Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Extra part - Bab 81


__ADS_3

Raut wajahnya nampak sangat kecut, aura yang ia keluarkan pun sangat tidak bersahabat. Pria paruh baya yang baru saja memasuki kediamannya adalah perdana mentri Sun Go Yu, ia baru saja pulang ke kediamannya setelah menghadiri rapat pagi di istana Han.


Pria paruh baya itu mendesah, ia telah berjanji pada putri bungsunya untuk mewujudkan mimpinya yang begitu menginginkan bersanding dengan putra mahkota Xin. Lalu apa yang akan ia lakukan sekarang? Baik pangeran Ming ataupun kaisar Zheng sangat menyetujui terjadinya pernikahan antara putra mahkota Xin dan putri Zhang Mu Lan dari kerajaan Zhang. Terlebih pihak kerajaan dengan keras mengancam keselamatan mereka jika masih saja bersikeras menolak dan tidak menyetujui pernikahan antar dua kerajaan ini.


"Ayah akhirnya kau datang!" Suara ceria menyapa indra pendengarannya dan hal itu membuat tubuh perdana mentri Go Yu menegang. Keringat dingin perlahan membasahi keningnya dan dengan susah payah perdana mentri Go Yu menelan salivanya yang terasa sangat menyakitkan.


Sun Yao Yao putri bungsunya itu nampak sangat menanti kedatangannya. Bukannya merasa senang akan sambutan itu, perdana mentri Go Yu malah merasakan firasat buruk dari kedatangan putrinya yang kini berlari menghampirinya hingga pada akhirnya ia berdiri di hadapannya masih dengan menampilkan senyum cerah.


"Ayah, kau pasti menentang pernikahan mereka bukan?" Tanya Yao Yao langsung pada intinya.


Perdana mentri Go Yu mengusap keringatnya kasar, ia lalu berkata "Tentu saja, ta.. tapi --


"Syukurlah, Ayah masih berusaha bersikeras menentangnya. Aku sungguh akan sangat marah jika ayah tak melakukan hal itu untukku. Terlebih lagi, bukankah Ayah sudah berjanji akan menjadikanku permaisuri putra mahkota Xin bagaimana pun caranya? Ayah harus menepati janji itu" potong Yao Yao yang lantas berhasil membuat kepala perdana mentri Go Yu berdenyut sakit.


"Sekarang kembalilah ke kediamanmu, Ayah masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan" usir perdana mentri Go Yu yang tentu saja hanyalah alasan untuk mengindari ocehan putrinya mengenai bagaimana ia menyombongkan dirinya dan bagaimana ia menjabarkan ambisi - ambisinya ketika semua keinginannya sedari kecil tercapai.


Sun Yao Yao hanya mengangguk dan lantas pergi ke kediamannya dengan perasaan yang sedikit lega, ia percaya Ayahnya akan mengabulkan dan menepati janjinya. Bukankah Ayahnya sangat menyayanginya hingga mengabulkan dan memberikan semua yang ia pinta? Jadi apa yang perlu ia khawatirkan? Ia hanya perlu menunggu kabar baik itu datang karna pintanya saat ini jelas lebih besar dari keinginan - keingunannya sebelumnya.


.


.


.


Di sisi lain tepatnya di ibukota kerajaan Zhang, semua penduduk ibukota begitu tak percaya mendengar kabar kejutan yang berturut - turut di berikan oleh pihak kerajaan Zhang. Setelah melakukan pembasmihan para pengkhianat yang bahkan belum sepenuhnya hilang dalam ingatan mereka, kini mereka kembali di kejutkan dengan kabar pertunangan putri Zhang Mu Lan dengan putra mahkota Han Zi Xin dari kerajaan Han.


"Apakah pertunangan mereka ini akan menjadi pernikahan aliansi antar dua kerajaan?" Tanya seorang pedagang yang juga ikut berkumpul dengan pria - pria paruh baya dengan beragam posisi dan kedudukan yang saat ini tengah berkumpul mendiskusikan pertunangan putri Zhang Mu Lan dan putra mahkota Han Zi Xin yang tiba - tiba.


"Untuk apa pihak kerajaan Zhang dan kerajaan Han melakukan pernikahan aliansi jika baik kerajaan kita ataupun kerajaan Han telah berhubungan baik sejak lama" sangkal seorang sarjanawan


"Tapi bagaimana jika pertunangan dan pernikahan mereka kelak hanyalah untuk membuat mereka saling mengikat sehingga baik salah satu dari kedua kerajaan tidak melakukan pengkhianatan?" Tanya sarjanawan lain.


