
Perputaran waktu yang berbeda dari ingatanku membuatku tak berhenti untuk menyalin segala peraturan pada setiap lembar buku yang kini menampung segala coretan tinta yang berubah menjadi kata yang merangkai kalimat. Mulutku tak berhenti menggumamkan segala poin - poin peraturan kerajaan, tanganku dengan cekatan menulis setiap kata yang keluar dari mulutku.
Aku mendesah saat meletakan kuas pada wadah tinta, akhirnya aku berhasil menyelesaikan hukumanku dengan cepat. Aku melempar pandanganku pada sekeliling ruangan, pada saat itu pula aku baru menyadari jika perlahan hari mulai menggelap. Malam sebentar lagi akan menyapa dan perlahan suara langkah kaki mendekatpun ditangkap oleh pendengaranku. Pintu ruang kerja Ayahanda dibuka dan sosok kasim, dayang dan pelayan pun datang berbondong - bondong menyalakan lilin dan sumbu minyak di segala penjuru ruangan.
Tak berselang berapa lama, putra mahkota Liang datang dengan wajah kusut dan lelah. Saudaranya itu mengangguk saat kasim, dayang dan pelayan yang baru saja menyalakan penerang pamit undur diri dan berpapasan dengan sang pewaris takhta kerjaan Zhang.
Putra mahkota Liang mengambil duduk tepat disampingku, kepalanya ia sadarkan di pundakku dengan kedua tangannya kini merangkul lenganku. Namun kelakuannya manjanya itu tak bertahan lama saat putra mahkota Liang kembali duduk dengan tegak dengan ibu jari dan jari telunjuknya menjepit hidungnya yang mancung.
"Mei mei sudah berapa hari kau tidak mandi?" tanyanya
Aku yang mendapat pertanyaan itu lantas berpikir, aku mulai mengingat kapan hari terakhir ku mandi. Mungkin saat putra mahkota Liang datang dan membangunkanku beberapa hari yang lalu, jika itu terakhir mungkin -- aku lantas mulai menghitung dengan jariku dan menjawab "Mungkin tiga atau dua hari yang lalu"
Mendengar jawabanku, putra mahkota Liang lantas menggeser kursinya menjauh dariku. Kedua jarinya masih menjepit hidungnya yang mancung agar bau keringat yang keluar dari tubuhku tak masuk kedalam indra penciumannya.
"Dasar putri jojok! Pergi sana mandi, maumu bahkan mengalahkan **** yang suka bermain di kubangan lumpur" usir putra mahkota Liang mengibaskan - ibaskan salah satu tangannya yang bebas.
Walaupun aku kesal dengan perkataannya yang membandingkanku dengan binatang pecinta lumpur itu, tapi aku tetap beranjak dari dudukku dan menuruti perintah saudaraku. Bagaimanapun aku juga butuh istirahat setelah memaksakan diriku menyekesaikan hukuman disaat perutku masih kosong. Mungkin setelah mandi, aku akan meminta pelayan membawakanku makan malam yang banyak sebab aku melewatkan makan siangku karna terlalu fokus menyalin. Mungkin setelah itu semua, aku baru akan mengistirahatkan tubuhku hingga menyambut esok hari dan memikirkan cara bagaimana Ayahanda kaisar Wei mengizinkanku keluar istana disaat hukuman kurunganku di pavilium Shan belum ku jalani.
.
__ADS_1
.
.
Aku bangun terlalu awal, mungkin karna terlalu memikirkan masalah perputaran waktu yang sangat jauh berbeda dari ingatanku mengenai kehidupannya di masa yang akan datang. Selain itu kehidupanku saat ini masih menjadi tanya besar, entah ingatan mengerikan mengenai petaka yang ku bawa untuk seluruh keluargaku dan abdi setia kerajaan Zhang hanyalah sebuah mimpi ataukan memang sebuah kenyataan yang pernah ku alami.
