
Di tempat yang berbeda juga saat ini. Seorang wanita dengan kondisi perut yang semakin hari mulai terlihat, tampak sedang duduk di sebuah kursi yang ada di taman belakang villa mewah di kawasan puncak.
Sudah satu bulan ini ia pergi meninggalkan orang yang ia cintai. Termasuk Mamanya sendiri. Jarak yang tak begitu jauh namun serasa seakan sangat jauh dari orang tuanya sendiri.
" Nyonya lebih baik masuk saja!!. Hari sudah mulai gelap ". Ucap seorang wanita paruh baya, Yang selama satu bulan ini menemaninya dan membantu mengurus semua kebutuhan nya.
Intan tersenyum dan mulai bangkit dari tempat duduknya. Melangkah masuk kedalam villa mewah, Dimana disinilah ia berada selama satu bulan ini. Mengungsikan dirinya menjauhi pria yang sudah menikahinya.
__ADS_1
Jika di katakan rindu, Ya. Saat ini sungguh Intan sangat merindukan pria itu. Nama Brian selalu hadir dalam pikirannya. Nyatanya untuk menjauh pun ia belum sanggup. Namun, demi kebaikan mental dan juga pikirannya. Intan lebih memilih untuk pergi. Rasanya sangat sakit jika harus terus menerus di hina dan di maki dengan kata kata yang begitu menusuk hatinya.
Intan sadar akan kesalahan nya sendiri. Benar benar sangat sadar diri. Ia salah karena telah masuk dalam rumah tangga orang lain. Membiarkan Brian hadir dalam hatinya. Jika di nilai menurut sudut pandang Intan. Disini ia hanya melakukan satu kesalahan. Yaitu sudah jadi orang ketiga dari pernikahan Brian dan Adel.
Namun, bagi Intan ia juga masih ada harga diri. Ia memang jahat telah menempatkan nama Brian di dalam hatinya. Tapi, itu hanyalah sebuah perasaan yang tidak bisa di atur dalam hidup sesuka hatinya. Cinta memang membutakan segalanya. Karena Cinta juga Intan menjerumuskan dirinya dalam hubungan yang salah.
Tetapi, tidak pantas bagi orang lain hanya bisa menilai dari segi satu kesalahan saja. Intan tidak menyangka orang berpendidikan dan juga kelas atas seperti Adel. Bisa bisanya memojokkan dirinya atas apa yang terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
Tapi, semua itu tidak di lakukan oleh Intan. Karena ia benar benar tulus mencintai Brian. Namun, yang namanya orang sudah sakit hati dan kecewa. Mereka tidak akan pernah bisa menerima penjelasan dalam bentuk apapun lagi. Yang ada orang ketiga yang menjadi target awal hancurnya rumah tangga.
" Nyonya mau makan sesuatu?. Nanti biar bibik buatkan". Ucap Wanita paruh baya itu menatap kasihan pada Intan.
" Gak usah bik. Lagi gak pengen makan apa apa ". Intan tersenyum tipis. ".Bibik istirahat saja!. Nanti kalau mau makan saya bisa cari sendiri kok".
Intan kembali melangkah gontai menuju kamarnya. Hidupnya kini benar benar sudah hancur, Karirnya juga sudah musnah. Beruntung ia masih memiliki sahabat yang sangat baik. Bahkan, Ia mau membantu nya dan meminjamkan Villa keluarganya untuk tempat tinggalnya. Tak hanya itu sahabatnya juga menyediakan fasilitas serta seorang pelayan untuk menemani nya selama disini.
__ADS_1
Kekuatan Intan saat ini hanyalah janin nya. Ia akan berusaha untuk membesarkan anaknya seorang diri. Dan ia juga tidak akan melibatkan Brian dalam hal ini. Intan memang salah pergi begitu saja dari hidup Brian. Sedangkan statusnya adalah seorang Istri.
Seharusnya Intan bicara baik baik dulu dengan Brian. Dan mereka harus membuat keputusan bersama. Tapi, karena begitu emosi dan merasa di permainan kan, Intan memilih pergi tanpa berpikir panjang lagi. Intan bahkan sampai saat ini tidak mengaktifkannya ponselnya. Ia takut Brian akan menemukan dirinya jika sampai ponselnya menyala.