Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 38


__ADS_3

Seperti banyangan semua orang mengenai menara penyiksaan kerajaan Zhang, tempat itu lumayan gelap karna minimnya cahaya. Ketika baru saja menginjakan kaki tepat di depan halaman menara penyiksaan, suara teriakan dan jeritan kesakitan yang akan menyapa pendengaran pertama kali. Bau anyir darah dan keringat yang menguar di udara jelas mampu membuat siapa saja mual, sayangnya hal itu hanya akan berlaku pada orang - orang yang memiliki mental lemah.


Dulu saat pertama kali kemari menginjakan kakiku di menara penyiksaan, hal itu berlaku padaku. Aku mengalami mual hebat bahkan tubuhku bergetar ketakutan saat suara - suara itu terus bersahutan. Bayangan bagaimana mereka di siksa membuat nyaliku menciut dan pada akhirnya aku tak jadi memasuki menara penyiksaan.


Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu tak lagi kurasakan. Aku tidak lagi ketakutan ketika mendengar suara jeritan kesakitan dari orang - orang yang mendapat penyiksaan di menara penyiksaan kerajaan Zhang. Sebab di kediaman Wu, melihat pengkhianat di pukul, di siksa dengan kejam dan di bunuh sudah membuatku tak lagi merasa takut. Aku sudah terbiasa sehingga rasa iba yang ada pun lenyap.


Dikehidupan saat ini aku hanya menatap datar menara penyiksaan kerajaan Zhang meskipun suara teriakan, jeritan kesakitan dan permohonan ampun terus menggema. Hal itu tentu saja membuat kaisar Wei dan beberapa prajurit khusus kerajaan Wei menatapku karna sikapku yang sangat tenang.


"Apa yang salah, mengapa Ayahanda dan prajurit khusus kerajaan menatapku seperti itu?" tanyaku saat menyadari tatapan mereka terarah padaku.


Kaisar Wei lantas menggeleng, sedangkan para prajurit khusus kerajaan Zhang lantas menunduk.


"Omong - omong, kapan kita masuk?" tanyaku pada kaisar Wei


"Sebelum kita masuk, apakah kau sama sekali tidak merasa takut ataupun jijik, Lan'er?" tanya kaisar Wei memastikan.


Aku lantas menggeleng dan berkata "sama sekali tidak!" tegasku yang di angguki kaisar Wei "karna putri kecil kerajaan Zhang tidak merasakan apa yang kita khawatirkan, mari kita masuk sekarang" kata kaisar Wei melangkah lebih dulu.


Aku mengikuti langkah Ayahanda kaisar begitupun para prajurit khusus kerajaan yang ikut serta melangkah mengekori kami, aku lantas mensejajarkan langkahku dengan Ayahanda kaisar saat baru saja mencerna perkataannya barusan.


"Ayahanda, apakah tadi ayahanda sengaja berhenti sejenak karna takut dengan mentalku yang tidak akan kuat?" tanyaku yang berhasil mencuri perhatian kaisar Wei yang kini tengah menoleh menatap.


"Iya, kami berhenti sejenak karna khawatir denganmu putriku. Sayangnya ke khawatiran kami nampaknya berlebihan" jawab kaisar Wei yang ku angguki.


Saat baru saja memasuki menara penyiksaan, aroma anyir darah lebih menusuk indra penciumanku. Aku dengan cepat menyumpal hidungku dengan sapu tangan bagaimanapun bau itu nyaris saja berhasil membuatku merasa perutku mulas dan aku hendak memuntahkan makan siangku.


Sepanjang perjalanan menyusuri lorong, mataku tak pernah lepas menatap setiap ruangan penjara yang penuh dengan orang - orang yang melakukan kejahatan. Tubuh mereka penuh luka dan memar, tatapan mereka nampak putus asa seakan akan tak ada lagi harapan untuk mereka terbebas dari penderitaan yang diberikan menara penyiksaan.


