
Adel langsung menyambut kedatangan suaminya saat mobil Brian sudah terparkir rapi di depan teras rumah mewah dua lantai itu. Senyum Adel begitu manis. Seakan tak ada masalah apapun yang sedang ia alami saat ini.
" Apa pekerjaan mu disana sudah akan kau tinggalkan?. Kenapa akhir akhir ini kau lebih leluasa untuk pergi? ". Brian langsung bertanya pada istrinya. Saat ia baru saja menginjakkan kakinya di lantai teras rumah nya.
Adel tetap tersenyum meskipun pertanyaan Brian sedikit menohok. Dan sedikit menyinggung perasaan nya. Kata kata Brian seolah tidak menyukai kedatangannya ke Jakarta. Meskipun ia adalah istri sah nya. Namun, semakin hari Adel merasa jika Brian malah seolah ingin menghindarinya.
" Apa aku sudah tidak penting lagi bagimu Pi?? ". Adel mulai bertanya seolah dirinya memang sudah tak di butuhkan lagi. Hatinya lebih sensitif akan pertanyaan yang membuat hatinya semakin sakit. Jujur tak ada satu wanita di dunia ini yang rela jika suaminya menduakan cintanya.
Adel selama ini hanya berusaha untuk tetap sabar. Dengan memilih pura pura tidak tahu akan keburukan suaminya di belakang nya. Tapi, semakin kesini Adel bukannya melihat perubahan yang lebih. Namun, hanya perubahan sikap Brian yang semakin mencolok seolah ia sudah tidak berguna lagi.
Brian menghentikan langkah kakinya. Dan kini menatap wajah istrinya yang terlihat sendu. Seorang Adel yang selama ini sangat ia kenal selalu ceria dan keras kepala. Namun, saat ini Brian malah melihat sisi berbeda dari Adel.
" Kenapa bertanya seperti itu sayang? ".Brian malah balik bertanya. Sungguh ia tidak mau satu di antara wanita malah merasakan sakit yang tak berujung. Padahal tanpa Brian sadari rasa sakit itu telah hadir sejak ia memutuskan berselingkuh dengan Intan.
Mungkin Adel jauh lebih sabar dari wanita di luaran sana. Dan mungkin bagi Adel dia juga adalah wanita yang paling bodoh. Adel merasa dia hanya mempertahankan apa yang menjadi hak nya saja. Meskipun ia juga telah mengeluarkan makian yang mungkin akan menyakiti perasaan orang lain.
" Ayo masuk!. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu sayang". Brian menggiring Adel untuk segera masuk kedalam rumah. Senyum yang tadinya merekah saat menyambut kedatangan suaminya. Kini perlahan mulai pudar .
__ADS_1
Hati Adel merasa sangat gugup akan apa yang akan dibicarakan oleh Brian. Namun, di satu sisi Adel yakin jika Brian tak akan dengan mudah untuk meninggalkan dirinya begitu saja. Terlebih lagi saat sang buah hati ada di antara mereka.
🌿🌿🌿🌿🌿
Saat ini Brian dan juga Adel telah duduk di sofa yang ada di dalam kamar mereka. Sejak masuk beberapa menit yang lalu Brian masih saja bungkam. Ia seolah tengah mempersiapkan diri untuk mengungkap kebenaran yang ada di depan Adel. Wanita yang hampir sepuluh tahun ini menemaninya.
" Sayang, sebenarnya ada apa?. Katanya ingin membahas sesuatu tadi". Selain penasaran Adel juga khawatir. Namun, ia juga tidak bisa menahan diri untuk segera tahu, Hal apa yang akan suaminya itu katakan padanya.
" Maaf". Lirih Brian sembari menatap wajah Adel begitu dalam.
Brian menarik nafasnya dalam. Dan menghembuskan nya dengan kasar Brian menggenggam kedua tangan istrinya erat. Lalu Brian mendongakkan kepalanya lagi untuk menatap wajah cantik istrinya. Yang saat ini bisa Brian lihat. Jika Adel sedang menahan air matanya.
" Aku sudah menikah lagi".
Deg...
Adel langsung terkejut dan memundurkan dirinya. Bahkan genggaman tangan Brian ia lepaskan secara kasar. Adel tertawa terbahak bahak, sembari menyeka air matanya yang luruh tanpa permisi.
__ADS_1
" Jangan bercanda Brian!!! ". Sentak Adel menatap nyalang penuh amarah pada suaminya.
Brian menggelengkan kepala tanda ia memang sedang tidak bercanda. " Baru tadi pagi kami menikah. Dan maaf sayang!!. Aku dan dia telah lama menjalin hubungan di belakang mu. Dan aku pun tidak bisa meninggalkan nya begitu saja".
Sungguh berat sebenarnya Brian untuk mengungkapkan kata kata seperti ini. Namun, Brian juga tidak punya pilihan lagi. Brian juga tidak mau sepanjang hidupnya selalu di penuhi oleh kebohongan .
Adel langsung berdiri dan melangkah menuju ruangan walk in closet tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Air matanya tumpah begitu saja. Brian pun ikut bangkit dan menyusul Adel.
Brian menghentikan Adel saat wanita itu mulai mengemasi semua barang barangnya dari dalam lemari. Brian memeluk Adel dari arah belakang. Melihat Adel menangis membuat Brian semakin merasa bersalah.
" Lepaskan aku berengsek!! ". Teriak Adel sembari berontak dari dekapan Brian. Namun, Brian malah semakin erat memeluk tubunya.
" Jangan begini sayang!!!. Aku tidak akan meninggalkan kalian dan aku juga akan bertanggungjawab pada kalian semua. Aku tidak akan menelantarkan kalian".Ucap Brian penuh penekanan.
Adel tersenyum kecut. Dan langsung menghempaskan tangan suaminya dengan kasar. " Sayang kau bilang".Sinis Adel penuh kebencian. " Kau pikir aku sudi di madu?. Dan kau pikir aku akan menerima pernikahan kalian itu? ". Adel menggelengkan kepala nya tegas. " Sampai aku mati pun, aku tidak akan rela berbagi suami dengan wanita lain".
Deg...
__ADS_1