POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan

POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan
Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Adakalanya kita harus berusaha ikhlas atas semua yang telah terjadi di dalam hidup ini. Namun, Semua itu memang tidaklah mudah. Perlu fisik dan mental yang kuat, Agar semuanya bisa di lalui dengan mudah.


Keindahan serta kebahagiaan kadang bisa dinikmati. Setelah banyaknya lika liku kehidupan serta permasalahan yang silih berganti datang menghampiri. Seakan kita dibuat terpuruk sedalam dalamnya. Karena ujian itu sangatlah tak bisa ditebak. Namun, percayalah pelangi selalu datang setelah panas dan hujan datang secara bersamaan.


Jakarta pukul 06.30 wib...


Beberapa bulan telah di lewati bersama, Meskipun terkadang Rilli masih sering menanyakan keberadaan Adel. Yang sampai saat ini pun masih tak bisa Brian hubungi. Bahkan, Mama Ana pun ikut bungkam akan keberadaan putrinya.


Entahlah wanita paruh baya itu, Bungkam karena ia benar benar tidak tahu. Atau mungkin memang sengaja menyembunyikan keberadaan Adel. Dan bisa saja karena desakan dari Adam. Hanya wanita itulah yang tahu. Namun, Sejauh ini Aja juga tampak tak pernah usil ataupun mengganggu lagi kehidupan Intan dan Brian.


"Sayang, Sarapan sudah siap". Rutinitas setiap paginya Intan sekarang adalah selalu berteriak. Memanggil suami dan juga putrinya.


Karena anak dan Papi itu setiap hari selalu kompak sekali. Selalu saja telat untuk sarapan. Kalau saja belum mendengar teriakan Intan. Perut yang semakin membuncit, Tak menghalangi kegiatan dan rutinitas bumil itu. Bahkan, Intan juga selalu rutin senan bumil di rumah. Renang dan lain-lain. Bagi Intan, Ia harus tetap strong dan berusaha menjaga staminanya. Karena tinggal menghitung hari lagi untuk lahiran.

__ADS_1


Greppp...


"Selamat pagi sayang".


Cup...


Satu kecupan Brian daratkan ke kening istrinya. Dan pria itu pun tampak mengulas senyum smirk nya. Sambil terus memeluk istrinya dari arah belakang.


" Ayo mas, Duduklah di tempat mu!. Aku susah gerak nih". Intan berusaha melonggarkan pelukan lengan kekar suaminya.


"Tak usah di jelaskan lagi". Jawab Intan pasrah. Ia bahkan masih sambil menata piring dan garpu di meja makan.


" Morning Mam, Pi".

__ADS_1


Brian langsung melonggarkan pelukanny pada pinggang istrinya. Kala mendengar suara sapaan dari Rilli putrinya. Hal itu jelas membuat Intan tersenyum lebar. Karena suaminya akhirnya mau duduk juga di kursi nya.


"Morning sayang". Jawab Intan dan Brian secara bersamaan.


" Waw, Nasi goreng merah". Seru Rilli yang selalu saja menyukai masakan Intan. Dan seperti nya lidah Rilli memang sangat cocok dengan masakan nusantara. Daripada western.


"Kesukaan kamu girl". Ucap Brian mengusap pucuk kepala putrinya. Rilli hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Thanks you Mam".Ucap gadis kecil itu. Ketika Intan telah mengambil kan nasi goreng merah untuk putrinya.


Intan pun mengulas senyum bahagia nya. Karena Rilli dan Brian tak pernah menolak masakannya. Apapun yang ia masak, Suami dan putrinya itu tetap saja menyukainya. Malah merek bisa makan dengan sangat lahab.


Hari ini adalah hari pembagian raport Rilli. Dan Intan serta Brian juga akan ikut datang. Untuk mewakili Rilli mengambil raport. Intan dan Brian pun tak mau melewatkan momen ini. Semua juga berkata Intan yang tak ingin membuat Rilli sedih di hari spesial nya. Karena sudah pasti setiap murid akan di dampingi oleh orang tua mereka juga.

__ADS_1


"Ayo buruan sarapan!. Nanti kita terlambat loh. Mama juga belum siap siap".


" Oke Mam". Sahut Rilli sangat antusias.


__ADS_2