleng, ia menggeleng seraya mengenyahkan pikirannya yang sempat terbesit rasa iri pada wanita menjijikan yang telah merayu kekasihnya. Tatapan mata Mei Ron kini berubah dingin, ia lantas berjongkok tepat di hadapan wanita itu dan...
Plak!
Mei Rong memberinya satu tamparan di pipi kanan wanita itu, wanita itu lantas meringis dan memegang pipi kanannya yang terasa panas dan berdenyut. Wanita itu lantas mentapa Mei Rong dengan tatapan tajam, sayangny Mei Rong sama sekali tak gentar ataupun takut dengan tatapan yang di berikan wanita itu.
"Apa yang kau lakukan, mengapa kau memukulku?" teriak wanita itu tak terima dengan perlakuan Mei Rong.
Mei Rong sama sekali tidak menjawab, ia kembali melayangkan satu tamparan di pipi kiri wanita itu dengan keras dan kejam. Bahkan baik pelayan yang mengantar Mei Rong, atau pun jendral muda Wu Cheng yang menyaksikan kejadian itu lantas meringis mendengar suara tamparan Mei Rong yang begitu keras.
"Kau--"
Plak!
Mei Rong kembali memberi wanita itu tamparan setiap kali ia membuka mulut, Mei Rong lantas beranjak bangun saat wanita itu hendak menerjangnya, alhasil wanita itu tersungkur jatuh di atas lantai restoran yang terbuat dari kayu dengan kasar.
Suara ringisan dan rintihan kesakitan lolos dari bibir wanita itu yang kini salah satu ujungnya telah sobek akibat tamparan gadis muda 15 tahun yang kini menindas dan menganiayanya. Wanita itu beranjak bangun dengan susah payah, ia lantas merapikan pakaiannya terlebih dahulu sebelum berbalik dan ingin memukul gadis yang lebih muda darinya.
__ADS_1
Wanita itu dengan nyalang mentapa Mei Rong yang juga menatapnya sama nyalangnya, wanita itu lantas menyerang Mei Rong namun berhasil di hindari oleh Mei Rong. Wanita yang mendapat pukulan darinya lantas geram, ia kembali membalikan tubuhnya dan hendak kembali menerja Mei Rong namun lagi - lagi Mei Rong lebih gesit menghindar namun salah satu kakinya berhasil mencekal langkah wanita itu hingga wanita itu kembali jatuh menghempas permukaan lantai dengan buah dadanya yang lebih dulu menghempas lantai.
"Ahk!"
Wanita itu meringis kesakitan, ia beranjak bangun dan mendudukan dirinya dengan cepat dan segera memeriksa kedua buah dada besarnya yang kini di landa sakit dan nyeri. Jendral muda Wu Cheng saja yang menyaksikannya lantas meringis merasakan betapa ngilu dan sakitnya yang wanita itu rasakan.
"Aset berhargaku" kata wanita itu sendu
Mei Rong yang mendengar itu lantas melangkah dan berdiri tepat di depan wanita itu, ia lantas berjongkok di depan wanita itu dan meraih rahangnya dan meremasnya dengan kuat hingga wanita itu memekik kesakitan. Tatapan mata Mei Rong sangat dingin, tak ada belas kasih ataupun ia yang ia rasakan, sebab yang ada dalam pancaran mata Mei Rong hanya ada tatapan marah dan kebencian yang tergambar jelas.
"Aku tak tahu, selain buah dadamu yang besar, dari mana rasa kepercayaan dirimu itu datang hingga berani menggoda kekasihku" kata Mei Rong tajam.
"Kau sama sekali tidak cantik, bahkan kau bukan dari keluarga terpandang. Tapi mengapa kau berani - beraninya menyentuh kekasihku, hah!" teriak Mei Rong berang
"Jendral muda Wu Cheng hanya milikku, dan aku tak akan membiarkan siapapun memilikinya selain aku. Jika kau berani kembali menggodanya, aku pastikan aset berhargamu itu lenyap" bisik Mei Rong tepat di hadapan wajah wanita itu, tatapan matanya dalam beberapa saat memancarkan kilatan kekejaman dan niat membunuh, dan dari nada suara yang ia berikan sudah sangat jelas menjelaskan jika ia tengah mengancam wanita di hadapannya.
"Kau harus tahu dimana tempat dan posisimu, wanita ****** sepertimu tak pantas bersanding dengan kekasihku" tambah Mei Rong membuang wajah wanita itu dari cengkramannya dengan kasar.
