POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan

POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan
Aku Ingin!


__ADS_3

Di belahan bumi yang berbeda juga saat ini. Intan baru saja membacakan dongeng untuk Rilli. Dan setelah melihat Rilli tertidur. Intan mengecup pucuk kepala gadis kecil itu dengan sangat sayang.


Di perhatikan nya terus menerus wajah Rilli. Yang semakin kesini, Malah semakin mirip dengannya ketika masa kecil dulu.


"Meskipun, Kamu bukan putri kandung Mama. Tapi percayalah sayang!. Mama sudah anggap Rilli sebagai putri mama Sendiri". Liriknya sambil mengulas senyum manisnya.


Tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran dan hati Intan. Untuk membeda bedakan anak anaknya kelak. Intan sudah sangat sadar diri. Jika retaknya rumah tangga Brian, Juga karena kehadirannya. Dengan demikian, Mulai saat ini. Intan telah membuat keputusan. Jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan Brian dan juga Rilli.


Meskipun awalnya, Intan juga tidak setuju jika Adel. Ternyata sudah menggugat cerai suaminya. Namun, Dibalik itu semua. Intan masih memberikan saran dan nasihat untuk Brian. Agar suaminya juga jangan membuat keputusan gegabah dulu. Intan tidak mau mengorbankan Rilli dalam keretakan rumah tangga Papi dan Maminya.


Bahkan, Intan tidak mau jika sampai Rilli juga ikut membenci nya. Saat tahu kedua orang tuanya bercerai. Karena kehadirannya juga. Kasih sayang Intan saat ini memang sangat tulus. Ia memperlakukan Rilli dengan sebaik mungkin. Meskipun Intan tahunya dia adalah ibu sambung untuk Rilli. Karena sampai saat ini, Brian juga belum mempunyai keberanian untuk mengungkapkan identitas Rilli sebenarnya. Begitupula dengan Mama Rena, Mama kandung Intan.


Intan menoleh kearah nakas, Dimana jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, Sampai saat ini belum ada tanda tanda suaminya akan pulang. Bumil itu mulai bangkit dari atas tempat tidur putrinya. Dan meraih ponsel nya di atas nakas.

__ADS_1


Mencoba menghubungi Brian. Yang memang sedang pergi ke luar kota bersama Jerry sahabatnya. Karena mereka mulai meninjau proyek pembangunan apartemen baru disana.


Belum juga sempat Intan menelpon. Ponsel nya lebih dulu berdering. Dan nama Brian muncul memenuhi layar ponsel nya. Intan pun segera menggeser tombol hijau di layar ponsel nya.


"Assalamu'alaikum sayang, Kenapa belum juga pulang?. Apa terjebak macet lagi? ". Cecar Intan dengan pertanyaan nya.


Terdengar suara kekehan kecil dari balik telpon. Membuat Intan sedikit menautkan kedua alisnya. " Kenapa malah tertawa? ". Tanya Intan lagi.


" Sayang, Apa kau tidak mendengar suara mobil ku datang?".


Saat ini Brian memang sengaja melakukan panggilan telepon biasa saja. Dan hal itu membuat Intan penasaran. Dimana suaminya saat ini. Benar saja, Ketika ia melangkah kearah kamar utama. Brian baru saja muncul dari balik pintu kamarnya.


Bahkan, Pria itu telah terlihat jauh lebih segar dengan rambut yang masih sedikit basah. Brian juga hanya memakai baju kaos warna putih yang ia padukan dengan celana pendek nya saja. Hingga bulu bulu halus di betis dan pahanya. Sangat terlihat jelas dimata Intan.

__ADS_1


"Apa mas udah makan? ". Intan bertanya sambil mematikan sambungan telepon nya.


"Sepertinya aku hanya ingin makan yang lain saja sayang". Brian malah menggoda istrinya.


" Kamu itu, Selalu saja meminta yang aneh aneh". Timpal Intan seraya mendorong pintu kamarnya. Untuk masuk kedalam sana. Dan disusul oleh Brian juga, Lalu pintu pun langsung di kunci rapat oleh Brian.


Intan hanya diam, Sambil melirik kearah suaminya. Dimana Brian malah ikut mengejarnya, Untuk masuk kedalam ruangan walk in closet.


Niatnya Intan hanya ingin mengganti dress nya dengan daster saja. Karena menurut nya, Dengan perut yang sudah membuncit seperti itu. Lebih leluasa memakai daster longgar.


"Jangan di pakai dulu sayang! ". Brian menghentikan tangan Istrinya. Lalu satu tangan Brian malah mulai menyentuh bukit sintal nan padat berisi itu dengan nakal.


" Mas... ".

__ADS_1


" Aku ingin sayang". Bisik Brian dengan suara beratnya.


__ADS_2