Aku terus saja melangkah semakin memasuki lorong menara dengan pencahayaan yang amat minim, aku terus mengikuti langkah Ayahanda kaisar yang menuntun jalanku di depan. Saat Ayahanda kaisar berhenti di ujung lorong yang kembali memberi dua jalan bercabang, Ayahanda kaisar lantas mengambil jalan ke arah kiri hingga saat aku menatap sekitar penjara yang berjajar di lorong bagian sisi kiri terbut, wajah - wajah femiliar menyapa penglihatanku.


"Ayahanda kaisar, bukankah mereka para pejabat dan prajurit yang bekerja di balai gubernur ibukota?" tanyaku dengan pandangan yang tidak lepas dari mereka yang berada di balik jeruji besi.


Kaisar Wei menoleh sesaat menatap mereka sebelum kembali membuang pandangannya kedepan, ia lantas berkata "ingatan putri kecilku sangat tajam" pujinya

__ADS_1


"Apakah masalah mereka belum selesai? Mengapa mereka masih berada disini?" tanyaku pada Ayahanda kaisar Wei yang terus melangkah semakin dalam.


"Ayahanda tau pasti kau akan menanyakan hal itu, tapi Ayahanda baru akan melepasnya jika mereka ingin mengaku siapa yang memerintah mereka melakukan kekerasan pada para buruh yang menuntut hak mereka beberapa hari yang lalu" jelas kaisar Wei "Ayahanda tau jika putri kecil kerajaan Zhang kami telah memberitahu semuanya, namun tidak akan mudah menyeret mereka langsung ke peradilan terlebih tak adanya bukti yang kuat. Walaupun kita memiliki kekuasaan tertinggi untuk menjerumuskan mereka dengan mudah, tapi kita tak bisa melawan mata dan mulut penduduk ibukota kerajaan Zhang yang nantinya akan berburuk sangka dan menganggap kita semena - mena hanya karna memiliki posisi dan kekuasaan yang tinggi" lanjutnya.


"Ah, kita sampai" kata kaisar Wei saat kami berada dihadapan sebuah pintu yang berada di ujung lorong.


"Ayahanda mengapa kita kesini?" aku tak mampu lagi menyembunyikan rasa penasaranku saat kutau pintu yang berada dihadapan kami adalah ruangan penyiksaan paling sadis di banding ruangan penyiksaan yang ada di lorong bagian kanan.


Kaisar Wei lantas mengernyit bingung lalu berkata "Putri kecilku.. mengapa kau bertanya seakan - akan kau tahu pintu apa dan ruangan apa yang ada di hadapan kita?" tanya kaisar Wei nampak curiga.


Aku lantas menggeleng, tidak mungkin bukan aku mengatakan aku tahu padahal ini adalah pertama kalinya aku menginjak menara penyiksaan dalam kehidupanku kali ini. Aku lantas memutar otakku memikirkan jawaban yang tepat, tak perlu menunggu waktu yang lama, aku lantas menjawab "Ayahanda mungkin salah menangkap maksud dari pertanyaanku, aku bertanya seperti itu hanya karna merasa pintu yang berada di hadapan kita nampak berbeda. Sepanjang lorong aku hanya melihat jeruji besi, maka dari itu aku bertanya karna penasaran" jawabku yang di angguki kaisar Wei


"Ayahanda pikir kau juga tahu pintu yang ada dihadapan kita" aku kaisar Wei "pintu ini adalah pintu ruangan penyiksaan, ruangan ini adalah ruangan penyiksaan tingkat atas" tambah kaisar Wei yang langsung ku angguki seraya berpura - pura paham padahal sebenarnya aku sudah tahu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan disini?" tanyaku lagi


"Tentu saja memaksa mereka untuk membuka mulut!" jawab kaisar Wei yang tak berselang berapa lama membuka pintu dan cahaya dari penerang dalam ruangan yang begitu silau menyapa penglihatanku.


Aku menutup mata sesaat sebelum kembali membuka mata seraya membiasakan sinar cahaya penerang ruangan yang lebih terang dibanding pencahayaan sepanjang lorong menara penyiksaan. Saat aku masuk, tiga pejabat yang tak ku kenal pertama kali memasuki pandanganku.


