
Adel melangkah kan kakinya. Mengikuti langkah kaki seorang pria yang bernama Adam. Dimana pria itu kini telah berhasil membuat nya tidak mempunyai pilihan lain lagi.
Namun Adel berpikir mungkin inilah saatnya ia menjauh dari Brian. Karena hidupnya akan selalu di rundung rasa bersalah jika terus terusan berada di samping pria itu. Meskipun, Adel juga tidak tahu bagaimana kehidupan nya kedepan nya nanti setelah ini?. Apa ia akan bahagia atau malah sebaliknya?.
Tetapi, Melihat Mamanya yang sampai saat ini tidak bisa berkutik lagi. Bahkan, Mama Ana juga hanya bisa bungkam. Dan tak ingin ikut campur lebih jauh lagi tentang hidupnya. Disitu Adel bisa merasakan dan bisa menebak bagaimana berkuasanya pria yang kini ada di hadapan nya.
Sebuah bangunan nan megah, Yang sedikit jauh dari pusat kota. Bahkan, Bangunan itu berada di kota New York, Lumayan jauh dari kota tempat tinggalnya selama ini. Dimana mereka telah memakan waktu lebih kurang sekitar empat jam lebih lima menit. Untuk sampai di kota ini.
Sejak tadi Adel tak pernah bertanya, Akan dibawa kemana dirinya saat ini. Oleh seorang pria yang sama sekali sangat kaku itu. Namun, Adel begitu terkejut, Ketika mereka telah sampai di depan teras. Karena disambut oleh beberapa pelayan. Yang saat ini tengah membungkukkan badannya.
"Selamat datang tuan". Ucap seorang wanita paruh baya. Yang seperti nya dia adalah kepala pelayan di mension ini.
" Hem". Hanya deheman saja yang keluar dari mulut pria arrogant itu saat ini.
Dan kemudian kini semua orang menatap kearah Adel. Dengan tatapan sedikit tekejut. Namun, Mereka juga terlihat tak berani untuk bertanya pada tuannya.
"Siapkan kamar utama!. Selama satu minggu kedepan saya akan berada di mension! ". Ucapnya tegas dan seakan tak terbantahkan lagi.
" What satu minggu ? ". Ulang Adel tak percaya. Namun, Tak di gubris oleh Adam.
" Ayo tunggu apalagi? ".
__ADS_1
" Ba... ik tuan". Wanita paruh baya itu pun langsung menyuruh pelayan untuk segera bergegas. Sebelum majikannya yang sangat angkuh dan juga arrogant itu tersulut emosi.
Tak ada yang berani untuk membantah titahnya. Pria itu sangat tidak punya rasa kasihan sama sekali. Jika ia tidak setuju dan tidak suka. Maka ia akan langsung memecat orang itu saat itu juga. Itulah sebabnya, Semua orang yang bekerja dibawah pimpinan nya. Harus sangat ekstra hati hati dan jangan banyak tingkah. Jika nasibnya dan juga karirnya tetap aman.
"Dimana Adibah?". Tanya nya pada ketua pelayan.
"Ada di dalam kamarnya tuan".
Pria itu pun langsung beranjak pergi dari hadapan para pelayan itu. Sedangkan Adel pun ikut menyusul langkah Adam. Karena ia akan melayangkan protesnya saat ini juga. Ia tidak akan mau jika sampai pria itu kembali mengambil kesempatan . Dengan memanfaatkan keadaan nya yang sudah tersudut itu.
"Hei, Tunggu!. Kau tidak bisa seenaknya begini padaku. Aku ini bukan budakmu". Tegas Adel mulai emosi.
"Lalu kenapa, Kau membawaku kemari?. Dan kenapa juga kau hanya minta di siapkan satu kamar saja?. Bukankah aku juga butuh kamar untuk istirahat selama aku disini? ". Cerocos Adel sedikit kesal.
"Kau itu cerewet dan banyak maunya. Pantas saja di tinggal selingkuh oleh mantan suamimu".
" Kau... ". Adel sangat geram dan ingin menampar Adam. Tapi langsung di cekal oleh Adam.
" Jangan membantah!. Jika kau tidak ingin hidupmu akan jauh lebih menderita lagi! ". Ancam Adam penuh penekanan.
" Kita batalkan saja surat perjanjian itu!. Aku tidak mau selalu di atur dan dibawah kendali pria kejam seperti mu". Tegas Adel tak ada takut takutnya.
__ADS_1
Adam pun langsung menatap nya. Dengan tersenyum mengejek. Lalu pria itu mendekatkan bibirnya tepat di telinga Adel.
"Jangan harap bisa kabur dariku, Setelah kau menyanggupi semua persyaratan nya Adel". Bisik Sang pria dengan suara tegas nya.
" Daddy ". Suara seorang anak remaja wanita. Membuat Adel dan Adam pun langsung menoleh.
Dimana Adel bisa melihat gadis remaja yang sangat cantik, Dengan memegang tongkat tampak sangat terbiasa melangkah dengan hati hati. Mencari sumber suara yang ia kenal.
" Daddy, Apa Mommy sudah pulang? ". Tanyanya sambil menggerakkan tangannya. Untuk mencari sesuatu.
Adam pun hanya diam di tempat nya berdiri. Kini tatapan pria itu tampak sulit untuk di artikan. Membuat Adel bingung sekaligus iba. Dengan keadaan remaja itu yang ternyata tidak bisa melihat.
" Daddy, Tadi aku mendengar suara Mommy. Apa Mommy sudah kembali?. Dimana Mommy Dad? ". Tanya nya lagi begitu antusias untuk mencari sumber suara wanita. Yang menurutnya adalah sang Mommy.
Tubuh Adel membeku di tempat nya berdiri. Dengan tatapan yang sangat sendu. Ketika tubuhnya di gapai oleh tangan halus seorang remaja cantik. Berambut pirang itu.
" Mommy ".
Deg...
TBC
__ADS_1