Permaisuri Kecilku Yang Kejam

Permaisuri Kecilku Yang Kejam
Bab 54


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari yang Ma Mei Rong nanti pun telah datang. Hari kelahiran dan pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin juga akan menjadi hari kemenangan serta kebahagiaan untuk Ma Mei Rong, pasalnya ia sungguh tak sabar menanti bagaimana ekspresi tidak suka yang akan putri Zhang Mu Lan tunjukan ketika ia duduk berdampingan dengan jendral muda Wu Cheng, juga bagaimana ekspresi terkejut keluarga Ma saat tahu ia adalah nyonya muda Wu meskipun statusnya hanya seorang selir.


Namun meskipun statusnya di bawah furen, setidaknya dimata banyak orang ia masih menjadi penguasa dan pengelolah keuangan keluarga Wu. Sebab, kediaman keluarga Wu tidak memiliki wanita lain selain dirinya, sehingga kediaman keluarga Wu masihlah bersih. Walaupun sebenarnya ia sama sekali tidak di anggap ada oleh perdana mentri Ming dan jendral muda Wu Cheng, meskipun semua kebutuhannya terpenuhi. Tapi itu sama sekali bukan masalah untuk Ma Mei Rong, sebab ia percaya anaknya akan memberikan keberuntungan untuknya dan ketika anaknya lahir, statusnya yang hanya seorang selir sebentar lagi akan naik menjadi furen dan semua itu hanya masalah waktu, ia akan mencapai semuanya ketika masa itu tiba.


"Aku harus segera bersiap mulai dari sekarang," putus Ma Mei Rong "Menyandang gelar sebagai nyonya muda Wu membuatku ingin tampil sebaik mungkin agar tidak mengecewakan" tambahnya


"Oh ayolah Ma Mei Rong, kapan kau tampil memalukan seperti putri Zhang Mu Lan selama bertahun - tahun. Meskipun dua minggu yang lalu kau begitu hina di mata penduduk kerajaan Zhang, tapi kecantikanmu jelas masih membekas" puji Ma Mei Rong pada dirinya sendiri


Meskipun ia memiliki aib yang meskipun telah 2 minggu berlalu belum kunjung surut di perbincangkan banyak orang, Ma Mei Rong percaya jika kecantikan dan bakatnya yang ia pertahankan selama bertahun - tahun akan tetap membekas di ingatan para penduduk ibukota kerajaan Zhang. Semua kelebihan yang ia miliki akan dengan mudah terhapuskan dengan kecantikan dan semua prestasi serta bakat yang ia kembangkan dan pertahankan selama bertahun - tahun. Dan hari ini Ma Mei Rong bertekad menghapus rumor mengenai aibnya dengan menunjukan bakatnya dalam pesta perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin yang akan di adakan sore nanti.


"Pelayan..."


Ma Mei Rong beteriak memanggil para pelayan yang berjaga di depan pintu, mereka semua lantas masuk saat mendengar teriakan Ma Mei Rong yang begitu lantang dan nyaring. Tak ingin mengambil masalah dan membuat kesalahan sekecil apapun, mereka dengan cepat datang menghadap.


"Hamba, nyonya muda Wu" kata mereka serentak


"Persiapkan air hangat untukku, aku ingin berendam air hangat" perintah Ma Mei Rong "lalu setelah itu siapkan peralatan rias dan pakaian berwarna emas yang baru di jahit kemarin di atas peraduanku" tambah Ma Mei Rong yang lantas langsung di patuhi para pelayan kediamannya.


"Ah, hanya tinggal menghitung waktu sebelum kita menyaksikan pertunjukan apa yang akan putri Zhang Mu Lan tontonkan, dan ekspresi seperti apa yang akan Ma Ze Dong dan Ma Xiao Qing tunjukan!"


.


.


.

__ADS_1


Disisi lain, tepatnya di pavilium Shan. seorang gadis cantik berusia 14 tahun tengah memejamkan matanya sembari menikmati pijatan ringan yang di berikan seorang dayang di kedua bahunya. Gadis cantik itu adalah Zhang Mu Lan, selepas ia bangun dari tidur siangnya, ia lantas meminta para dayang dan pelayan menyiapkan air hangat untuknya berendam dan saat ini ia tengah menikmati berendam air hangat yang di beri susu dan berbagai macam parfum dari berbagai bunga yang telah di tumbuk dan di peras sebagai wewangian.


"Yang mulia.. apakah anda menikmatinya?" tanya dayang yang memijat kedua bahuku.


"Hmm" balasku dengan gumaman.


