
"Tetaplah bersamaku.."
"Menikmati malam, dibawah cahaya rembulanan dan ribuan bintang di langit ~~"
Lirik lagu pertama di nyanyikan putri Zhang Mu Lan, semua orang tertegun dengan suara merdu yang mengalun di seluruh penjuru halaman aula utama. Semua orang nampak membisu di tempat mereka tatkala lantunan lagu itu terus dinyanyikan. Permainan Qin putri Zhang Mu Lan yang begitu lincah, serta suara merdua yang tak pernah mereka sangka berhasil membuat semua orang terpukau hingga mata mereka tak berkedip, mereka seakan dibius hingga tak mampu bergerak hingga akhir lagu berakhir.
"Ku ingin tetap bersamamu.. menikmati malam, dibawah cahaya rembulan..." Aku mengakhiri lirik terakhir lagu dibawah cahaya rembulan yang merupakan lagu yang sering ku mainkan ketika ku berlatih di belakang kerajaan Zhang yang merupakan hamparan hutan yang kerap kali di jadikan tempat latihan dan penyergapan para tentara kerajaan Zhang, baik para tentara khusus ataupun para prajurit tentara Shi Rong.
Saat aku menyelesaikan irama terakhir pada lagu yang ku bawakan, aku lantas mendongak dan pandanganku tak sengaja bertemu dengan pandangan putra mahkota Han Zi Xin yang kini menatapku dengan tatapan dalam. Aku tak tahu jenis tatapannya padaku, tak ingin berpikir lebih jauh terlebih masih saja ada rasa kesal yang ada pada diriku tentangnya, aku mengalihkan pandanganku kesegala arah seraya melihat respon semua orang akan penampilan.
Hal yang tak terduga ku dapatkan adalah ketika melihat semua orang tertengun. Makanan mereka bahkan tak kurang, dan aku mengambil kesimpulan jika mereka semua begitu terkejut dengan penampilanku yang tak terduga dan memberi semua orang kejutan termasuk keluarga kerajaan Zhang. Suara tepukan tangan disisi di bawah panggung terdengar nyaring dan menyentak semua orang, suara tepuk tangan yang di hasilkan Bo Qing membuat semua orang lantas mengikuti terkecuali Ma Mei Rong yang kini wajahnya memerah menahan kesal. Bukankah sudah ku katakan ingin memberi kejutan, dan saat ini aku telah memberinya dua pukulan secara beruntun.
Aku lantas turun dari panggung membawa Qin yang baru saja ku mainkan, saat menuruni anak tangga, Bo Qing dengan sigap membantuku. Aku tersenyum seraya berucap terima kasih padanya sebelum memintanya untuk membawa Qin-ku.
"Bo Qing terima kasih," kataku tulus "Bisakah kau membantuku membawakan Qin-ku, bermain Qin tanpa pemanasan membuat jari - jariku terasa sakit" keluhku yang lantas dengan cepat membuat Bo Qing mengambil alih Qin-ku.
Aku menyukai pengawal pribadiku, ia tak banyak bicara, tak pernah mengeluh dan ia akan selalu dengan sigap membantuku dan membalas semua perintah dan permintaanku dengan tindakan. Untuk kesekian kalinya aku mengucap terima kasih padanya.
"Yang mulia.., sudah tugasku untuk melayani dan menjaga anda" balasnya yang ku balas dengan anggukan.
Aku lantas berbalik dan mulai melangkah menuju keluargaku berada. Dari jarakku sekarang, aku bisa melihat Ayahanda kaisar, Ibunda permaisuri dan putra mahkota Liang menatapku dengan tatapan tabjuk, entah mengapa aku yang di tatap seperti itu merasa malu dan akhirnya salah tingkah. Tak ingin mempermalukan diriku, aku lantas segera mengontrol ekspresi.
__ADS_1
"Yang mulia.. apakah hamba perlu memijit jemari anda?" tanya Bo Qing begitu khawatir dan peduli padaku.
Aku menoleh kesamping sesaat di mana Bo Qing melangkah hampir menyamai posisiku, aku lantas menggeleng dan berkata "Kau tidak perlu melakukannya, biar gege saja yang memijitku, anggap saja sebagai balasan ia telah membuatku berada di situasi ini" jawabku
"Tapi sejak kedatangan anda, anda sudah berada di situasi ini yang mulia" timpal Bo Qing
"Maka dari itu aku ingin semua ini segera selesai, sebab aku mulai resah menjadi pusat perhatian" akuku.
Bo Qing yang mendengar jawabanku lantas mengernyit bingung, ia tahu jika dulu ada rumor yang mengatakan jika putri Zhang Mu Lan begitu ingin menjadi pusat perhatian banyak orang, ia bahkan melakukan usaha dengan mendekati Ma Mei Rong yang memang di kenal popularitasnya karna kecantikan dan bakatnya, namun bukan popularitas seperti yang Ma Mei Rong dapatkan, putri Zhang Mu Lan malah menjadi bahan cemohan dan ejekan semua penduduk ibukota Zhang karna saran Ma Mei Rong yang mempermalukan dirinya sendiri.
Tapi punggung gadis 14 tahun yang membelakanginya kini nampak berbeda. Benar kata putra mahkota Liang, putri Zhang Mu Lan telah banyak berubah. Harusnya Bo Qing menyadari itu sejak pertama kali gadis itu memintanya menjadi pengawalnya tanpa paksaan, padahal semua orang tahu jika dulu putri Zhang Mu Lan memiliki sikap pemaksa.
