Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 29


__ADS_3

Hari telah beranjak petang, sebentar lagi gelap akan menyapa langit kerajaan Zhang yang saat ini tengah di hiasi goresa jingga kemerah - merahan. Saat ini aku tengah menikmati langit senja di teras belakang pavilium Shan. Sebuah meja kecil yang di penuhi dengan cemilan dan satu set poci dan cangkir teh menemaniku menyaksikan pemandangan terbenamnya sang mentari yang tinggal menghitung menit.


Seharusnya sehabis pulang dari pertemuan rahasia yang ku lakukan dengan Ayahanda kaisar dan putra mahkota Liang, aku lantas bergebas memikirkan hadiah apa yang akan ku berikan untuk ibunda permasuri setelah saranku di terima dengan baik oleh Ayahanda kaisar dan putra mahkota Liang yang kini mulai membuat hadiah mereka.


Sebelum kami membubarkan diri, putra mahkota Liang telah memutuskan akan memberi Ibunda permaisuri sebuah lukisan yang akan ia lukis sendiri, sedangkan Ayahanda kaisar akan memberi Ibunda permaisuri sebuah kaligrafi berisi puisi yang akan Ayahanda kaisar rangkai sepenuh hati dan juga akan memberi perhiasan dari rancangannya sendiri. Baik Ayahanda kaisar ataupun putra mahkota Liang telah memikirkan bahkan mulai mengerjakan pembuatan hadiah mereka, sedangkan aku masih memikirkan hadiah berkesan lainnya untuk ibunda permaisuri.


Semua orang pasti akan memberi ibunda permaisuri Yin Yin sebuah hadiah berupa kain, mantel dan perhiasan. Adapun dalam ingatanku Mei Rong akan memberi pertunjukan menari yang membuatnya menjadi pusat perhatian dan mendapat pujian banyak orang.


Aku ingat saat ini aku yang begitu ingin mendapat pujian yang sama dengannya lantas ikut memberikan tontonan yang pada akhirnya membuat keluarga kerajaan Zhang harus mendapat ejekan dari orang - orang karna aku turut menari dengan asal, bahkan penampilanku yang sangat menor jelas sebuah pukulan besar dan memalukan untuk kerajaan Zhang kala itu.


Bukannya mendapat pujian yang ku harapkan, aku lantas hanya mendapat cemohan dan ejekan dari para tamu undangan yang tanpa rasa takut dengan terang - terangan mempermalukanku di depan keluarga kerajaanku dan di depan perwakilan kerajaan Han yang turut hadir meramaikan pesta perayaan permaisuri Yin Yin.


Aku mendesah. Kala itu aku memberi Ibunda permaisuri Yin Yin hadiah terburuk dan sangat bermakna sebab kejadian itu sulit di lupakan bahkan terus menjadi bahan ejekan dan olok - olokan penduduk kerajaan Zhang. Hal itu berhasil membuatku mengurung diri karna malu, bahkan hingga jatuh sakit karna mengabaikan jam makanku.


Kejadian itu jelas adalah kenangan dari banyaknya kenangan buruk yang tak ingin ku ulang untuk kedua kalinya. Di kesempatan hidupku kali ini akan ku manfaatkan untuk memperbaiki diri, menebus kesalahan dan dosaku, serta membersihkan namaku dari keburukan yang ku ciptakan dalam ingatan para penduduk ibukota Zhang dan juga penghuni kerajaan Zhang.


"Yang mulia tuan putri.."


Panggilan seorang kasim muda berusia 25 tahun menyentakku dari lamunan. Aku dengan cepat menoleh menatap kasim muda tersebut dan bertanya "Ada apa?" tanyaku


"Menjawab yang mulia, yang mulia permaisuri mengirim penjahit untuk anda" kata kasim muda itu yang lantas membuatku mengernyit.

__ADS_1


"Mengapa Ibunda permaisuri mengirimiku seorang penjahit?" tanyaku lagi


"Yang mulia permaisuri berpikir anda ingin menjahit pakaian baru untuk anda kenakan di pesta perayaan ulang tahun yang mulia permaisuri" jelasnya yang langsung ku jawab dengan berkata "tapi aku tak butuh pakaian baru, aku masih memiliki banyak pakaian baru yang belum ku pakai" kataku


"Lalu apakah kasim ini harus meminta penjahit itu pulang?" tanya kasim itu


Aku lantas berpikir sesaat, hingga sebuah ide mengenai hadiah yang akan kuberikan untuk Ibunda permaisuri Yin Yin seketika muncul. Aku lantas berkata "tidak perlu, aku akan menemui penjahit itu untuk melakukan bisnis" kataku lantas beranjak dari dudukku.


