
Pada akhirnya Brian masih saja ingin menjadikan Intan dan juga Adel. Pasangan dalam hidupnya. Pria itu tetap tidak mau untuk memilih. Karena ia yakin Adel masih sangat mencintai nya. Begitu juga dengan Intan.
Saat para suami selalu saja di liputi rasa bahagia nya. Ketika, Menantikan akan kehadiran sang buah hatinya. Namun, Brian malah kini rasa gundah , sedih serta bahagia menjadi satu rasa.
Brian bukannya tak bahagia, Menantikan putranya akan lahir kedunia sekitar 3 bulanan lagi. Namun, Brian juga sedang di landa kegundahan. Yang mendalam, Akan nasib pernikahannya bersama Adel kelak setelah ini.
"Papi, Kenapa Mami pulang ke tidak ajak Rilli? ".
Gadis kecil itu menghampiri Papinya. Ketika Brian keluar dari ruangan kerjanya. Dan setelah David pun telah lebih dulu keluar. Sesulit dan serumit apapun permasalahan . Yang Brian hadapi saat ini, Akan tetapi, Ketika sedang bersama putrinya. Brian tidak akan menunjukkannya.
"Mami kan harus kerja kembali sayang. Jadi, Rilli akan tetap tinggal disini ya bersama Papi!! ". Brian berjongkok agar ia bisa menatap wajah putrinya dengan mudah.
Tak dapat di pungkiri lagi, Jika Brilliant semakin lama. Makin mirip dengan Intan. Wajar saja, Jika Adel setiap kali melihat Rilli. Ia malah semakin tersiksa. Padahal, Sampai saat ini, Intan sama sekali belum mengetahui. Siapa Rilli sebenarnya.
__ADS_1
"Apa Mami akan kembali menjauh dari Rilli? ". Tanya Brilliant sendu. Sejak kecil sampai usianya segini. Rilli merasa, Jika Adel sama sekali tidak pernah perduli padanya.
Dan gadis kecil itu juga sudah bisa merasakan. Jika Maminya, Tidak seperti Mami teman temannya disekolah. Karena mereka selalu di temani dalam segala hal. Tapi, Adel seolah malah menganggap nya tidak ada.
Baru beberapa saat rasanya. Rilli mulai terbiasa bersama Adel. Namun, Sekarang maminya kembali, Akan di sibuk kan lagi akan pekerjaan nya.
"Sayang, No!!. Mami akan selalu ada buat Rilli. Dan tidak akan pernah menjauhi Rilli. Saat ini biarkan Mami bekerja dengan tenang sayang!!. Karena, Jika Rilli telah dewasa nanti, Rilli akan paham jika semua yang di lakukan Mami ataupun papi. Semuanya hanya demi kamu sayang".
Brian mengecup pucuk kepala putrinya, Dengan kecupan penuh sayang. Baru kali ini, Brian tampak berkaca kaca. Walaupun sebetulnya ia juga sangat merasa bersalah. Dengan apa yang telah terjadi. Dalam rumah tangga nya bersama Adel.
Tetapi, Apalah daya. Mungkin juga semua telah menjadi takdir. Untuk saling menerima dengan sekuat dan setulus hatinya. Namun, Apa hendak dikata. Kadang ucapan tak sejalan dengan tindakan. Dibibir bisa bilang bisa dan mampu. Tapi hati siapa yang tahu.
Masalah jika sudah menyangkut. Masalah hati, Maka akan sulit untuk membelokkan nya kembali.
__ADS_1
"Rilli, mulai hari ini. Kita akan tinggal bersama mama Intan ya!!. Karena, Papi kan harus kerja. Jadi biar Rilli ada temennya dirumah". Brian mulai membujuk putrinya.
" Mama Intan? ". ulang Rilli dengan polosnya.
Brian pun mengangguk kan kepalanya. Sambil mengulas senyum tipisnya.
" Iya sayang, Masih ingat dengan Aunty Intan kan?. Yang pernah kerumah beberapa waktu yang lalu? ". Tanya Brian mengingat kan putrinya.
Brilliant langsung menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum manis. Wajahnya seketika ceria. " Oh aunty cantik, Apa Rilli boleh panggil aunty mama pi? ". Tanya Rilli dengan raut wajah lucunya.
" Tentu sayang, Rilli boleh memanggil aunty cantik ,dengan panggilan Mama ya mulai sekarang!!! ".
" Oke papi, I love you".
__ADS_1
"Love you too Honey".