"Ayahanda.. kapan ini selesai, aku sudah sangat lelah"
Keluhan putri Zhang Mu Lan membangunkan Bo Qing dari lamunannya, ia lantas mentapa junjungannya yang begitu dengan mudah meluluhkan kaisar Wei yang kini mulai mengakhiri pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin yang telah mulai hingga berjam - jam lamanya.
"Terima kasih atas kehadiran dan doa yang diberikan para tamu kehormatan kerajaan Han dan para pejabat dan bangsawan telah panjatkan, kami selaku keluarga kerajaan dan perwakilan kerajaan Han pamit mengundurkan diri" tutup kaisar Wei beranjak bangun dari kursinya di susul dengan permaisuri Yin Yin, putra mahkota Liang dan para perwakilan kerajaan Han.
Saat mereka hendak pergi menuju istana dalam, putra mahkota Liang lebih dulu menghampiri putri Zhang Mu Lan, ia merangkul pundak adiknya penuh sayang seraya berjalan beriringan. Perlakuan putra mahkota Liang jelas mencuri pandangan semua orang yang memilih tetap tinggal dan menikmati jamuan, pasalnya mereka tidak tahu jika hubungan putra mahkota Liang dengan putri Zhang Mu Lan seakrab itu, dalam banyangan mereka jika dua pewaris takhta memiliki hubungan yang buruk karna persaingan dalam merebut kekuasaan tertinghk kerajaan. Namun nampaknya banyangan mereka selama ini lantas lenyap hanya karna pemandangan harmonis antara putra mahkota Liang dan putri Zhang Mu Lan.
Malam sudah sangat larut, namun jendral muda Wu Cheng belum juga beranjak dari kursi khusus yang di siapkan pihak kerajaan untuknya. Saat ini ia masih berada di halaman aula utama kerajaan Zhang bersama dengan para pejabat dan bangsawan lain yang memilih tinggal. Banyak dari para tamu telah pulang, terutama para nyonya dan para gadis muda yang nampak sangat kelelahan dan mengantuk. Hanya saja meskipun para tamu wanita telah pulang, masih ada seorang wanita yang kini masih duduk di sampingnya.
__ADS_1
Siapa lagi jika bukan Ma Mei Rong. Wanita licik itu masih senang tiasa menemaninya meskipun saat ini ia tengah tertidur memeluk dirinya yang kedinginan diterpa dinginnya angin malam yang menusuk hingga ketulang. Sayang meskipun wanita yang dulu berstatus kekasih yang telah naik menjadi selirnya kedinginan, jendral muda Wu Cheng sama sekali tak peduli, ia malah mengacuhkannya. Jendral muda Wu Cheng tidak peduli meskipun ia tahu dalam rahim Ma Mei Rong ada anaknya, ia dengan dingin beranjak bangun dan pergi bergabung dengan para pejabat kemiliteran lainnya yang kini tengah menikmati anggur putih dan jamuan makan berat.
"Jendral muda Wu Cheng" sapa seorang prajurit kerajaan Zhang yang di balas anggukan oleh jendral muda Wu Cheng yang kini mengambil tempat dan bergabung dengan rekan - rekannya.
"Jendral Wu mengapa kau begitu dingin dengan istrimu, apakah kau tidak kasihan dengannya yang nampak kedinginan?" tanya Jendral Bao yang usianya jauh lebih tua dari jendral muda Wu Cheng.
"Aku tidak peduli" jawab jendral muda Wu Cheng "Terlebih aku sama sekali tidak pernah mengharapkannya berada ataupun bersanding disisiku, kehadirannya hanya karna keadaan tak memihak padaku" tambahnya.
"Apakah sekarang anda menyesal setelah melihat penampilan yang mulia putri Zhang Mu Lan yang begitu mengejutkan namun memukau secara bersamaan?" tanya prajurit yang sebelumnya menyapanya.
"Apakah ia menyesal?" batin jendral muda Wu Cheng menoleh kebelakang menatap Ma Mei Rong sesaat sebelum kembali membuang mukannya menghadap kedepan.
"Aku rasa ia menyesal, bagaimana ia melepaskan sebuah berlian hanya untuk sebuah giok" timpal jendral Bao yang menyadarkan jendral muda Wu Cheng.
Jendral muda Wu Cheng lantas menyesap anggurnya dengan salah satu sudut bibir tertarik keatas, ia lantas berkata "Tentu saja aku menyesal, tapi --" jendral muda Wu Cheng menjeda seraya menuang anggur di cangkirnya "Aku masih memiliki kesempatan selama putri Zhang Mu Lan masih menyukai dan menggilaiku" tambahnya yang membuat prajurit menyapanya terkejut.
"Tapi bagaimana dengan Ma Mei Rong? Yang mulia kaisar Wei jelas akan murka jika putri kesayangannya hanya berstatus selir" kata perajurit itu.
"Aku bisa menceraikannya ketika ia melahirkan, lagian belum ada yang mengisi status furen (istri sah) di kediamanku" balas jendral muda Wu Cheng tanpa rasa bersalah.
**TBC
__ADS_1
Senin 27 Juli 2020**