"Berhentilah kalian berpikiran buruk, dari apa yang kami dengar pertunangan mereka dan pernikahan mereka kelak karna murni putra mahkota Han Zi Xin dan putri Zhang Mu Lan mencintai" sahut seorang buruh kasar yang baru saja ikut bergabung dengan kumpulan pria paruh baya yang saat ini tidak beda jauh kelakuannya dengan para nyonya - nyonya lainnya.


"Dari maka kau tahu?" Tanya seorang bangsawan bertubuh gemuk


"Kami tahu dari langsung dari penjelasan pengawal pribadi yang mulia putri Zhang Mu Lan, Bo Qing"

__ADS_1


.


.


.


Sebuah tepukan di bahunya menyentaknya dari lamunan, kepalanya lantas menoleh kesamping dan mendapati putra mahkota Liang yang kini berjalan memutara batu besar yang tengah ia duduki. Menyadari kehadiran junjungannya, refleks pun ia berdiri. Namun dengan cepat putra mahkota Liang menahan bahunya dan memaksanya kembali duduk.


"Aku datang menghampirimu sebagai sahabat, bukan sebagai putra mahkota. Jadi perlakukan aku layaknya seorang teman, bukan seorang junjungan" kata putra mahkota Liang lantas duduk di samping Bo Qing.


"Apa yang kau pikirkan? Akhir - akhir ini aku memperhatikan jika kau banyak termenung, apakah kau punya masalah?" Tanya putra mahkota Liang setelah terdiam beberapa saat menikmati semilir angin sore di bawah pohon ceri yang dedaunannya nyaris keseluruhannya berguguran.


"Apakah kau tengah memikirkan mei meiku?" Tebaknya


"Tebakan anda tidak sepenuhnya benar, namun yang mulia putri juga merupakan salah satu alasan mengapa aku terlalu banyak termenung akhir - akhir ini" jawab Bo Qing


"Katakan saja, aku akan mendengarkan dan mungkin akan memberi masukan" kata putra mahkota Liang "Apa jangan - jangan kau menyukai mei mei?" Tuduh putra mahkota Liang yang lantas membuat Bo Qing terkejut dan dengan cepat menggeleng seraya menolak tuduhan itu.


"Aku tak menyukai yang mulia putri" kata Bo Qing tegas membela dirinya sendiri "Tapi.. -- Bo Qing menggantung kalimatnya dan hal itu membuat putra mahkota Liang penasaran dan berkata "Tapi..?"


"Perasaanku padanya hanya sebatas menagumi" tambah Bo Qing "Mungkin anda akan merasa aku berlebihan, tapi dimataku aku melihat yang mulia putri Mu Lan adalah seorang dewi penyelamat. Ia datang padaku menawarkan pekerjaan dan kehidupan yang sangat mewah, perlakuannya padaku yang sangat baik membuatku semakin betah hingga aku terbuai dan tanpa sadar aku lupa bahwa akan ada masa di mana aku tak seharusnya terlalu terbawa perasaan dan tak bergantung pada yang mulia putri Mu Lan untuk selamanya. Aku selalu berpikir jika seluruh hidupku akan ku habiskan hanya dengan mengabdi pada yang mulia putri, namun hal yang tak kusangka - sangka datang begitu cepat dimana aku harus melepaskan yang mulia putri dalam waktu dekat, padahal aku sudah begitu nyaman bekerja di bawah perintahnya" aku Bo Qing jujur


"Apa yang harus ku lakukan? Yang mulia putri akan segera menikah dan aku merasa kehilangan arah dan tujuanku mengenai masa depanku sendiri tanpanya" tanya Bo Qing dengan nada terdengar menyedihkan.


"Aku tahu perasaanmu, kita sama - sama belum rela dan ikhlas melepas mei mei pergi, namun baik itu sekarang atau nanti, akan ada hari seperti ini yang akan kita rasakan" kata putra mahkota Liang "Aku tak tahu harus mengatakan apa untuk menguatkanmu disaat masalah yang kita alami adalah hal yang sama. Hanya saja kita tak bisa berlarut - larut seperti ini, sebab apa yang mei mei kejar hanyalah kebahagiaannya dan kita sebagai orang yang begitu dekat dengannya harusnya mendukung kebahagiaannya dan memikirkan bagaimana kita juga menemukan kebahagiaan kita" putra mahkota Liang menjeda "Tak perlu berjuang begitu keras untuk merelakan, seiring berjalannya waktu ikhlas itu akan datang dan masalah masa depanmu kelak, kau juga tak perlu terlalu memikirkannya, cukup ikuti garis takdir maka kau akan tau jawabannya. Terkadang apa yang kita suka bukanlah yang terbaik, begitupun apa yang kita benci tak selamanya adalah yang terburuk. Jangan menghindari apa yang telah ada di depan matamu, karna kita tak akan pernah tahu selama kita belum mencoba" tambah putra mahkota Liang bijak.