Dayang itu terus memijitku hingga aku membuka mataku yang terpejam karna terlalu menikmati pijitan yang dayang tersebut berikan, aku lantas berkata "Istirahatlah, aku sudah merasa lebih baik" perintahku yang lantas di patuhi dayang tersebut yang langsung mengundurkan diri dengan cepat sehingga dayang lain datang menghampiri dan menggosok tubuhku dengan kain basah.


"Pastikan setelah kalian membantuku mandi untuk datang menemui kepala dayang dan meminta bonus upah dariku atas kerja keras dan pelayanan kalian" tambahku yang membuat para dayang yang berada di dalam permandian bersamaku tak sengaja memekik karna senang.


Mereka dengan cepat menutup mulutnya sebab takut dengan yang mungkin saja tiba - tiba berubah pikiran. Aku yang mengetahui hal itu hanya mengabaikannya dan berpura - pura seakan - akan tidak mendengar, namun aku tetap saja tersenyum mengetahui kebahagiaan mereka. Aku tahu ini adalah kali pertama dalam hidupku aku bersikap baik dan bermurah hati pada mereka.


"Kau sudah cukup bekerja, kurasa aku sudah cukup lama untuk berendam" kataku lantas beranjak bagun dari kolam permandian yang lantas membuat dua orang dayang berlari menujuku untuk mengeringkan tubuhku sebelum memasangkan jubah mandiku.


"Maafkan kami yang mulia, kami terlalu senang karna baru kali ini ada memberi kami bonus atas pekerjaan kami" aku salah satu dayang yang membantuku mengeringkan tubuhku.


"Meskipun kau senang masalah uang yang akan kau dapat, keselamatanmu adalah hal yang penting dari apapun. Jika kau terluka, lantas bagaimana kau bisa mencari uang?" tanyaku yang di balas gelengan oleh mereka "Ingatlah kehidupan kita keras, bukan hanya di ibukota, di dalam istanapun tidak beda jauh. Bisa dikatakan hidup di dalam istana lebih kejam dan mengerikan di bandingkan diluar istana, sebab kebebasan kalian direnggut secara paksa meskipun gaji dan kehidupan keluarga kalian terjamin" tambahku yang membuat mereka cukup terkejut.


Aku yang menyadari itu lantas tersenyum dan kembali berkata "Kalian harus tetap sehat, bagaimanapun keluarga kalian masih membutuhkan kalian, begitupun dengan aku" kataku dengan senyum lebar yang berhasil menunjukan kedua lesung pipiku.


.


.


.

__ADS_1


Siang hari akhirnya berganti petang. Kereta - kereta para mentri, pejabat kerajaan Zhang dan para bangsawan mulai berdatangan memenuhi jalan di depan pintu gerbang utama istana. Sebentar lagi malam akan menyapa, pihak keluarga kerajaan Zhang setiap tahun akan mengadakan pesta jamuan makan malam untuk perayaan ulang tahun permaisuri Yin Yin yang ke 38 tahun.


Mereka semua datang bersama istri dan anak mereka dalam jamuan makan malam. Tak ayal banyak furen yang memanfaatkan pesta yang selalu di adakan pihak kerajaan untuk mempromosikan dan membangga - banggakan putra ataupun putri mereka seraya berharap putra ataupun putri mereka menemukan masa depan yang baik.


Tamu terus saja berdatangan hingga tak terasa hari pun beranjak malam dan lampion - lampion yang menggantung dan menghiasi halaman aula utama yang telah di dirikan banyak tenda pun mulai menyala. Suasana halaman aula utama yang telah di dekorasi secantik mungkin semakin cantik dengan kerlap kerlip lampion warna warni yang menggantung.


Kursi - kursi yang di susun rapi dan sesuai dengan pangkat masing masing mentri, pejabat dan bangsawan nyaris terisi penuh. Para kasim dan dayang pun mulai menaruh satu set poci teh beserta cangkir dan cemilan dan kudapan di setiap meja para tamu. Acara perayaan masih sekitar 1 jam lagi, namun untuk menjanggal rasa lapar para tamu undangan yang menghadiri pesta perayaan, pihak kerajaan memberi para tamunya dengan cemilan dan kudapan terlebih dahulu.


Memanfaatkan waktu senggang, semua tamu memanfaatkan hal tersebut dengan membentuk gerombolan - gerombolan untuk bercerita dan saling melempar pujian dan jilatan yang sering mereka lakukan. Namun obrolan mereka seketikan terhenti saat pengumuman kedatangan tamu yang begitu mengejutkan mencuri perhatian mereka.


"Jendral muda Wu Cheng dan Nyonya Wu telah tiba...!"


.


.


.


.


.


**TBC


Senin, 14 Juli 2020**

__ADS_1


__ADS_2