"Pelayan, seret wanita itu keluar. Aku tak ingin melihat wajah menjijikannya berada di hadapanku!" perintah Ma Mei Rong mutlak.
__ADS_1
"Mei Rong" panggil jendral muda Wu Cheng saat kekacauan yang baru saja terjadi telah di bereskan
"Aku bisa menjelaskannya" kata jendral muda Wu Cheng berusaha membela diri.
Jendral muda Wu Cheng mendengus dalam hati, andai saja ia tak memiliki ambisi yang sama dengan Ma Mei Rong, andai saja ia tak memiliki rencana memanfaatkan kedekatan Ma Mei Rong dengan putri Zhang Mu Lan, andai saja ia tak memikirkan keuntungan yang akan ia dapat ketika mendapatkan dukungan penuh dari Ma Mei Rong dan keluarga Ma dan para kediaman lain yang turut menjadi pendukung keluarga Ma, ia tidak akan berpura - pura sebagai korban disini. Jendral muda Wu Cheng tak perlu berpura - pura jika ia tak bersalah padahal ialah yang memanggil dan menggoda wanita itu untuk ia nikmati selama Ma Mei Rong masih dalam perjalanan. Namun siapa yang menyangka, gadis itu datang lebih cepat dari perkiraannya, dan ia memorgoki mereka yang nyaris melakukan penyatuan.
"Mei Rong, aku tidak bersalah. Wanita itu tiba - tiba saja datang dan langsung menerjangku" kata jendral muda Wu Cheng beralasan.
Mei Rong yang awalnya sedari tadi bungkam sambil mengamati pelayan yang membereskan kekacauan yang ada di dalam ruangan hingga selesai lantas menoleh metapa jendral muda Wu Cheng dengan tatapan marah. Kedua tangannya ia lipan di depan dada, ia dengan marah berkata "Aku tak tahu apa yang Cheng gege katakan benar atau tidak, meskipun perkataan Cheng gege itu benar sekalipun, lantas mengapa Cheng gege tak melawan saat ia menerjangmu?" tanya Mei Rong dengan mata memincing curiga.
"Mei Rong kau tahu jika aku tak pernah melakukan kekerasan pada seorang wanita, kecuali padamu ketika memintaku bergerak cepat dan kasar pada lubang kenikmatanmu" kata jendral muda Wu Cheng yang tentu saja sepenuhnya adalah kebohongan, karna nyatanya ia tak hanya meniduri dan melakukan gerakan cepat dan kasar pada Mei Rong saja, ada banyak nona muda dan wanita bayaran yang pernah naik keatas peraduannya dan memberi sebuah kehangatan dan kenikmatan padanya.
Meskipun perkataan jendral Wu Cheng adalah kebohongan, Ma Mei Rong yang begitu dibutakan oleh cinta dan ambisinya menjadi nyonya Wu di kediaman keluarga Wu lantas bersemu merah. Ia merasa terlalu malu mengingat masa - masa di mana ia melakukan percintaan dengan jendral muda Wu Cheng tapi ia meminta kekasihnya itu bergerak cepat untuk memuaskannya.
"Mei Rong, bukankah aku pernah mengatakan jika dihatiku cuma ada kamu. Tolonglah percaya padaku" bujuk jendral muda Wu Cheng yang berhasil membuat Mei Rong mendesah karna pada akhirnya ia tak bisa marah begitu lama pada jendral muda Wu Cheng.
"Aku memaafkan Cheng gege, tapi berjanjilah untuk lebih tegas pada wanita lain sebab Cheng gege adalah milikku. Dan aku akan membuat mereka menderita jika mereka berhasil naik di peraduanmu selain aku" kata Ma Mei Rong dengan kedua matanya memancarkan kilatan kekejaman.
Jendral muda Wu Cheng menatap Ma Mei Rong beberapa saat, ia lantas mulai berpikir dengan menarik Ma Mei Rong di sisinya, akankah Ma Mei Rong bisa mengendalikan emosinya, sebab saat ini sebuah pikiran bahwa Ma Mei Rong akan menghancurkan semua rencananya tiba - tiba terlintas dalam benak jendral muda Wu Cheng. Akankah Ma Mei Rong bisa membantunya mencapai ambisinya atau malah menghancurkan semua rancananya karna nampaknya gadis dihadapannya kini nampak mulai terobsesi dengannya.
__ADS_1
**TBC
Kamis, 11 Juni 2020**