Penerus takhta kerajaan Zhang itu lantas berdiri, dan sebelum ia pergi, ia menepuk bahu Bo Qing dan berkata "Pendaftaran perekrutan prajurit, wakil jendral dan jendral militer kerajaan Zhang masih terbuka, jangan lewatkan kesempatan ini" katanya mengingatkan.


Selepas kepergian putra mahkota Liang, Bo Qing lantas kembali termenung dan mulai memikirkan dan mempertimbangkan saran putri Zhang Mu Lan dan putra mahkota Liang, ia lalu bertanya pada dirinya "Haruskah kita kembali mencoba?"


.


.


.


Disisi lain, tepatnya di pavilium Shan yang berada di bagian barat istana dalam kerajaan Zhang, seorang gadis cantik yang sebentar lagi beranjak 15 tahun tengah mendapat latihan ketat dari permaisuri Yin Yin.

__ADS_1


Prang!


Prang!


Prang!


Suara pecahan kaca terdengar nyaring di telinga para penghuni pavilium Shan, baik mereka yang berlalu lalang atau mereka yang memang bertugas membantu proses latihan putri Zhang Mu Lan tak luput dari suara nyaring yang berulang kali mereka dengar hari ini.


"Heeehhh" desahan lolos dari bibir mungil gadis yang baru saja memecahkan mangkuk - mangkuk yang sebelumnya di letakan di kedua bahunya. Latihan yang di berikan permaisuri Yin Yin merupakan latihan keseimbangan.


Aku kembali mendesah, nyatanya naik satu tingkatan menjadi permaisuri ternyata tidak mudah. Aku di tuntut untuk belajar lebih keras, aku di tuntut untuk menguasai banyak hal dan bahkan di tuntut untuk melakukan latihan - latihan yang nantinya akan ku lakukan lagi saat ritual pernikahan.


Latihan keseimbangan yang di ajarkan ibunda permaisuri padaku bukan hanya untuk keseimbangan diriku kelak saat mengenakan pakaian kebesaran pernikahan yang dikabarkan sangat berat, tapi latihan keseimbangan ini juga untuk mengajarkanku tata cara hormat pada ritual penobatan dan pernikahan. Ibunda permaisuri berkata jika ia harus lambat namun seirama.


Aku sudah melakukannya berulang kali, ketika aku berhasil mencapai ujung dan hendak berputar kembali pada garis saat aku memulai, mangkuk - mangkuk yang susah payah ku pertahankan agar tetap seimbang pada akhirnya pun jatuh. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi sudah kesekian kalinya aku memecahkan mangkuk - mangkuk yang entah sudah ke berapa.


"Lan'er jangan sedih, kau hanya perlu berusaha lebih keras dan lebih bersabar lagi. Sekarang istirahatlah sebentar, Ibunda tahu kau sangat lelah" nasehat permaisuri Yin Yin yang lantas ku turuti.


Aku lantas duduk di sisi ibunda permaisuri Yin Yin yang lantas langsung membantuku memijit kedua bahuku yang kaku tanpa ku minta, lalu dua orang yang lantas datang dan memijit betisku yang memang sangat sakit karna memusatkan semua beban tubuhku pada kaki, terlebih melangkah perlahan semakin menambah penderitaan dari rasa sakit yang kurasakan.


"Sayang... kau hanya punya waktu sedikit, ayo sekarang bangkit dan kembali latihan lagi" kata permaisuri Yin Yin yang langsung mendapat keluhan dariku.


"Ibunda.. berikan aku waktu beberapa menit lagi" pintaku


Permaisuri Yin Yin menggeleng dengan tegas, ia lalu berkata "Penobatan dan pernikahanmu akan dekat, dan ibunda ingin putri ibunda telah siap dengan segala ritual penobatan dan pernikahan di hari pernikahannya nanti. Terlebih lagi ibunda tak ingin kau mendapat masalah atau mengacaukan ritualmu disaat ibunda, ayahanda dan gegemu di sini dan tak bisa membantumu, jadi ibunda menyiapkan dirimu dan memberimu latihan seperti ini pun demi kebaikanmu" jelas permaisuri Yin Yin


Meskipun perkataan permaisuri Yin Yin begitu menyentuh, di dalam hati aku tetap saja mendesah karna terlalu lelah. Saat bayangan pemuda yang sialnya tampan yang menjadi alasan penderitaanku sekilas, aku dengan kesal berguman "Semua ini karna anda, putra mahkota Han Zi Xin"


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Rabu, 2 Desember 2020**


__ADS_2