
Wanita penjahit itu nampak termenung, begitupun dengan para kasim dan dayang yang berdiri berjejer rapi disudut ruangan tengah yang kini nampaknya memikirkan perkataan putri Mu Lan.
Memang akhir - akhir ini putri Mu Lan tak banyak melakukan atau menciptakan keributan. Ia saat ini nampak begitu pendiam, temperamennya yang di kenal buruk pun perlahan telah berubah. Tak ada lagi teriakan amarah, tak ada lagi hukuman yang akan selalu mereka terima bahkan sekalipun mereka tak berbuat salah, tak ada lagi suara pilu dari tangisan dan rintihan kesakitan para kasim, para dayang ataupun pelayan yang mendapat siksaan. Hari - hari tenang dan damai itu telah berlangsung selama beberapa hari ini dan mereka baru menyadarinya.
"Apakah mungkin yang mulia putri sadar saat ia nyaris mati beberapa waktu yang lalu?" tanya seorang dayang yang langsung mendapat teguran dari dayang seniornya.
"Sstttt.. jaga bicaramu! Jangan menyebar berita burung tak tentu kebenarannya, jika kau tak ingin di hukum dan di pecat setelahnya!" kata seniornya memperingati yang jelas berhasil membuat yang lainnya bungkam dan menutup mulut mereka rapat.
Tentu saja perkataan mereka masih dapat ku dengar, ruangan tengah yang di landa keheningan ini akan sangat mudah bagiku mendengar suara sekecil apapun. Mungkin sekarang pendengaranku mulai sensitif, terlebih saat tingkat kewaspadaanku pun ikut bertambah. Aku menuntut diriku untuk tetap waspada dan hati - hati, bagaimanapun sampai saat ini nyawaku masih terancam terlebih aku tak memiliki penjaga ataupun pengawal pribadi. Bisa saja sewaktu - waktu salah satu atau lebih dari rombongan kasim ataupun dayang yang tiba - tiba menyerang dan mencelakaiku. Karna ketakutan dan ke khawatiran inilah yang membuatku sangat memperhatikan sekitarku, bagaimanapun saat ini Bo Qing sedang masa latihan, aku tak bisa menjamin jika putra mahkota Liang menempatkan prajurit Shi Rongnya ataupun Ayahanda kaisar Wei menempatkan prajurit khususnya untuk menjaga dan mengawasiku di balik kegelapan.
Aku mendesah, walaupun aku mendengar perkataan mereka, aku jelas tak bisa marah. Bagaimanapun apa yang dikatakan dayang itu benar. Sejak insiden jatuhku, aku pun tersadara atau terbangun dari mimpi buruk atau mungkin kembali di bangkitkan dari kematian dan kembali hidup di usiaku yang ke 14 tahun untuk merubah kemalangan dan takdirku beserta kerajaan Zhang. Mimpi buruk atau kejadian mengerikan yang telah ku alami memberikanku sebuah mukjizat. Anugerah yang di berikan sang pencitpa pada tentu saja akan ku manfaatkan sebaik - baik mungkin untuk merubah takdir buruk dan mala petaka yang ku cipatakan. Di kesempatanku kali ini, aku akan memanfaatkan mukjizat yang di berikan dengan mengubah garis takdir dan membayar semua kesalahan dan dosa yang ku perbuat.
"Yang mulia putri, apakah sekarang penjahit ini sudah bisa mengukur anda?"
Pertanyaan dari wanita penjahit itu berhasil menyentakku dari lamunan. Aku lantas mengerjap beberapa kali sebelum mengumpulkan semua kesadaranku sebelum mencerna pertanyaan wanita penjahit tersebut. Saat kesadaranku telah pulih sepenuhnya aku lantas menatapnya, aku tak lupa memberinya sebuah gelengan.
__ADS_1
"Bibi aku menemuimu bukan untuk mengukur diri dan membuat baju" kataku yang tentu saja berhasil membuat wanita penjahit itu lantas mengernyit bingung "Aku tak ingin menjahit baju baru. Sebab aku masih memiliki beberapa pasang baju baru yang belum ku pakai, tapi aku ingin meminta tolong kepada bibi -- jedaku yang lantas membuat wanita penjahit itu bertanya, "Bagaimana bisa penjahit yang rendah ini menolong yang mulia putri? Hamba terlalu miskin untuk anda yang memiliki keberuntungan dan kekuasaan" katanya
Mendengar jawaban wanita penjahit itu, tentu saja aku sangat maklum. Bagi mereka.. aku yang memiliki keberuntungan tak akan bisa dipuaskan dengan mereka yang berada di kalangan bawah, mereka pasti berpikir bahwa aku yang di manjakan dengan barang - barang mahal dan berkualitas, tak akan pernah bisa memasukan suatu hal atau benda yang menurut mereka penting dan berharga karna harga dan kualitasnya tak akan sama dengan apa yang ku punya. Namun bukan materi ataupun benda yang ku inginkan, aku hanya ingin meminta tolong di ajarkan menyulam.
