
Sinar matahari mulai menembus pentilasi udara jendela kamar rumah mewah. Dimana sang pemilik kamar itu masih saja sama sama terlelap dengan damainya. Lengan kekar sang pria bertengger di perut istrinya. Membuat tidur wanita cantik dengan kondisi perut, Yang sudah membuncit itu serasa nyaman.
Gerakan pelan perut istrinya. Membuat tidur suaminya sedikit terusik. Karena ketika perutnya bergerak tepat menyentuh tangan besar Brian.
Brian mulai mengerjapkan matanya. Dan kembali merasakan tendangan kecil di dalam sana. Jika tidak begitu ditempel kan, Maka tendangan itu tidak akan terasa. Tapi, hal itu justru membuat Brian malah tersenyum gembira. Kini Brian merasakan keaktifan baby nya di dalam rahim istrinya.
" Morning baby boy Papi. Jangan usik tidurnya Mama ya!!. Biarkan mama istirahat dulu!". Lirih Brian sambil mengusap pelan perut istrinya.
Intan yang semalam tidak bisa tidur karena demam. Kini malah tak terusik akan usapan lembut serta gerakan baby nya. Sepertinya bumil itu benar benar masuk ke alam mimpinya dengan sangat damainya.
Brian mendarat kan kecupan singkat nya pada kening dan bibir istrinya. Kemudian menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Intan. Senyum Brian kembali terbit sambil terus memandang wajah teduh milik istrinya saat ini.
" Semoga ini awal yang baik untuk kita semua sayang. Dan semoga saja Adel benar benar tulus menerima kamu dan baby untuk menjadi bagian dari hidupku juga! ". Batin Brian dengan seulas senyum kebahagiaan.
Meskipun Brian belum yakin dengan apa yang di katakan oleh Adel kemarin siang padanya. Namun, Brian akan terus berusaha untuk tetap mempertahankan keduanya meskipun sangat sulit untuk saling menerima satu sama lainnya juga.
Brian hanya tidak mau melepaskan salah satunya. Harapan Brian memang sangat keterlaluan sekali. Menyatukan dua hati wanita untuk menjadi satu perasaan yang sama. Sejatinya cinta bukanlah untuk memaksa, Tapi saling membahagiakan satu sama lainnya.
__ADS_1
Drt... Drt... Drtttt...
Ponsel milik Brian berdering. Dan ia segera meraih benda pipih itu dari atas nakas. Nama Adel muncul memenuhi layar ponselnya. Membuat Brian langsung bergegas turun dari ranjangnya. Dan pria itu menuju arah balkon kamarnya.
" Iya sayang". Sapa Brian dengan suara lembutnya.
" Bagaimana keadaan Intan pi?. Apa Papi akan sarapan disana juga? ". Suara Adel terdengar begitu lembut dan juga tak tampak sedang marah ataupun emosi seperti sebelumnya.
" Intan demam semalaman sayang, Maaf aku tidak bisa pulang lebih cepat!. Dan mungkin aku juga...
" Tidak masalah sayang, Kau bisa temani Intan sampai dia pulih!!. Jangan khawatirkan aku!. Karena mulai saat ini aku akan berusaha untuk menerimanya sebagai maduku". Potong Adel dari seberang telepon nya.
" Aku juga sayang , Jauh lebih mencintaimu ". Balas Adel
" Baiklah, aku akan mengantarkan Rilli dulu pi kesekolah nya, Nanti takutnya terlambat. Titip salam ya pi buat Intan!! ". Sambung Adel ingin mengakhiri panggilan nya.
" Iya sayang nanti aku sampaikan. Hati hati bawa mobilnya!!. Aku akan segera pulang ".
__ADS_1
Brian menatap layar ponselnya dengan perasaan tak menentu saat ini. Dimana Adel benar benar mulai berubah. Sikapnya yang dulu cenderung keras kepala dan juga selalu tidak mau dibantah. Sejak kemarin wanita itu malah mulai bersikap lemah lembut. Cara bicaranya dan tutur katanya perlahan juga mulai berubah.
Brian mengusap wajahnya kasar. Kini ia mulai kembali di lemah akan pilihan hidupnya. Brian memang serakah dan teralu egois. Ia malah ikut menjerumuskan Adel dalam masalah yang ia buat sendiri.
Greppp...
Kedua tangan dengan kulit tubuh yang putih mulus. Melingkar di perut Brian dari arah belakang. Membuat Brian menoleh dan langsung sedikit terkejut. Karena tiba tiba saja Intan malah ada di belakang nya. Memeluk perut nya erat.
" Kau sudah bangun sayang? ". Brian membalikkan badan , Hingga kini mereka berdua saling tatap satu sama lainnya.
Dahi Brian mengerut saat ia bisa melihat tatapan menggoda istrinya. Mata indah penuh hasrat yang sudah lama tidak Brian lihat. Kini malah nampak jelas di mata Brian.
" Aku merindukanmu sayang". Bisik Intan tiba tiba dengan nada suara seperti sedang menahan sesuatu.
Brian masih diam tak bergeming. Karena masih sibuk mencerna kata kata rindu dari istrinya tadi.
" Baby mungkin minta di kunjungi Papinya". Lirih Intan pelan. Karena ia malu untuk mengatakan nya.Sebab, Sebelumnya Intan sendiri yang selalu menolak. Lantaran ia takut kembali membuat kesalahan.
__ADS_1
Namun nyatanya dia malah tidak kuat. Hormon kehamilan membuat Intan mengkhianati dirinya sendiri . Dan mengingkari janjinya sendiri juga. Dia tahu jika dirinya salah saat ini. Tapi, Intan tidak bisa mengelak lagi karena tubuhnya begitu kesepian dan menginginkan belain mesra dari suaminya. Terlepas dari dosa atau tidaknya, Intan tak tahu. Yang jelas saat ini dia benar benar ingin.