
"Yang mulia..." panggil Bo Qing saat ia datang menghadapku.
"Ada apa?" tanyaku
"Kejadian kemarin telah tersebar, rumor mengenai putri bungsu keluarga Ma yang berani menggertak anda dan menyinggung keluarga kerajaan tengah hangat di perbincangkan di ibukota kerajaan Zhang" lapor Bo Qing yang sama sekali tidak membuatku terkejut.
Kejadian yang Ma Mei Rong lakukan kemarin jelas akan cepat menyabar mengingat tembok dalam kerajaanpun memiliki mata dan telinga. Ini hanyalah pengambaran bahwa tembok kerajaan yang terbuat dari bata dengan dibangun dengan tinggi dan kokoh tak menjamin seseorang untuk tidak mendengar percakapan orang lain. Selain itu kepopuleran Ma Mei Rong di kalangan pemuda ibukota kerajaan Zhang akan mempermudah rumor ini meluncur dan tersebar hanya dalam satu malam.
"Istana dalam memang kadang kejam, semua tembok memiliki mata dan telinga. Maka dari itu kau juga harus berhati - hati jika ingin melaporkan sesuatu yang penting" kataku mengingatkan Bo Qing.
"Yang mulia tak perlu khawatir, pengawal ini akan selalu berhati - hati" balas Bo Qing yang membuatku mengangguk.
"Lalu apakah ada hal lain?" tanyaku
"Para pemuda ibukota kerajaan Zhang yang mengagumi nona muda Ma Mei Rong melakukan protes terang - terangan terhadap rumor yang beredar, mereka mengatakan jika anda membalikan fakta dan menyebar opini agar para penduduk ibukota kerajaan Zhang berpikir buruk mengenai nona Ma Mei Rong" jawab Bo Qing yang ku angguki
Aku tidak akan terkejut dengan jawaban Bo Qing. Namaku yang sejak dulu telah buruk dimata para penduduk ibukota kerajaan Zhang selamanya akan tetap buruk dimata mereka, terlebih para pemuda yang mengagumi Ma Mei Rong. Dengan kekuasaan yang ku miliki, aku memang bisa saja mengeluarkan kebohongan dan opini yang akan mencoreng nama baik Ma Mei Rong dengan mudah. Sayangnya aku tak akan membuang - buang tenagaku melakukan hal itu disaat aku tahu ada banyak penghuni istana dalam yang juga membenci Ma Mei Rong. Dengan kejadian kemarin, mereka yang membenci Ma Mei Rong akan memanfaatkan hal itu untuk menjatuhkannya. Disaat sudah ada orang yang mengatasinya lantas mengapa aku harus turun tangan?
Namun nampaknya jika aku membiarkan hal ini berlarut - larut, aku akan semakin di cap buruk oleh semua orang yang akan termakan provokator para pemuda yang mungkin saja akan mengeluarkan argumen dan pendapat yang mungkin akan membalikan keadaan dan membuatku menjadi orang yang bersalah.
Aku menghela nafas dan meletakan sulamanku yang hampir selesai di atas permukaan meja. Aku lantas memikirkan ide apa yang bisa membuat nama Ma Mei Rong semakin buruk di mata para penduduk ibukota Zhang. Nampaknya aku akhirnya harus ikut campur tangan sebelum aku di tuduh dan di kambing hitamkan. Seketika sebuah ide terlintas dalam benakku dan seketika senyum menyeringaiku pun terbit.
"Bo Qing, buatlah rencana agar kita bisa keluar istana malam ini!" perintahku yang membuat Bo Qing terkejut
"Yang mulia.. jangan katakan ada ingin keluar istana malam ini?" tanya Bo Qing yang bagaimana pun pernah mendengar cerita putra mahkota Liang saat ia dan putri Zhang Mu Lan keluar istana hanya untuk mencarinya, dan pada akhirnya keduanya tak bertemu dengannya dan malah mendapat hukuman saat kembali ke istana.
"Aku tak akan mengulang untuk kedua kalinya, Bo Qing" tegasku
__ADS_1
"Tapi yang mulia --
"Aku tak menerima kata 'tapi', pikirkan saja bagaimana cara agar kita bisa keluar istana dan pulang tanpa ketahuan" potongku. "Tapi sebelum itu, beritahukan pada gegeku, jika aku membutuhkan bantuannya!" tambahku
.