-- bibi bukan benda atau materi lain yang ku minta, aku hanya meminta tolong agar bibi mau mengajariku menyulam. Aku ingin memberi kado Ibunda permaisuri sebuah sapu tangan dengan pola bunga dan pheonix hasil sulamanku sendiri" tambahku yang tentu saja mengejutkan wanita pejahit tersebut begitupun para kasim dan para dayang yang juga berada di ruangan tengah.
"Yang mulia.. anda sedang tidak bercanda bukan?" tanya wanita penjahit itu menastikan pendengarannya tidak bermasalah.
Aku tentu saja menggelengkan kepala sebagai bantahan, bagaimanapun aku serius ingin belajar dan mengasah kemampuanku. Aku lantas berkata "Aku ingin memberi ibunda permaisuri sebuah hadiah yang berkesan, aku berharap hadiahku bisa bermakna dan selalu ibunda permaisuri ingat. Terlebih selain itu aku sungguh - sungguh ingin belajar hal baru, jadi apakah bibi bersedia?" tanyaku yang lantas membuat wanita penjahit itu termenung
"Bibi tak perlu khawatir, selama bibi mengajariku secara rahasia hingga sulamanku selesai, aku akan tetap menggaji bibi perminggu dengan satu stel koin emas" tambahku yang langsung membuat wanita penjahit tersebut terkejut dengan upah yang akan ku berikan.
"Apakah bibi mau mengajariku?" tanyaku untuk ke dua kalinya
Wanita penjahit itu lantas mengangguk, ia lalu berkata "Hamba akan mengajari anda, tapi sebelumnya hamba akan memberitahukan jika menyulam bukanlah hal yang sangat mudah. Anda harus banyak bersabar dan konsentrasi penuh agar sulaman anda dengan berbagai pola dan tehnik bisa nampak rapi walaupun anda baru belajar" jelasnya.
__ADS_1
"Tak masalah bibi, aku akan berusaha karna ini untuk ibunda permaisuri" kataku "jadi kapan kita bisa mulai menyulam? Apakah kita bisa melakukannya sekarang?" tanyaku yang begitu tidak sabaran.
Disisi lain, tepatnya di sebuah bangunan bagian timur kerajaan Han, nampak pangeran Min tengah bersama dengan putra mahkota Xin menikmati matahari terbenam di gasebo belakang istana timur kerajaan Han. Saat ini keduanya menikmati waktu santainya setelah mengerjakan tugas mereka masing - masing di pemerintahan dan peradilan.
"Gege, apakah kau akan mewakili kerajaan kita menghadiri pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin dari kerajaan Zhang?" tanya pangeran Min pada putra mahkota Xin yang baru saja menyesap tehnya.
Putra mahkota Min menaruh cangkirnya di atas permukaan meja, ia lalu menatap adiknya dan berkata "mengapa? apakah kau ingin menggantikanku?" tanya balik putra mahkota Xin yang langsung membuat pangeran Min menggeleng cepat dan berkata "meskipun ujianku telah selesai, aku tetap tak akan mau bertemu dengan putri Zhang Mu Lan yang memiliki temperamen yang buruk. Walaupun aku tahu meskipun ia menampilkan tontonan yang menarik dengan mempermalukan dirinya" kata pangeran Min yang membuat putra mahkota Xin mengangguk karna bagaimanapun apa yang dikatakan pangeran Min benar. Setiap perayaan yang di adakan kerajaan Zhang, putri Zhang Mu Lan tak akan pernah berhenti mempermalukan dirinya sendiri dengan kekacauan yang ia ciptakan. Kerap kali putra mahkota Xin pun turut kesal jika kelakuan gadis itu sangat menyebalkan, namun apa boleh buat? Ayahanda kaisar Zheng tentu saja harus tetap di singgasananya begitupun dengan Ibunda permaisuri, sedangkan pangeran Min akan melaksanakan ujian dalam waktu dekat. Alhasil keputusan kandidat yang mewakili kerajaan Han jatuh pada dirinya, terlebih semua pekerjaannya telah selesai lebih awal.
"Gege kau yakin tetap pergi?" tanya pangeran Min kembali memastikan "Kau yakin jika kau tak akan menyesal nantinya?" tanya pangeran Min lagi
"Aku tak tahu apakah aku akan menyesal telah pergi sebagai perwakilan, bukankah bagaimanapun penyesalan selalu datang belakangan?" tanya putra mahkota Xin "Lagian akan sangat tidak mengenakan jika hanya mengirim seorang mentri atau pejabat terlebih kerajaan Han dan kerajaan Zhang terlah berteman dan bekerja sama dengan baik, padahal selama ini kerajaan Zhang selalu mengirim putra mahkota Liang sebagai perwakilan kerajaan Zhang saat menghadiri pesta kerajaan Han. Bukankah akan sangat tidak adil?" tanyanya lagi yang membuat pangeran Min berpikir.
"Juga siapa yang akan tahu jika aku berada disana, akan ada yang tontonan yang menarik" tambahnya
**TBC
__ADS_1
Selasa, 9 Juni 2020**