Aku tidak tahu apakah aku kembali di hidupkan dari kematian, dan perputaran waktu yang berbeda adalah bayaran dari satu kesempatan hidup untuk membayar semua kesalahan dan dosa yang ku perbuat, atau mungkin memang langit hanya ingin memperlihatkanku kejadian 2 tahun yang akan datang melalui mimpi agar aku bisa dengan cepat mengambil langkah pencegahan dan melawan takdir hidupku yang berakhir begitu tragis.
Aku tidak tahu diantara dua itu, dimana posisiku sebenarnya? Yang ku tahu saat ini adalah tujuan dari keduanya adalah sama. Yakni memperbaiki diri, melawan takdir dan menebus kesalahan dan dosa yang ku perbuat kepada mereka - mereka yang tak bersalah dalam kebodohan dan petaka yang kuciptakan, selain itu aku patut membalaskan dendam atas hutang nyawa banyak orang kepada mereka.
Memikirkan mereka berdua, gigiku gemertak. Emosiku memuncak hanya karna memikirkan dua orang yang begitu kejam menggulingkanku dari posisiku, menghancurkan harapanku, memusnahkan keluargaku dan yang paling menyakitkan dari hal itu, mereka membakar habis perasaanku akan kenyataan jika selama ini cintanya dimanfaatkan oleh mereka.
Aku mendesah seraya memijit keningku yang berdenyut sakit. Hari masih terbilang sangat pagi, bahkan langit diluar masih sangat gelap dan udara dini hari masih terasa sangat dingin. Namun aku sudah terjaga dan memaksa kinerja otakku berpikir dengan begitu keras. Aku mendesah, sampai saat ini aku belum memikirkan cara bagaimana aku bisa keluar dari istana walaupun belum menuntaskan hukumanku sepenuhnya.
Seketika ingatan saat menjalani hukuman saat perlahan hari mulai memasuki dini hari berputar, saat itu aku tengah sibuk berkutat dengan salinanku dan tiba - tiba ayahanda kaisar Wei muncul di ruang kerjanya. Aku masih ingat saat Ayahanda mengatakan waktu - waktu seperti itulah adalah waktu terbaik untuknya menyelesaikan pekerjaannya. Dan mungkin saat ini Ayahanda sudah berada di ruang kerjanya.
Dibandingkan membawa putra mahkota Liang kembali dalam masalah karna menemaniku, mungkin lebih baik mengajak Ayahanda kaisar saja untuk menemaniku mencari Bo Qing. Dengan Ayahanda yang keluar bersamaku, keselamatanku pasti akan terjamin lebih besar di banding dengan bersama putra mahkota Liang.
Ayahanda kaisar Wei selain dikenal para penduduk kerajaan Zhang sebagai kaisar yang loyal, dermawan dan berbudi luhur karna mensejahterakan penduduknya, tapi dimata para musuh dan orang luar, ia adalah iblis kejam berdarah dingin kedua setelah kaisar kerajaan Han, Han Yong Zheng.
__ADS_1
Dalam ingatanku, kekemahan terbesar Ayahanda yang tidak diketahui semua orang adalah aku. Baginya aku adalah malaikat kecilnya yang berharga, aku adalah sosok putri kecilnya yang dimatanya lemah dan lembut. Karna akulah, jendral muda Wu Cheng memanfaatkan perasaanku demi menaklukan kerajaanku. Ayahanda kaisar menyerahkan semuanya karna dimatanya aku masih tetap berharga walaupun aku telah menghancurkan segalanya.
Aku menyeka sudut mataku yang berair, aku berjanji akan menebus semua kesalahan dan dosaku, aku tak akan membiarkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya. Maka dari itu langkah pertama yang akan kulakukan adalah bertemu Ayahanda kaisar Wei dan memintanya untuk menemaniku mencari Bo Qing.
.
.
.
.
.
**TBC
Jumat, 15 Mei 2020
IG. yung379_
__ADS_1
Wp. Baekhyun_G**