
Bandara internasional Soekarno-Hatta...
Memang berat meninggalkan orang yang kita sayangi. Dengan cara yang sebenarnya, Tidak kita inginkan sendiri. Saat hati masih berharap ingin bertahan. Tetapi, Pikiran dan juga tubuh. Memilih untuk pergi.
Bukan ini yang Adel harapkan. Pernikahan yang sudah 10 tahun terjalin. Kini kembali berada di ujung tanduk. Awalnya, Adel hanya berharap. Rumah tangganya dengan Brian. Bisa kembali utuh seperti semula. Namun, Semuanya di luar kendalinya sendiri.
Brian, Malah lebih tahu dulu. Sebelum dirinya yang seharusnya menjelaskan. Agar Brian tidak memiliki pikiran. Yang tidak tidak denganya. Tetapi, Balik lagi. Nasi telah menjadi bubur.
"Tuhan, Tolong berilah aku kekuatan hati!! . Agar aku bisa hidup dengan tenang lagi!! ". Lirih Adel, Sambil terus menyeret koperny. Untuk masuk kedalam Bandara.
Adel melangkah gontai menuju kursi tunggu. Dimana, Pesawat yang akan ia naiki, Akan take Off satu jam lagi. Meskipun hatinya masih berharap. Jika, Brian datang ke Bandara. Meskipun mereka masih saling marahan.
Brakkkk...
__ADS_1
"Aww... ". Adel memegangi bahunya. Yang terbentur pada dada bidan seseorang.
" Uppss... Sorry". Ucap seorang pria. Dimana mereka sekarang tampak saling berhadapan satu sama lainnya.
Adel pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Dan tanpa ingin, Mengucapkan sepatah kata pun. Karena yang ada di dalam otak wanita itu saat ini. Hanyalah sebuah nama. Nama yang tetap melekat erat di hatinya.
Adel pun langsung duduk di salah satu kursi tunggu. Dengan wajah yang selalu menunduk. Seolah ia sedang memperhatikan sepatu nya sendiri. Tanpa sadar pria yang tadi sempat bertabrakan badan dengannya. Kini pun ikut duduk di sebelahnya.
Setelah melakukan pemikiran yang cukup panjang. Kini Brian pun mulai menghidupkan mobilnya. Dorongan dan dukungan Intan. Membuat Brian sadar, Jika Adel juga korban disini. Yaitu korban keserakahan dari Mama Ana. Dan pria itu memutuskan untuk menyusul, Istrinya sampai ke Bandara.
Brian tak mau rumah tangganya dengan Adel. Tiba tiba hancur, Karena hanya kesalahan yang satu orang buat saja. Brian berusaha untuk legowo. Dengan setiap kejadian ataupun masalah selama ini. Ia sama sekali tidak menyalahkan Adel dalam hal tersebut. Karena, Semua yang terjadi. Adalah real dari keserakahan dan ambisi ibu mertuanya.
Intan tersenyum melihat mobil suaminya, Mulai menjauh dari rumahnya. Meskipun, perasaan cemburu selalu terbit di hatinya. Namun, Setidaknya Intan bisa sedikit lega. Mungkin, Apa yang dia lakukan saat ini tak seberapa. Tetapi, akan membuat hatinya jauh lebih tenang.
__ADS_1
"Maafkan aku mbak Adel!!. Semoga mbak tidak akan pernah mengambil keputusan, Yang akan membuat aku semakin merasa bersalah! ". Guman Intan dalam doanya yang begitu tulus.
Sedangkan di Bandara sana, Adel sudah naik kedalam pesawat nya. Dengan perasaan hati yang tak menentu. Wanita itu tampak berkaca kaca. Tubuhnya memang berada disini. Namun, pikiran dan hatinya terus tertuju pada Brian dan juga Rilli.
" Maafkan Mami Rilli!. Mami, bukanlah ibu yang baik untukmu!. Maaf aku Brian!!. Aku sudah mencobanya, Untuk belajar ikhlas. Tapi, pada kenyataannya hatiku tidak sekuat itu". Guman Adel dalam hatinya.
Matanya terus tertuju pada arah luar sana. Dimana tinggal beberapa detik lagi. Pesawat nya akan segera mengudara. Tapi, Sejak tadi Brian tak kunjung datang. Adel tidak tahu, Bagaimana perjuangan Brian. Menuju arah Bandara saat ini.
Kemacetan ibu kota membuat Brian, Tak bisa datang tepat waktu. Padahal, Intan sudah berusaha keras. Membujuk suaminya. Meskipun hatinya sedikit merasa cemburu. Namun, Bumil itu menyamping kan perasaannya. Hanya demi membuat Adel tetap nyaman ,dalam hubungan mereka yang rumit ini.
"Selamat tinggal Indonesia". Lirih Adel sambil menyeka air matanya.
TBC
__ADS_1