"Yang mulia kaisar!" seru salah satu dari pejabat yang membuat dua pejabat lainnya lantas menoleh kearah Ayahanda.


Seketika ketiganya lantas memohon pengampunan dengan menghampiri Ayahanda dan mulai bersujud di bawah kaki Ayahanda kaisar yang sama sekali tak bergeming.


"Yang mulia ... kami tidak bersalah, tolong ajukan banding!" pinta pejabat yang lebih kurus dari dua pejabat lainnya.


"Yang mulia.. ada seseorang yang telah menjebak kami dengan melimpahkan semua kesalahan pada kami, tolong yang mulia beri kami kesempatan kedua untuk menuntut keadilan" mohon pejabat dengan kulitnya berwarna putih.


Mereka terus memohon, namun Ayahanda kaisar dengan dingin mundur sebelum berlalu meninggalkan mereka bertiga dan duduk di sebuah kursi yang entah sejak kapan telah berada di tengah - tengah ruangan penyiksaan yang penuh dengan alat - alat yang di pakai para prajurit khusus kerajaan untuk menyiksa para penjahat.


"Jika kalian merasa di kambing hitamkan oleh seseorang, lantas kalian punya bukti apa yang bisa membela perkataan kalian adalah hal yang benar?" tanya kaisar Wei dingin


"Yang mulia... beri kami kesempatan menegak keadilan dan bebas dari tempat mengerikan ini, kami akan memberi tahu dalang sesungguhnya dari penggelapan dana upah buruh beserta dengan buktinya" kata pejabat yang lebih kurus yang di angguki dua pejabat lainnya.

__ADS_1


"Apakah pertanyaan kalian dapat di percaya?" tanyaku angkat bicara


Ketiga pejabat itu lantas menoleh padaku, mungkin mereka terkejut karna baru menyadari kehadiran ku yang juga ada disini.


"Yang mulia putri tidak usah khawatir, kami akan memberitahu segalanya agar kami bisa terlepas dari tempat ini bersama keluarga kami" kata pejabat dengan tubuh yang lebih berisi berusaha meyakinkan


"Lalu jika kalian terbukti berbohong? dan bukti yang kalian maksud tidak ada, apakah kalian siap mati dengan pemusnahan satu keluarga ?" tanyaku yang seketika membuat ketiga pejabat cukup terkejut bahkan wajah mereka yang telah pucat semakin memucat.


Kaisar Wei juga cukup terkejut dengan putrinya bagaimanapun hari ini mereka ia hanya bermaksud menunjukan sisi kejam dirinya sebagai motivasi untuk putrinya yang meminta di ajari menjadi gadis yang tangguh dan kejam. Sayangnya nampaknya kaisar Wei tak perlu mengajarinya sebab putrinya telah memiliki bakal alami tersebut.


"Kami akan menceritakan semuanya, tak peduli jika pada akhirnya bukti yang kami berikan tak mampu menyatakan kami tidak bersalah, dan walaupun pada akhirnya kami mati, setidaknya kami mati tidak di tempat mengerikan seperti ini" balas pejabat berkulit putih tersebut.


Aku tak menyangka, bahkan hanya beberapa jam saja ketiga bejabat itu di seret hingga di masukan dalam menara penyiksaan, mereka akan mengkhianati kesetiaan mereka hanya demi terbebas dari tempat tersebut.


"Yang mulia ..."


"Yang mulia putri!"


Aku tersentak dari lamunanku mengenai kejadian yang telah berlalu satu bulan lebih itu, aku lantas menoleh dan menatap pemuda yang baru saja pulang seminggu yang lalu dari pelatihannya di markas prajurit Shi Rong dengan tatapan bertanya.


"Nona muda Ma Mei Rong, ingin bertemu dengan anda" kata Bo Qing yang berhasil membuatku mengeluarkan sikap datar dan dingin.


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Selasa, 16 Juni 2020**


__ADS_2