
Jakarta pukul 13.00 wib...
Tawa renyah penuh kegembiraan. Terdengar jelas di telinga. Ketika Brian melangkah kan kakinya masuk kedalam rumah mewah. Rumah tempat tinggal istri keduanya yaitu Intan. Langkah Brian langsung terarah pada ruang keluarga.
Brian berdiri di depan pintu. Dan bisa melihat dengan jelas. Bagaimana putrinya bisa tertawa lepas tanpa beban. Saat ia sedang bersama Intan. Wajahnya kian hari kian menunjukkan kebahagiaan nya. Tak sadar Brian pun ikut tersenyum. Melihat interaksi keduanya saat ini.
"Mama, Apa adik bayi nya masih lama lahirnya? ". Tanya Rilli dengan wajah lugunya. Bahkan tangan kecil itu terulur untuk menyentuh perut buncit Intan.
" Tidak akan lama lagi sayang, Doakan saja supaya adik bayi nya selalu sehat. Biar nanti Rilli bisa ada teman mainnya". Intan menjawab dengan senyum dibibirnya.
"Tapi, Kan adik bayi nya cowok Ma. Apa dia mau Rilli ajak main boneka juga? ".
__ADS_1
Intan pun langsung tertawa terbahak bahak. Wajah polos dan lugu Rilli. Terlihat sangat menggemaskan saat ia bertanya hal seperti itu tadi. Dan membuat Intan tak tahan lagi, Untuk menahan tawanya.
" Kalau cowok jangan di ajak main boneka dong sayang. Kalian tak harus main dengan barang dan benda yang sama. Tapi, Kalian akan tetap bisa bersama sama ".
" Mama ingin kalian berdua saling menyayangi satu sama lainnya kelak!. Jangan pernah ribut dan bertengkar!. Karena Mama ingin kalian tetap akur sampai kalian dewasa ". Nasehat Intan tulus.
" Iya Mama, Rilli janji akan selalu sayang sama adik bayi ".
" Promise ". Ujar Intan sambil mengusap lembut pucuk kepala Rilli.
Brian memilih pergi dari sana. Karena ia tak ingin Intan melihat nya sedang menitikkan air matanya saat ini. Saking terharunya Brian, Akan interaksi anak dan ibu itu. Membuat Brian tak mampu lagi menahan air matanya.
__ADS_1
Brian merasa manusia paling berdosa saat ini. Ia bagaikan pria pengecut dan lemah. Karena sampai saat ini ia masih saja sulit untuk mengambil keputusan. Brian sadar jika dirinya begitu serakah dan egois. Namun, Rasanya begitu berat untuk menentukan pilihan.
Ingin sekali rasanya Brian jujur saat ini. Mengatakan semuanya pada Intan tentang Brilliant. Dan memohon maaf pada istrinya itu. Karena telah mengorbankan dirinya untuk menghasilkan anak. Meskipun semua itu juga bukan salah Brian. Tetapi, Disini Brian ikut tak becus jadi kepala rumah tangga nya sendiri.
Brian memilih untuk masuk kedalam ruangan kerjanya. Karena di perusahaan pun Brian tampak gelisah. Dan merasa tak tenang. Pikirannya masih saja kacau. Karena sampai saat ini. Adel belum juga bisa untuk dihubungi. Sedangkan orangnya disana. Memberitahu nya, Adel sudah kembali bekerja pada dunia hiburan.
"Maafkan aku Intan!!. Maafkan aku Adel! ". Lirih Brian setelah ia duduk di kursi kerjanya. Yang ada di dalam ruangan tersebut.
Mama Ana terus memintanya untuk membuat pilihan. Sedangkan Mama Rena, Meminta nya untuk bersikap adil. Jika ia ingin tetap melanjutkan pernikahannya dengan Intan. Sedangkan Sang kakek, Selalu mendorongnya untuk melepaskan salah satunya.
Hal itu semakin membuat Brian jadi merasa pusing. Ia masih ingin melanjutkan dunia pernikahan ini. Dan berusaha untuk bersikap adil. Terhadap keduanya, Ingin sekali rasanya Brian terbang ke Amerika. Namun, Brian juga tidak mau meninggal kan Intan di rumah sendiri. Meskipun ada art. Tapi, Saat ini Rilli juga sedang bersama mereka. Kandungan Intan yang semakin lama semakin membesar. Rasanya Brian tidak tenang meninggal istrinya dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Apalagi hampir setiap malam Intan kadang selalu demam. Dan setiap hari juga ia tidak bisa makan apapun. Hal itu membuat Brian khawatir saat ia jauh dari Intan. Intan saat hamil terlalu sensitif dan pemilih makanan. Ia tidak bisa makan makanan sembarangan. Karena perutnya juga akan menolak nya.