POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan

POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan
Perihal Kado


__ADS_3

Esok harinya kediaman Brian sudah ramai dengan teman teman sekolah Rilli. Dimana acara dadakan yang di adakan di rumah mewah itu. Adel dan Mama Ana sudah berdiri di samping Rilli. Dimana Rilli juga sudah memakai gaun yang sangat indah melekat di tubuh kecilnya. Kulit putih dengan mata yang sipit.


Jika Adel berdiri di samping Rilli seperti saat ini. Keduanya bahkan tak tampak seperti ibu dan anak. Sangat berbeda dan tak ada yang mirip sedikitpun.


Brian yang baru tiba dan langsung bergabung dengan anak dan istrinya. Dengan membawa sebuah kotak persegi dan dibalut dengan pita bewarna biru muda.


" Papi". Rilli pun langsung tersenyum saat ia melihat kedatangan Papinya. Begitu juga dengan Adel ia pikir Brian tidak jadi pulang. Karena sejak tadi nomor ponsel Brian tidak bisa dihubungi sama sekali.


" Happy birthday sayang, doa terbaik untukmu". Ucap Brian begitu tulus untuk sang putri yang kini telah berusia tujuh tahun.

__ADS_1


Brilliant pun langsung memeluk Papinya. Karena selama ini juga hanya Brian tempat Rilli untuk mengadu. Meskipun Rilli tinggal bersama Mama Ana dan terlihat lebih dekat dengan Grandma nya daripada Adel. Namun, Rilli tidak pernah menceritakan apapun yang ia alami disekolah , maupun apa yang ia inginkan.


Tetapi berbeda saat ia bersama Papinya. Rilli selalu menceritakan kegiatannya. Bahkan, hal yang tidak membuat nya nyaman pun Rilli ceritan. Termasuk saat ia mengeluh karena Maminya sama sekali tidak perduli terhadapnya.


" Ini kado buat kamu sayang". Brian memberikan dua bingkisan dengan beda pita pada Rilli. Satunya sedikit besar dan satu lagi kotaknya kecil.


" Thank you Papi". Ucap Rilli begitu senang karena Papinya selalu memberikan ia kado setiap ia ulang tahun. Meskipun baru kali ini Rilli merasakan moment ulang tahunnya lengkap. Ada Mami dan Papinya yang bisa kumpul.


Brian pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Sambil tersenyum manis pada putrinya." Semoga kamu suka sayang dengan kadonya ". Brian mengusap pucuk kepala putrinya sayang. Dan ikut mendaratkan kecupan singkat di kening Rilli.

__ADS_1


" Apapun isinya, Rilli bakalan menyukainya Pi. Apalagi warna pitanya adalah warna kesukaan Rilli". Ujarnya dengan senyum yang merekah . Tampak jelas sekali di wajah anak itu. Jika ia sangat menyukai pemberian Papinya.


Adel yang sejak tadi menyaksikan interaksi Brian dan Brilliant putrinya. Hanya bisa tersenyum tipis, Sikap Rilli sangat berbeda saat ia menerima kado dari Maminya. Padahal Adel memberikan kado yang harganya cukup mahal dan fantastis. Namun, sepertinya Rilli malah kurang menyukai barang mewah.


" Sayang, ada apa? ". Brian kini menghampiri istrinya dan bertanya karena Adel sejak tadi hanya diam tanpa berniat ingin ikut menimpali percakapan anak dan suaminya itu.


" Ah, tidak Papa Pi. Ayo kita mulai saja acaranya!. Temen temen Rilli sudah menunggu sejak tadi". Adel berusaha menahan dirinya. Yang memang selalu merasa aneh dengan Rilli. Ia rasa Rilli seperti orang lain baginya.


Meskipun Adel masih ingat betul jika tujuh tahun yang lalu, Ia sendiri yang melahirkan Rilli di rumah sakit. Dan entah kenapa Adel malah seolah dirinya dan Rilli sangat jauh berbeda. Anak itu sifatnya tak mewariskan sifat Papi maupun Maminya. Karena sebetulnya Brian dan Adel adalah orang orang yang menyukai barang barang mewah. Mereka sudah hidup enak sejak kecil. Terbiasa memiliki barang barang berkelas membuat mereka tak terbiasa akan kesederhanaan.

__ADS_1


Namun, Rilli justru berbanding terbalik dengan mereka berdua. Anak itu malah lebih menyukai hal hal sederhana. Dan bukannya ia menolak ataupun tidak bersyukur untuk hidup dalam kemewahan. Akan tetapi Rilli tidak terlalu mementingkan penampilan yang berlebihan.


__ADS_2