
Perihal luka tapi tak berdarah, Ternyata itu jauh lebih perih dan terasa begitu menusuk. Membuat dada terasa sesak dan jiwa penuh kehampaan. Dimana luka yang tak terlihat sangat menyakitkan ,dibandingkan dengan sebuah luka robekan benda tajam ataupun belati.
Yang mana luka robekan benda tajam, Masih bisa di sembuhkan dan di obati oleh obat obatan. Tetapi, Jika yang luka adalah hati. Maka, sangat sulit untuk disembuhkan. Butuh waktu dan juga keikhlasan agar luka tersebut, Bisa cepat pulih dan juga sembuh tanpa adanya embel embel keterpaksaan.
Sejatinya Cinta memang tak harus saling memiliki. Meskipun saling menyayangi , Adakalanya cinta butuh pengorbanan dan juga keridhaan. Kala cinta yang sudah lama terjalin luput dari genggaman.
Mungkin itulah yang kini harus Adel lakukan. Berusaha untuk tetap ikhlas, Jika ia ingin hidup dengan tenang. Apalagi, Perjodohan dan juga pernikahan nya dari awal. Sudah di awali dengan sebuah kebohongan dan akan selalu di bumbui dan di timbun kembali oleh kebohongan kembali.
"Sudah mama bilang sejak awal. Jangan gegabah Adel!. Tapi , Apa yang sekarang kamu rasakan?. Itu semua karena kebodohan kamu sendiri".
__ADS_1
Mama Ana masih saja tak mau ikut di salah kan, Dan terus saja memaksa Adel untuk tetap kekeh. Memiliki Brian seorang. Dan membujuk Adel agar tidak mau menyerah begitu saja. Sebagai seorang ibu, Seharusnya Ana sadar diri. Semua yang terjadi awalnya karena ulahnya sendiri. Dan kini membuat Adel masuk dalam kebohongan nya juga.
"Cukup Ma!!. Cukup. Adel tidak akan sanggup jika bertahan dengan suami. Yang cintanya sudah terbagi seperti ini".
Adel kembali menitik kan air matanya. Tubuhnya sudah lelah. Begitu pula dengan hatinya. Yang jauh lebih lelah lagi. Adel rasanya ingin pergi sejauh yang ia inginkan. Mencari suasana baru. Yang juga bisa mungkin membuatnya hatinya jauh lebih damai.
Sakit yang Adel rasakan saat ini, Bukan hanya karena Brian mendua. Tetapi, Karena ulah sang Mama. Sebab, Mama nya selalu saja mengambil keputusan sendiri. Tidak pernah mempertimbangkan dampak buruk. Dari semua hal yang ia lakukan.
" Intan tidak merebut Brian dari ku Ma. Tapi, Aku". Sahut Adel lirih. ".Akulah disini yang merebut Brian darinya, Aku yang sudah memisahkan mereka sejak dulu. Jadi, jangan salahkan takdir, Jika mereka di pertemukan kembali. Meskipun Jalan nya harus seperti ini". Sambung Adel sambil terus menyeka air matanya.
__ADS_1
Adel hanya bisa miris meratapi perjalanan hidupnya. Perjalanan cintanya. Yang mungkin harus kandas di tengah jalan seperti ini. Meninggal kan luka yang sangat menyakitkan untuknya. Wanita itu juga sadar, Jika apa yang telah ia lakukan saat ini. Mungkin juga belum ada apa apanya. Ketimbang Intan tahu, Apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalunya.
"Bodoh kamu Adel. Sangat bodoh". Ana masih saja terus memojokkan putrinya. Seolah dialah wanita paling pintar dan juga paling cerdas saat ini.
Wanita paruh baya itu masih saja, Tak sadar diri dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalunya. Seandainya Ana memilih untuk jujur dengan kondisi putrinya dulu. Mungkin juga hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Hidup Adel selalu di setir oleh Mamanya.
"Iya ma, Adel memang bodoh. Bodoh karena Adel terus menjadi benda yang selalu Mama arahkan. Sesuai keinginan Mama".
"Adel". Ana begitu marah dan menatap putrinya dengan sangat tajam. Karena baru kali ini Adel berani membantahnya.
__ADS_1
" Adel, Mohon ma!. Mulai saat ini, Jangan pernah ikut campur urusan rumah tangga Adel lagi!. Sudah cukup Mama membuat semua kekacauan selama ini!!. Sorry ma, Jika kata kata Adel menyakitkan untuk Mama dengar!!. Biarkan Adel sendiri, Yang akan menyelesaikan semua ini! ".
Setelah mengucapkan itu, Adel pun langsung pergi dari hadapan mamanya. Tak perduli lagi teriakan dari Ana. Karena Adel saat ini, Hanya ingin ketenangan saja. Pikiran nya beberapa bulan ini sangat kacau. Dan inilah saatnya Adel bangkit serta memperbaiki kualitas dirinya. Memulai nya dari awal agar lebih baik lagi dari sebelumnya nya.