
Kata siapa berbagai suami itu bisa ikhlas dan sabar. Nyatanya baru di tahap ini saja, Brian sudah kerepotan sendiri. Menyatukan dua keluarga saja kadang masih sulit untuk akur. Apalagi harus menambah anggota keluarga yang baru.
Mama Rena pun langsung pamit pergi setelah ia menasehati Brian. Mungkin jika di tanya kecewa, Pasti Mama Rena kecewa dan sedih akan nasib putrinya. Tapi, Mama Rena akan tetap memberikan semangat nya dan nasehat yang baik untuk sang putri. Dan ia juga akan mendukung penuh apapun yang menjadi keputusan Intan nantinya.
Meskipun Intan juga sudah kehilangan karirnya. Mama Intan tidak akan kesulitan lagi untuk membiayai hidup putri dan juga cucunya kelak. Usahanya setiap hari semakin maju saja. Memang penghasilan nya sangat jauh dari gaji Intan sebelum nya. Akan, tetapi kalau hanya untuk anak dan cucunya Mama Rena masih sanggup dan masih bisa mewah.
Brian memijat pelipisnya. Pikiran nya masih tidak tenang. Meskipun hubungan nya dengan Adel sudah membaik. Tapi, ia juga tetap memikirkan Intan. Bukan, karena Intan jauh lebih baik dari Adel. Itu hanya karena Intan saat ini adalah istrinya juga. Terlebih lagi wanita itu saat ini tengah mengandung anaknya. Darah dagingnya yang tak mungkin ia sebagai seorang ayah akan lepas dari tanggung jawabnya juga.
" Arggghhh". Lagi lagi Brian merasa sangat prustasi . Oke di depan Adel ia berusaha untuk tenang dan seakan tidak terlalu memikirkan masalah ini. Tapi, jauh dibalik itu semua hari hari Brian selama ini penuh kebingungan dan juga mumet akan masalah hidupnya.
__ADS_1
" Bagaimana?". Suara seorang pria yang sangat Brian kenal langsung membuat Brian mendongakkan kepala nya. Yang tadinya ia sedang menunduk dan menyimpan kepala nya di atas meja dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya. ".Sekarang kau harus menanggung resikonya kan? ". Sambung Jery dengan santainya duduknya tepat di depan Brian.
Sebagai seorang sahabat Jery sangat sedih akan masalah rumah tangga sahabat nya ini. Meskipun Jery juga kecewa akan ulah Brian. Yang bisa bisanya bermain api selama tiga tahun di belakang istrinya. Tapi, sebagai seorang sahabat juga Jery iba akan Brian saat ini.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang ?. Separuh hatiku sudah pergi bersamanya. Bahkan Adel juga sudah tidak seperti dulu lagi". Curhatnya lirih.
" Mana Brian yang gue kenal dulu?. Sepertinya rasa cintamu pada Intan jauh lebih besar daripada Adel sekarang? ". Sindir Jery menggeleng kan kepalanya.
" Gue sedang tidak ingin bercanda Men. Jika kau datang hanya ingin menertawakan gue. Lebih baik loe pulang aja sana!. Gue pusing". Brian memang terlihat sangat rapuh. Meetingnya pun hanya alasan belaka untuk dia keluar bertemu Jery sahabat nya.
__ADS_1
" Loe gak boleh egois gitu dong Ian!. Pikirkan anak anakmu juga!. Dan gue harap loe bisa ambil keputusan yang tegas seandainya Intan bisa loe temukan nantinya! ". Ucap Jery menatap serius pada Brian.
" Jangan paksa gue buat milih Jer!. Gue gak akan sanggup kehilangan keduanya. Mereka berdua sama sama ada di hati gue. Bahkan kalau bicara soal anak keduanya juga memiliki anak dari darah daging gue sendiri. Jadi, gak mungkin gue harus milih salah satunya ".Brian masih saja kekeh dan ia pun menggeleng kan kepalanya.
Posisi nya saat ini menjadi serba salah jika harus tetap memilih salah satunya. Ia berharap Adel dan Intan bisa saling menerima. Terutama Adel, yang memang disini masih keras kepala untuk memaksanya meninggalkan Intan.
Jery pun dibuat bingung akan pilihan yang begitu sulit ini. Jika dia dihadapkan akan posisi Brian. Mungkin Jery juga tidak bisa untuk memilih satu di antara mereka. Karena tidak mungkin dia meninggalkan dan merelakan salah satu anak untuk ikut bersama salah satu istrinya saja. Itu sama saja jika dia pengecut dan tidak adil.
" Ikut gue sekarang! ". Jery bangkit dari tempat duduknya sembari menarik tangan Brian yang tampak bingung.
__ADS_1