Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 48


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, selama itu pula Ma Mei Rong telah menyandang status sebagai selir dari jendral muda Wu Cheng. Sejujurnya Ma Mei Rong sangat tidak puas dengan posisinya sekarang, bagaimanapun peringkat dan kedudukannya hanya seorang selir, bukan seorang furen dan nyonya muda Wu. Meskipun demikian, Ma Mei Rong harusnya patut bersyukur sebab halaman kediaman jendral muda Wu Cheng belum tercemar oleh wanita lain selain dirinya, kebutuhannya pun terjamin walaupun ia tahu jika jendral muda Wu Cheng ataupun perdana mentri Ming sangat tidak menyukainya, tapi berkata bayi yang ada di kandungannya, baik jendral muda Wu Cheng ataupun perdana mentri Ming harus menahan diri karna penerus keluarga kediaman Wu tumbuh dalam rahimnya.


Andai saja Ma Mei Rong tidak keluar dari keluarga Ma, mungkin saat ini ia telah menjadi furen dari jendral muda Wu Cheng yang di kagumi para gadis dan nona muda ibukota kerajaan Zhang. Sayangnya keluarga kediaman Ma terlalu terburu - buru membuangnya, dan pada akhirnya Ma Mei Rong begitu tidak sabar menanti hari dimana Ayahnya tahu dan sangat menyesal telah membuangnya, andai saja mungkin Ma Mei Rong masih putrinya, keluarga Ma akan mendapat dukungan yang kuat dari keluarga Wu. Keduanya bisa saja menjalin kerja sama demi mencapai tujuan mereka yang juga sama, yaitu menggulingkan keluarga kerajaan Zhang.


Sayangnya saat ini keluarga Ma menutup akses ataupun informasi mengenai dirinya, sehingga mereka pasti tidak akan tahu apa yang telah terjadi padanya. Karna masalah yang Ma Mei Rong timbulkan memberi rasa malu dan merusak reputasi pada keluarga Ma, perdana mentri Ma Ze Dong dengan kejam memutuskan darah dengannya dan mengusirnya. Tapi sekarang, ia bagian dari keluarga Wu karna sebuah jimat keberuntungan.


"Nyonya.."


"Nyonya.. Mei Rong!"


Panggilan seorang pelayan menyentak Ma Mei Rong dari lamunan, ia lantas mengerjap sebelum mendongak menatap pelayan itu sambil berkata "Apa?"


"Tuan besar ingin bertanya, apakah anda ingin menjahit pakaian untuk anda kenakan di pesta perayaan ulang tahun yang mulia permaisuri?" tanya pelayan itu.


"Tentu saja, aku masih kekurangan pakaian terlebih dalam waktu beberapa bulan lagi perutku akan semakin membesar dan semua pakaian milikku tidak akan muat" jawab Ma Mei Rong yang membuat pelayan itu mendengus tidak suka dengan sikap serakah dan tamak gadis di hadapannya.


Seharusnya ia memikirkan pakaian yang ia kenakan minggu depan, bukan memikirkan membuat pakaian untuk kehamilannya yang menurut palayan itu masih ada lama. Usia kandungan Ma Mei Rong masih berusia 2 minggu, perutnya saja masih datar namun ia sudah memikirkan baju - bajunya yang akan terasa kecil dan sempit ketika perutnya membesar dalam 4 bulan 2 minggu lagi. Bukankah Ma Mei Rong tidak terlalu boros membuat baju hamil sedini mungkin, padahal ukuran tubuhnya saat hamil besar pun masih menjadi misteri.


"Baiklah nyonya, pelayan ini akan memberitahukan tuan besar" kata pelayan itu lantas meninggalkan Ma Mei Rong yang saat ini mengelus perut datarnya.


"Sayang, tetap bersama ibu yah. Kau tahu, jika keberadaanmu adalah jimat keberuntungan untukku" kata Ma Mei Rong yang begitu senang mendapat perlakuan baik dari kediaman keluarga Wu walaupun semua itu ia dapatkan berkat bayi yang ada dalam kandungannya.


"Aku begitu tidak sabar menanti bagaimana putri Zhang Mu Lan mempermalukan dirinya di pesta perayaan ulang tahun yang mulia permaisuri, dan bagaimana raut wajah Ayah dan Ma Xiao Qing ketika ku duduk bersanding dengan jendral muda Wu Cheng di perayaan nanti. Mungkin putri Zhang Mu Lan akan marah dan membenciku, sedangkan untuk Ayah dan Ma Xiao Qing, keduanya pasti akan sangat terkejut dan menyesal" gumam Ma Mei Rong

__ADS_1


"Dan mungkin saja setelah perayaan pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin, mereka akan meminta maaf padaku dan memohon agar aku kembali ke keluarga Ma" tambah Ma Mei Rong tersenyum penuh kemenangan membayangkan itu semua.