.
.
Malam ini aku berhasil keluar istana bersama Bo Qing. Walaupun aku tahu jika Bo Qing dan putra mahkota Liang memikirkan rencana keluar istana hingaa aku dan Bo Qing berhasil lolos dari penjagaan ketat yang di lakukan Ayahanda kaisar, aku tahu jika saat ini ada beberapa prajurit khusus kerajaan yang mengikuti kami dari balik kegelapan.
Meskipun aku tahu, aku tak akan memberitahu Bo Qing bagaimanapun aku takut pengawalku itu merasa kecewa jika mengetahui rencana keluar dari istana yang telah ia susun, nyatanya gagal karna saat ini bawahan Ayahanda kaisar turut mengawasi dan menjaga kami.
"Yang mulia, kemana kita akan pergi?" tanya Bo Qing padaku
"Yang mulia putri, anda lama sekali!" keluh Gui Feng menghampiriku
"Kakak Feng, aku sama sekali tidak pernah memintamu untuk menungguku!" tegasku melangkah melewati sahabat putra mahkota Liang.
Sebenarnya rencana menyelinap keluar istana bukanlah sepenuhnya ide Bo Qing, mereka berdua berhasil keluar dikarnakan ada campur tangan putra mahkota Liang dan prajurit Shi Rong. Saat ini aku, putra mahkota Liang, Bo Qing, Gui Feng dan Gui Fei yang merupakan saudari kandung kakak Feng yang tempo hari bertemu denganku saat membawa Bo Qing dalam ujian pemenuhan syarat kelulusan sebelum ia berlatih di markas pelatihan prajurit Shi Rong akan berkumpul di sebuah ruangan pribadi.
Dalam prediksi dan perhitunganku dalam ingatan masalaluku, Ma Mei Rong akan selalu meminta bantuan jendral muda Wu Cheng dan akan selalu bertemu di restoran ini. Restoran mahal dan juga merupakan penginapan ini adalah saksi bersejarah dari perbuatan bejat dan tak senonoh dari Ma Mei Rong dan jendral muda Wu Cheng.
"Apakah mereka sudah datang?" tanyaku menaiki setiap anak tangga menuju lantai dua ruangan pribadi yang telah di pesan putra mahkota Liang
"Jendral muda Wu Cheng telah datang, hanya tinggal menunggu nona muda Ma" jawab Gui Feng yang mengekoriku dari belakang bersama dengan Bo Qing yang jalan bersamanya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana rencana lainnya?" Tanyaku lagi memastikan rencana yang ku susun dengan baik berjalan dengan lancar.
"Anda tidak usah khawatir, Gui Fei telah mengundang beberapa tuan muda dan pemuda - pemuda bangsawan yang sangat menyukai nona muda Ma Mei Rong. Saat ini Gui Fei sudah berada di ruangan tepat di depan ruangan yang telah di pesan jendral muda Wu Cheng bersama dengan para tuan muda dan pemuda bangsawan yang telah ia undang, sedangkan ruangan tempat putra mahkota Liang untuk menunggu kita saat ini akan tepat berada di sampingnya" jelas Gui Feng sembari berjalan di sepanjang lorong.
"Kakak Feng, kau dan prajurit Shi Rong sungguh dapat di andalkan" pujiku pada Gui Feng yang langsung mengucap berterima kasih.
"Mengenai rencana yang anda susun, maaf jika pengawal ini lancang, namun pengawal ini sungguh tidak tahan ingin menanyakan mengapa anda melakukan hal ini?"
'Tentu saja untuk membalaskan dendam. Aku akan memanfaatkan situasi Mei Rong yang tengah panas di perbincangkan, terlebih aku memiliki peluang besar untuk menjatuhkan dua burung dengan satu' batinku.
Ingin rasanya aku menyuarakan kata hatiku, namun hutang yang mereka miliki padaku sepenuhnya hanya aku yang tahu. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, tentu saja mereka akan berpikir aku sudah tidak waras. Maka dari itu, jalan yang terbaik yang ku pilih dengan sedikit berbohong.
"Tentu saja sebagai ganjaran karna selama ini telah membodohiku!"
.
.
.
.
.
**TBC
Senin, 22 Juni 2020**
__ADS_1