Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 35


__ADS_3

"Baiklah, baiklah" kata putra mahkota menyerah tak lupa mengangkat kedua tangannya keatas "Tapi jika tiba - tiba mei - mei berubah pikiran akan melepasnya, mei - mei harus datang padaku lebih dulu" tambahnya yang membuatku memutar bola mataku malas.


"Itu hanya ada dalam mimpi gege!" tegasku untuk kedua kalinya.


Putra mahkota Liang lantas mendengus dan berkata "Kau bukan kekasihnya, tapi mengapa kau seakan - akan mengatur dan melarangnya" gumam putra mahkota Liang yang masih dapat kudengar.


"Aku memang bukan kekasihnya, tapi majikannya" protesku pada putra mahkota Liang yang nampak tersentak terkejut karna teriakanku


Aku menatap putra mahkota Liang nyalang, bagaimanapun saudaraku itu membuatku kesal. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Apakah ia lupa jika aku adalah majikan Bo Qing. Bukankah terserah padaku ingin berlaku bagaimana padanya? Terlebih Bo Qing datang padaku dengan suka rela, aku sama sekali tidak memaksanya walaupun aku memiliki posisi tinggi dan kekuasaan akan hal itu.


Putra mahkota Liang lantas mengusap tengkuknya dan berkata "Mei mei aku minta maaf, ku pikir kau tak akan mendengar gumamanku" pintanya


Aku lantas memutar kedua bola mataku malas lalu berkata "Gege memang bergumam, bergumam yang keras" sindirku yang lantas membuat putra mahkota Liang meringis.


"Baiklah aku salah" aku putra mahkota Liang yang membuatku mencebik sesaat.


"Omong - omong mengenai Bo Qing, bukankah ia salah satu buruh juga merupakan provokator saat aksi protes dan penuntutan upah para buruh yang bekerja dalam menyelesaikan dermaga di pantai selatan?" tanya putra mahkota Liang yang berhasil mengalihkan kekesalanku.


Aku lantas mengangguk dan berkata "Ia memang pemimpin aksi penuntutan dan protes pada balai gubernur ibukota kerajaan Zhang" jawabku "dan saat itu pula aku menemukannya" tambahku yang membuat putra mahkota Liang mengangguk.


"Mengapa gege menanyakan hal ini?" tanyaku


"Kau tahu ... masalah pengelapan dana pembayaran upah para buru pekerja dermaga pantai selatan telah selesai di selidiki" jawab putra mahkota Liang mendesah "Aku ingat perkataanmu saat itu jika penyelidikan berakhir, para mentri dan pejabat dengan pangkat rendahlah yang akan di tangkap oleh pihak penyelidik karna semua bukti di limpahkan di jatuhkan pada mereka yang kini di jadikan kambing hitam oleh oknum yang telah berhasil membuang bukti keterlibatan mereka" kata putra mahkota Liang yang tentu saja ku angguki karna aku sangat tahu jelas, para mentri dengan pangkat yang tinggi memiliki banyak cara memusnahkan bukti. Mereka bahkan bisa membalikan bukti dengan mudah dan melemparnya pada para pejabat berpangkat rendah yang mungkin juga terlibat untuk di jadikan kambing hitam dan menutup kejahatan mereka dengan terpusatnya ke fokusan pihak pengadilan pada tersangka yang mendapat tuduhan penuh dari bukti yang di dapatkan.

__ADS_1


"Mei mei.., seperti perkataanmu, hasil penyelidikan menemukan dua pejabat kementrian pembendarahaan dan keuangan menjadi tersangka dalam kasus penggelapan ini dan mungkin Ayahanda kaisar akan membahas hal ini di rapat pagi besok beserta dengan penangkapan mereka" jelas putra mahkota Liang yang sama sekali tak membuatku terkejut bagaimanapun aku sudah tau akan berakhirn seperti ini, hanya saja aku pemasaran dengan langkah apa yang akan Ayahanda kaisar Wei ambil bagaimanapun aku telah memberitahu semuanya termasuk masalah penggelapan dana upah buruh kerja dermaga pantai selatan kerajaan Zhang.


