
Aku tahu jika putra mahkota Liang akan sangat kesal denganku, aku tahu setelah ini ia akan mendiamiku walaupun Ayahanda kaisar akan memberitahu semuanya melalui rapat mereka pagi ini. Aku memang salah karna mengerjainya, tapi aku tak bisa memberitahunya terlebih aku sudah berjanji pada Ayahanda kaisar.
Tak apa jika putra mahkota Liang masih mendiamiku bahkan jika banyak waktu telah berlalu. Bukankah dengan begitu aku bisa menyusun rencana dan strategi agar malapetaka itu tak kembali menimpa kami. Aku mungkin tak mampu membuat semua orang terhindar dan selamat dari kemalangan tersebut, walaupun aku di berkati dengan ingatan mengerikan mengenai masa mendatang atau kehidupan laluku. Aku tetap saja seorang gadis muda yang lemah, hanya karna keadaan dan kejadian yang akan menimpa kami memaksaku menjadi dewasa dan menjadi orang yang harus berpikir cepat dan tepat. Aku akan bersusaha sebisaku menyelamatkan semua orang, namun jika pada akhirnya tak sesuai harapanku, setidaknya aku telah berusaha sebisaku.
Aku memijit keningku yang berdenyut, selain masalah putra mahkota Liang yang meninggalkanku beberapa menit yang lalu dengan kesal, juga masalah rencana dan strategi perlawanan yang akan ku buat. Hal yang membuat konsentrasiku pecah adalah karna bayangan sosok Bo Qing yang memenuhi kepalaku. Pemuda yang ingin ku jadikan pengawal itu masih terus memenuhi pikiranku, dan segala praduga mengenai penolakan akan tawaranku memintanya menjadi pengawal pribadiku terus berputar hingga aku merasakan pusing.
Awalnya aku berpikir akan mendapatkannya dengan mudah. Kini aku menyesali perkataan sok bijakku yang mengatakan tidak akan memaksanya. Aku memejamkan mataku sesaat disusul hembusan nafas lelah yang keluar dari mulutku.
Sebelumnya aku berpikir akan membuat rencana dan strategi ketika Bo Qing telah berada di sisiku. Nampaknya aku harus segera membuat skema untuk berusaha sebisaku menyelamatkan semua orang, juga skema balas dendam yang tak bisa mereka lupakan terlebih musuhku bukan hanya jendral muda Wu Cheng yang menghianatiku, bukan pula hanya Mei Rong yang menusukku dari belakang dang merebut jendral Wu Cheng dariku, juga bukan perdana mentri Ma Ze Dong dan perdana mentri Wu Ge Ming yang menjatuhkanku pada titik terbawah dan membuatku berada di ambang keputusasaan.
Musuh yang harus kuhadapi adalah putri sulung perdana mentri Dong, Ma Xiao Qing. Wanita cantik sepicik ular itu adalah sosok yang memberikan intruksi kepada mereka bagaimana menyusun rencana dan strategi menggulingkan keluarga kerajaan. Wanita berhati setan itu ingin menjatuhkan dan membuat mereka begitu menderita hanya karna ibunda permaisuri dan Aku menolak ia menjadi kandidat putri mahkota yang akan di sandingkan dengan putra mahkota Liang dulu.
Sakit hati yang ia rasakan membuatnya menampakan sisi busuk dan jahatnya, ia melakukan balas dendam dengan membuat kami semua mati merenggang nyawa di tangan para bonek - boneka yang ia gerakan di balik layar. Namun di kehidupan kali ini, aku tidak akan membiarkan ia menang untuk kedua kalinya. Aku akan membuatnya membalas perbuatannya, karna hutang darah harus di balas darah, dan hutang nyawa harus di bayar dengan nyawa. Aku tidak akan membuat mereka mati dengan mudah, aku ingin membuat mereka merasakan hidup tapi ingin mati.
Tuk tuk tuk!
Suara ketukan menyentakku dari lamunan, perlahan kelopak mataku terangkat dan menampakan kedua bola mataku yang nampak jernih. Aku menoleh menatap pintu, tak berselang berapa lama seorang dayang masuk kedalam peraduanku dan berjalan membungkuk.