Kasim tersebut lantas menunduk saat aku melewatinya, tak berselang berapa lama ia pun mengikutiku bersama para kasim dan dayang lainnya. Aku melewati koridor samping pavilium Shan seraya masuk melalui pintu samping yang berhadapan dengan taman kecil dan kolam ikan. Untuk menuju teras belakang, aku memang selalu menggunakan pintu samping yang ada di bagian kiri pavilium Shan agar tak berjalan memutar begitu jauh ketika ku melalui pintu depan.


Aku baru saja masuk melalui pintu samping disisi kirin pavilium Shan yang langsung menghubungkanku dengan ruangan tengah yang berada di hadapan pintu kamarku. Ruangan tengah hanya berisi meja bundar dan kursinya yang berjajar yang di letakan di tengah - tengah ruangan. Di setiap sudut ruang tengah terdapat rak buku juga lemari yang berisi beragam hiasan keramik.


Suara teriakan pengumuman akan kedatanganku menyentakku dari lamunan begitupun menyentak seorang wanita berusia 35 tahun yang tengah duduk menunggunya sambil menikmati jamuan teh dan kudapan yang di berikan para pelayan untuk menemani penjahit tersebut.


Aku lantas segera memintanya bangun dan kembali duduk dikursi dan menemaniku yang baru saja duduk di salah satu kursi yang ada di tengah - tengah ruangan tengah. Awalnya penjahit yang awalnya dalam bayanganku mungkin seorang wanita tua itu lantas menolak dengan halus dan berkata.


"Hamba yang rendah ini tak berani" tolaknya


Aku mendesah dan memijit keningku yang mulai terasa berdenyut, aku tahu alasan mengapa penjahit itu tak ingin duduk dan menemaniku disini, itu karna statusku dan jabatanku yang lebih tinggi yang membuatnya merasa takut. Jangankan memiliki niat untuk duduk bersama, membayangkan hukuman yang akan ia terima lebih dulu menghapus niat dan keinginannya tersebut.


Selain itu, ada rumor mengenai keburukanku yang suka mempermainkan mereka yang berada di bawahku. Selain namaku begitu buruk mengenai di kenal penduduk ibukota kerajaan Zhang karna kebodohanku, riasanku, cara berpakaianku, dan temperamenku yang begitu buruk. Aku juga di kenal sebagai putri yang kejam dan suka menindas. Entah surah berapa banyak yang menjadi korban dari kekejamanku, entah sudah berapa banyak jeritan dan permohonan ampun yang mereka lontarkan, aku yang dulu begitu angkuh dan berhati dingin hingga tak ingin mendengar jeritan kepiluan dari orang - orang yang telah ku siksa.

__ADS_1


"Baiklah" kataku setelah mengenyahkan pikiranku mengenai kenangan masalaluku


"Jika bibi penjahit tak ingin bersamaku, setidaknya berdirilah lebih dekat denganku" pintaku yang dengan ragu di patuhi wanita penjahit itu.


Saat merasakan sosoknya telah tak berada jauh dariku, aku lantas mengubah posisi dudukku menyamping sehingga bisa menatap wanita penjahit itu dengan leluasa.


"Bibi, aku tahu kau takut padaku. Mungkin karna aku terkenal dengan namaku yang telah jelek dan ditambah dengan rumor buruk yang semakin parah dan membuat pandangan semua orang di ibukota Zhang salah tentang menilaiku sepenuhnya" kataku "Aku tak akan membela diri, aku adalah pendosa yang pernah melakukan kesalahan dan kekejian. Namun bukankah semua orang pernah berbuat kesalahan dan dosa?" tanyaku yang di jawab anggukan oleh wanita penjahit itu bagaimanapun ia merasa perkataan putri Mu Lan tidak sepenuhnya salah.


"Meskipun semua orang pernah berbuat salah dan dosa, selalu ada kesempatan bukan untuk memperbaiki kesalahan dan menebus dosa?" tanyaku lagi yang kembali di balas anggukan oleh wanita penjahit itu.


"Sekarang di kesempatan ini, aku sedang berusaha memperbaiki diriku. Aku tengah berusaha perlahan memperbaiki kesalahanku, membersihkan namaku juga menebus dosaku. Jadi ku harap bibi tak perlu lagi khawatir akan aku yang mungkin saja dalam bayangan bibi akan berlaku buruk padamu" tambahku yang seketika membuat wanita penjahit itu menegang sesaat karna tebakanku mengenai sasaran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


**TBC


Minggu, 7 Juni 2020**


__ADS_2