POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan

POV PELAKOR:Gairah Wanita Simpanan
Menghargai Privasi Suami


__ADS_3

Satu Bulan kemudian...


Brian yang sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Tampak begitu fokus karena, Hari ini ia memutuskan untuk bekerja dari rumah saja. Sedangkan Intan dan Rilli sedang berada di dapur. Rilli sekarang sudah sering ikut memasak bersama Intan. Bumil itu meskipun kadang suka mual untuk bau nasi hangat. Tetapi, Ia tak pernah lepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


Intan masih saja menyempatkan diri untuk tetap memasak buat suaminya. Apalagi sekarang Rilli juga sudah tinggal bersama mereka. Karena Grandpa David juga telah kembali ke Negaranya.


"Nyonya ada paket untuk tuan". Seorang Art datang membawa sebuah benda yang dibungkus rapi dengan lapisan plastik bewarna putih serta bablewrap.


" Oh iya bik, Tolong letakkan saja di meja bar dulu ya!!. Nanti biar saya yang kasih ".


" Baik Nyonya".


Intan langsung mencuci tangannya. Karena ia baru saja mengupas bawang merah. Lalu melepaskan clemeknya.


"Rilli, Mama antar paket nya dulu ke papi ya. Gak lama kok. Kamu sama bibik dulu ya!! ".


"Oke Mam". Sahut Rilli yang sedang asyik mengupas bawang merah juga.


Intan pun tersenyum teduh. Lalu mengusuk kepala Rilli pelan. Kemudian ia mengambil paket yang tadi di letakan oleh artnya di atas meja bar. Setelah itu langsung beranjak pergi dari dapur. Menuju ruangan kerja suaminya. Yang memang berada di lantai satu.

__ADS_1


Tok... Tok.. Tok..


"Mas, Apa aku boleh masuk? ". Intan mengetuk pintu ruang kerja suaminya. Sebelum ia masuk kedalam sana.


" Masuklah sayang!!! ". Sahut Brian dari dalam ruangan.


Ceklek...


Intan langsung membuka pintu ruangan itu. Dan di sambutt oleh senyuman manis suaminya. Brian malah langsung menepuk pahanya. Agar Intan duduk disana. Bumil itu hanya mengulas senyum teduhnya saja. Dan segera menghampiri suaminya.


" Apa pekerjaan mu masih banyak mas? ". Intan bertanya setelah ia duduk di pangkuan suaminya.


"Dia tidak mabuk lagi kan. Saat berada di dapur? ". Tanya Brian sedikit meledek istrinya juga. Karena perut Intan semakin terlihat membuncit saja. Dengan usia kandungan nya yang sudah tujuh bulan.


Intan menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum. " Sepertinya dia sudah mulai kuat seperti Papinya". Jawab Intan sedikit menggoda suaminya.


"Ini masih siang sayang, Jangan menggoda ku seperti ini!! ". Brian mulai jahil dan dengan sengajanya meremas bokong bulat Intan.


" Aku belum kelar masak loh mas. Nanti Rilli bingung lagi, Kenapa Mamanya kok gak balik balik kedapur?". Intan memperingatkan suaminya. Sebelum Brian kalab seperti biasanya.

__ADS_1


"Oke, Aku akan sabar sampai nanti malam".Ujar Brian tersenyum menggoda.


Intan mulai bangkit dari pangkuan suaminya. Dan mengecup bibir sensual itu sekilas. Lalu menyodorkan paket yang tadi di terima oleh Art nya.


Dahi Brian mengerut kala ia melihat benda yang di sodorkan istrinya. " Apa ini sayang? ". Tanya Brian penasaran.


Intan mengangkat bahunya tidak tahu. Tapi, Intan juga sudah baca nama pengiriman nya tadi. Dan itu dari Adel. Bahkan paketnya juga dari Amerika.


" Mungkin penting mas. Bukalah!!. Aku akan kembali ke dapur lagi". Intan sedikitpun tak ingin kepo dengan isi paket tersebut. Karena Intan juga tidak selalu menghargai privasi suaminya.


Apalagi itu dari Adel. Yang merupakan istri Brian juga. Bahkan, Adel juga telah rela jika ia memiliki madu. Bahkan berulang kali Adel bilang. Untuk segera meresmikan kembali pernikahan suaminya dengan Intan.


Namun, Intan dan Brian sepakat. Untuk menikah kembali setelah baby boy lahir nanti saja. Selain itu Intan juga masih terus menghargai perasaan Adel.


"Aku keluar dulu sayang, Nanti akan aku panggil saat makan siang ".


" Baiklah sayang, I love you". Seru Brian tersenyum ketika istrinya telah berada di ambang pintu.


"Love you too".

__ADS_1


__ADS_2