"Hormat hamba pada yang mulia putri" salamnya tak lupa bersujut lalu beranjak bangun dengan tubuh sedikit di bungkukan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku pada dayang tersebut
"Menjawab yang mulia, ada seorang pemuda yang mencari yang mulia di luar" jawabnya
"Siapa nama pemuda itu?" tanyaku dengan sabar
"Yang mulia tuan putri, nama pemuda itu adalah Bo Qing" jawab dayang tersebut yang berhasil membuat raut wajahku terkejut sesaat sebelum berubah menjadi raut wajah senang "Pemuda itu mengatakan telah menerima tawaran anda" tambah dayang tersebut yang membuatku beranjak dari peraduan dengan semangat dan melangkah menuju pintu kamar yang tertutup.
Saat kedua tanganku telah memegang ganggang pintu, aku tiba - tiba teringat jika saat ini putra mahkota Liang tengah marah padaku. Lalu bagaimana caraku untuk membujuknya membuat Bo Qing masuk dan mendapat latihan kemiliteran dari prajurit khusus Shi Rong yang berada di naungannya?
'Zhang Mu Lan, kau sungguh ceroboh!'
.
.
.
"Apakah selama ini laporan yang kalian berikan telah di manipulasi sebelumnya? Sejak kemarin kalian mengatakan jika proyek pembangunan dermaga berjalan dengan baik tanpa kendala. Nyatanya telah berbulan - bulan proyek itu selesai namun para buruh bangunan dan buruh kasar belum di beri upah. Apakah begini cara kerja kalian?" Tanya kaisar Wei
__ADS_1
"Yang mulia, tolong tenangkan diri anda" pinta perdana mentri Dong dari keluarga Ma yang akhirnya angkat bicara setelah sekian lama bungkam.
"Apakah kau pikir masalah ini adalah hal kecil? Kalian lupa jika keberadaan kalian disini adalah karna keinginan kalian mengabdi dan mensejahterakan rakyat kerajaan Zhang, bukan untuk menenggelamkan uang yang seharusnya milik rakyat untuk memperkaya diri sendiri," jeda kaisar Wei memijit keningnya "Jika tak ada yang mengaku mengenai hilangnya dana proyek ini, Zhen akan menyelidikinya sendiri hingga ke akar - akarnya. Jika salah satu atau lebih dari kalian terlibat, jangan salahkan Zhen jika membawa kalian dan keluarga kalian kedalam penjara bawah tanah kerajaan Zhang" tambah kaisar Wei dingin.
Mendengar hukuman yang akan mereka dapatkan, seketika beberapa pejabat gemetar dengan wajah memucat. Tak tahan di tekan dalam atmosfir ancaman kaisar Wei, mereka lantas melirik perdana mentri Ma Ze Dong dan perdana mentri Wu Ge Ming yang nampak santai dan tak terpengaruh. Padahal hukuman yang kaisar Wei berikan cukup besar, merka bisa saja keluar dengan hidup dalam penjara bawah tanah atau keluar dengan mayat yang telah terbujur kaku.
Seharusnya sejak awal mereka yang terlibat tak perlu terjerat dalam bisikan dan rayuan kedua perdana mentri itu, hanya karna ingin memperkaya diri, mereka lupa jika lawan mereka adalah kaisar kerajaan Zhang yang mana dimata masyarakat adalah sosok kaisar yang dermawan, namun dimata mereka para pejabat yang telah mengabdi lama adalah sosok iblis kejam berdarah dingin.
Selain karna kemampuannya dalam mengolah pemerintahan dan pengadilan, kecerdasannya dalam mengurus strategi dan rencana, ke ahliannya dalam bertarung dengan berbagaimacam alat tempur, ia juga memiliki penalaran dan insting yang kuat. Sekuat apapun mereka menyembunyikan kejahatan dan kebusukan mereka, seiring waktu berputar, kejahatannya akan di temukan dan kebusukan mereka akan segera terendus. Jika semua kejahatan mereka terbukti, nyawa mereka mungkin akan melayang.
.
.
.
.
.
__ADS_1
**TBC
Rabu, 20 Mei 2020**