.


.


.


Di sisi lain, tepatnya di pavilium Shan bagian barat istana dalam kerajaan Zhang, nampak gadis cantik tengah menikmati hari sorenya sendiri sambil di temani sepiring kue kering dan teh melati. Gadis itu adalah Zhang Mu Lan, saat ini ia berada di gasebo belakang pavilium Shan sembari menikmati pemandangan matahari terbenam.


Sebelumnya ia ditemani oleh Ibunda permaisuri Yin Yin, namun karna sejak kemarin hingga satu minggu mendatang Ibundanya akan semakin sibuk mengurus perjamuan pesta perayaan ulang tahunnya dan menerima berbagaimacam hadiah baik dari kerajaan - kerajaan tetangga, para petinggi istana, para bangsawan ataupun penduduk ibukota kerajaan Zhang yang begitu menyayangi Ibunda permaisuri.


"Yang mulia.."


"Yang mulia tuan putri.."


"Bo Qing selamat datang kembali," kataku lalu kembali membuang pandanganku menatap langit senja yang kini telah di hiasi goresan jingga, merah dan keemasan "Aku pikir jika Liang gege tak akan mengembalikanmu lagi, syukurlah jika kau kembali pulang" tambahku tersenyum dengan penuh rasa syukur.


Jujur saja setiap kepergian Bo Qing ke markas latihan prajurit Shi Rong, aku selalu merasa takut dan khawatir jikalau saudaraku mengambil Bo Qing dariku. Rasa takut dan khawatir kerap kali menyerangku di kalau aku selalu memikirkan perkataan putra mahkota Liang yang begitu ingin merekrut Bo Qing menjadi salah satu prajuritnya.


"Yang mulia tuan putri tak perlu khawatir, meskipun Yang mulia putra mahkota terus memaksaku untuk bergabung, tapi selama anda belum membuangku, aku akan tetap mengabdi dan bersama anda" jawab Bo Qing yang berhasil menghangatkan hatiku


"Aku tidak akan melepasmu, kecuali kau ingin pergi dariku dengan alasan ingin menikahi gadis pujaanmu" balasku kembali menatap Bo Qing yang nampak terkejut dengan perkataanku.

__ADS_1


"Apakah kau suka dengan gadis yang selalu kau lihat dan amati dari jauh?" tebakku yang seketika membuat Bo Qing yang biasanya menampakan ekspersi datar semenjak dekat dengan putra mahkota Liang dan Ah Ke yang menularkan sikap dingin pada pengawalku, kini ia memperlihatkan ekspresi salah tingkah yang bagiku nampak menggemaskan di tambah dengan kedua pipinya yang bersemu merah.


"Bagaimana anda tahu?" tanyanya malu - malu


"Perasaan wanita itu kuat!" jawabku. "Omong - omong apakah kau mendapat informasi baru mengenai Ma Mei Rong dan jendral muda Wu Cheng? Aku terlalu sibuk dengan urusan pesta perayaan ulang tahun ibunda permaisuri, sehingga aku ketinggalan banyak informasi" akuku


"Yang mulia, sudah seminggu ini nona Ma Mei Rong telah berganti status menjadi selir jendral muda Wu Cheng. Jendral muda Wu Cheng mengangkatnya menjadi selirnya pun hanya karna nona Ma Mei Rong mengandung" jawab Bo Qing yang berhasil membuatku cukup terkejut.


Aku dengan cepat mengontrol ekspesiku dan bergumam "Semuanya jelas tidak akan sama lagi dengan ingatanku sebelumnya, aku yang telah mengambil langkah membongkar kebusukan mereka, maka garis takdirpun ikut berubah dengan langkah yang ku ambil seminggu yang lalu. Lantas apa yang ku harapkan?" tanyaku lirih "Aku masih punya waktu untuk menghancurkan mereka, dan seminggu yang lalu jelas itu masihlah terhitung sebagai pemanasan" tambahku


"Yang mulia.. apakah anda mengatakan sesuatu?" tanya Bo Qing yang menyentaku dari lamunan.


Aku lantas menggeleng dan berkata "Tidak ada!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Kamis, 2 Juli 2020**


__ADS_2