
Sedangkan di sebuah rumah mewah tampak seorang wanita muda. Yang mana perutnya sudah mulai membuncit karena usia kandungannya juga sudah lebih empat bulan. Kini ia semakin menaruh harapan pada baby nya. Harapan dimana nantinya ia akan hidup jauh lebih baik lagi kedepannya. Meskipun pada akhirnya ia akan merasakan sakit seorang diri.
Saat ini Intan sedang duduk di sebuah kursi di taman belakang. Brian sepertinya memang sengaja menyiapkan rumah dengan memiliki taman bunga mawar putih yang sangat ia sukai itu. Suaminya itu nampaknya telah mempersiapkan semuanya. Agar dirinya betah untuk tinggal disini.
Ponselnya berdering, Membuat Intan langsung tersenyum. Karena itu adalah telpon dari suaminya, Padahal pria itu belum ada sehari pulang kerumah istri pertamanya. Tapi, baru saja dua jam yang lalu. Tapi, Brian malah sudah menghubungi nya kembali.
" Assalamu'alaikum, mas ".
" Waalaikumsalam sayang, kau sedang apa? ". Tanya Brian saat ia melakukan panggilan video call di dalam sebuah ruangan. Tampaknya itu adalah ruangan kerjanya, Bahkan pria itu sudah terlihat jauh lebih segar.
" Mas habis mandi ya? ".Tanya Intan memperhatikan penampilan suaminya. Anggukan kepala suaminya membuat Intan sedikit miris.
__ADS_1
Namun, bumil itu berusaha untuk tidak ambil pusing. Tentang apa saja kegiatan suaminya saat berada di rumah istri pertama nya. Karena, itu adalah hak dan kewajiban nya juga. Untuk mengayomi dan menafkahi nya.
Intan kadang tidak tahu, dengan apa yang ia rasakan tiba tiba. Hatinya kadang merasa iri saat Brian pulang ke rumah utama. Padahal, Intan juga sadar jika dirinya hanya orang ketiga. Dan seharusnya ia sadar lebih dalam akan posisi itu. Dimana ia pasti akan selalu di nomor duakan dan akan sangat jarang untuk di utamakan.
Konsekuensi inilah yang seharusnya Intan terima dengan hati yang lapang. Namun, sebagai seorang wanita yang selalu memakai perasaannya. Di bandingkan logika, Maka tak jarang mereka selalu merasakan tidak rela. Apalagi posisi Intan saat ini sedang hamil. Mood nya turun naik tanpa sebab.
" Ada apa sayang? ". Brian bertanya pelan. Ia tahu istrinya sedang berpikiran tentang kegiatan nya di rumah utama.
Walaupun Brian sebenarnya merasa ada sedikit kejanggalan. Namun, Brian juga tidak mau menyia nyiakan kesempatan saat ini. Dimana istri pertama dan keduanya akan di pertemukan.
" Tidak ada apa apa sayang. Aku hanya merindukan mu saja". Sahut Intan sedikit berbohong. Meskipun ia juga sebenarnya sudah sangat merindukan belain mesra suaminya itu. Tapi, demi tekadnya. Intan harus kuat dan juga ridho saat belum bisa di sentuh oleh suaminya.
__ADS_1
" Besok, sebelum ke kantor. Aku akan udahan untuk mampir ya. Aku juga sangat merindukan mu sayang". Brian tersenyum smirk. Membuat Intan pun menganggukkan kepalanya.
" Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu sayang. Tapi, besok pagi saja ya!. Sekalian ke kantor, Sepertinya jika lewat telpon kurang afdol ". Sambung Brian lagi. Lebih memilih untuk bicara saat mereka bertemu.
" Baiklah, Terserah mas saja". Intan kembali memasang senyum teduhnya.
Tanpa Brian ketahui di luar ruangan kerjanya. Tepat di depan pintu ruangan itu. Adel. sedang berdiri sambil memegang segelas kopi hangat untuk suaminya. Namun, ia mengurungkan niatnya saat akan masuk. Karena mendengar perbincangan antara Brian dan juga istri keduanya.
Meskipun sakit dan sesak rasanya. Saat mendengar dengan jelas. Pria yang berstatus suaminya itu, Bicara dengan wanita lain dengan kata kata mesranya. Namun, Adel pun harus belajar kuat .Untuk saat ini tak banyak yang bisa ia lakukan. Selain mencoba menerima dan berusaha untuk ikhlas.
Adel pun memilih pergi dan memanggil art nya saja. Wanita itu nyatanya tak sekuat yang ia perkirakan sebelum nya. Karena menjalani jauh lebih susah, Di banding kan dengan merencakan.
__ADS_1
TBC