Aku tahu Ayahanda bukanlah orang yang bodoh yang akan langsung percaya dengan hasil pengadilan. Bagaimanapun Ayahanda kaisar adalah orang yang begitu teliti dan hati - hati, serta orang yang kejam dan dingin yang akan dengan mudah bermain di balik kegelapan mencari bukti hingga akar - akarnya. Meskipun Ayahanda kaisar mengikuti keputusan pengadilan, aku tahu ia memiliki rencana lain. Dan mungkin saja ia ingin bermain - main dengan para mentri dan pejabat yang terlibat lebih banyak dalam masalah ini.


"Mei mei?"


"Mei mei?"


"Zhang Mu Lan ~~~!" teriak putra mahkota Liang menyentakku dari lamunan.


Aku lantas mengelus dada karna terkejut dengan teriakan keras dan kencang putra mahkota. Aku menatap saudaraku itu dengan tatapan kesal, bersyukurnya aku sama sekali tak memiliki penyakit jantung, jika tidak, mungkin saja aku kini mati tanpa berhasil melakukan balas dendamku. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan menghantui putra mahkota Liang yang membuatku harus mati merenggang nyawa karna jantungan.


"Gege kau ingin aku mati?" tanyaku kesal


"Berhentilah marah padaku, aku memanggilmu karna sedari tadi kasimmu mengumumkan kedatangan seseorang. Lekaslah keluar sebelum ada orang lain yang menemukan ruangan rahasia ini" jelas putra mahkota Liang yang seketika membuatku teringat akan wanita penjahit yang berjanji akan mengajarkanku menyulam.


Aku lantas mengerjap beberapa saat sebelum bergegas melangkah keluar meninggalkan putra mahkota Liang tanpa mengucap terima kasih pada saudaraku yang mengingatkanku jika siang ini aku memiliki pelajaran tambahan. Saat aku hendak mencapai pintu ruangan rahasia, aku mendengar dengan jelas gerutuan putra mahkota Liang yang berakat "Tidak sopan, harusnya mei - mei mengucap makasih karna aku memberitahumu masalah pengumuman yang dilakukan kasim pavilium Shan"


Aku yang mendengar itu dengan jelas lantas berhenti, aku membalikan tubuhku dan berkata "Gege terima kasih karna telah memberitahuku" ucapku setengah hati sebelum kembali memutar tubuhku dan bergegas keluar dari ruangan rahasia dan ruangan pakaianku dengan tak lupa mengunci pintu dengan rapat.


"Yang mulia dari mana saja anda?" tanya seorang dayang yang baru saja masuk kedalam peraduanku seraya mencariku.


Aku lantas menggaruk tengkukku dan berkata "Aku baru saja dari kamar kecil, mengapa kau mencariku?" tanyaku

__ADS_1


"Menjawab yang mulia, wanita penjahit kemarin telah datang. Ia menunggu anda di ruang tengah" jawab dayang tersebut


Aku lantas mengangguk dan berkata "kalau begitu marih segera menemuinya, alangkah tidak baik jika membuatnya menunggu terlalu lama"


Aku lantas melangkah lebih dulu, lalu dayang itupun mengekor di belakangku. Saat kami tiba di ruang tengah pavilium Shan bagian barat dari istana dalam, nampak seorang wanita berusia 35 tahun tengah menikmati kudapan yang di jamukan. Dayang yang tadi mengekoriku pun mulai berteriak mengumumkan kedatanganku


"Yang mulia putri telah tiba ~~~" umumnya yang berhasil membuat wanita penjahit yang tengah menikmati kue kering tersedak.


Aku yang melihat itu hanya mampu tersenyum, mungkin wanita penjahit itu tengah asik menikmati jamuan di hadapannya namun mendengar kedatanganku dari pengumuman yang baru saja di dengarnya lantas berhasil membuatnya terkejut dan alhasil membuatnya tersedak dengan kue kering yang dimakannya.


Aku menyodorkan secangkir teh pada wanita penjahit itu dan berak "Bibi ... anda harus pelan - pelan"


.


.


.


.


.


**TBC

__ADS_1


Jumat, 12 Juni 2020**


__ADS_2