
Sedangkan dari lantai atas Adel pun hanya bisa tersenyum miris akan nasib pernikahannya saat ini. Adel mulai ragu untuk tetap mempertahankan pernikahannya yang memang sudah tidak sehat sejak awal. Hatinya benar benar terluka saat ini. Bahkan, Untuk membenci pun ia sudah tidak bisa.
Adel kecewa dengan Brian, Namun Adel juga jauh lebih kecewa dengan Mamanya sendiri. Bagaimana bisa mamanya melakukan hal sebodoh itu. Dengan alasan untuk kebahagiaan nya juga.
Seandainya dulu Adel tahu dari awal, Jika dirinya akan sulit memiliki keturunan. Bahkan, Untuk program bayi tabung saja kemungkinan akan berhasil hanya 1-5 persen saja.
" Tidak... Sampai kapan pun Brilliant adalah anakku dan Brian. Aku yang mengandung dan melahirkan nya. Dan aku juga yang mempertaruhkan nyawa untuknya. Tak akan aku biarkan orang lain mengambil nya dariku".
Adel bertekad bulat untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan Brian. Karena ia juga akan tetap mempertahankan putrinya sampai kapanpun juga.
" Semoga aku bisa menjalani ini semua! ". Wanita itu berharap agar dirinya bisa tetap kuat dan sabar nantinya. Meskipun sebenarnya hatinya pun sangat sakit saat ini.
Adel langsung masuk kedalam kamarnya. Setelah ia melihat suaminya masuk kedalam ruang kerja nya. Karena Adel tidak ingin Mamanya langsung menginterogasi tentang persetujuan tentang Intan.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Brian yang sejak tadi berada di dalam ruangan kerjanya kini malah tampak keluar dengan sangat buru buru.
" Mau kemana Pi? ". Tanya Adel yang ternyata baru dari dapur mengambil air minum. Bahkan, Adel saat ini hanya memakai lingerie tipis yang ia balut dengan kimono panjangnya saja.
" Aku harus ada urusan sebentar sayang ". Brian mengecup kening istrinya .Lalu ia kembali melangkah sebelum Adel kembali menghentikan nya.
__ADS_1
" Apa Papi akan pergi kerumah Intan? ".
Deg..
Brian berhenti melangkah dan menarik nafasnya dalam dalam. Ia tidak ingin membuat Adel sedih dan merasa cemburu. Namun, Brian juga khawatir dengan keadaan Intan saat ini. Dimana istri keduanya itu sedang mengandung baby nya juga. Dan ketika Art menelponnya jika Intan demam.
Brian tak bisa lagi menyembunyikan kekhawatiran nya. Ia takut terjadi apa apa dengan Intan dan juga baby boy nya. Karena Intan selama hamil memang sangat lemah.
" Maafkan aku sayang!!. Intan sedang butuh aku malam ini. Dan aku akan menemani nya". Lirih Brian tanpa ingin menoleh pada Adel.
Karena Brian yakin jika Adel saat ini pasti sudah menitik kan air matanya. Brian tidak ingin jika Adel merasa di nomor duakan. Saat waktuny memang harus bersama Adel minggu ini.
" Sebegitu cintanya kau dengan dia Pi?". Lirih Adel menyeka air matanya. Ia pun hanya bisa tersenyum getir.
Dari balik tembok David yang ingin mengambil minum pun. Hanya bisa berdiri sambil menatap Adel dengan tatapan datarnya. Pria itu seperti sudah sangat paham dengan apa yang terjadi di dalam rumah tangga cucunya selama ini.
" Adel, kau hanya korban keserakahan dari Mamamu sendiri. Saya harap kelak kau bisa menerima semua keputusan Brian". Guman David
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sedangkan di dalam rumah mewah yang baru tadi siang ia tempati. Saat ini art tampak bingung karena Intan menggigil kedinginan sejak tadi. Tapi suhu badannya sangat panas.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang menjadi asisten rumah tangganya. Hanya bisa membaluri Intan dengan minyak kayu putih saja. Dan mengompresnya, Agar panasnya sedikit turun.
Dan tak berselang lama hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit. Deru mesin mobil mulai memasuki perkarangan rumah mewah itu. Membuat art itu sedikit bingung. Karena ia juga baru sepuluh menit yang lalu menghubungi tuannya.
" Nyonya Tuan sudah datang". Ucap art itu membuat Intan membuka matanya.
" Kenapa bibik menghubungi suamiku?. Aku hanya demam biasa bik, Jangan repotkan mas Brian!".
" Sayang... ".
Brian masuk dengan penuh wajah kekhawatiran mendalam. Dan dengan deru nafas yang sedikit tersengal sengal. Brian langsung menghampiri ranjang tempat tidur istirinya. Sayu sayu mata Intan melihat wajah tampan suaminya. Yang semakin lama semakin mendekat kearahnya.
" Aku baik baik saja mas!!. Tak usah khawatir! ". Lirih Intan pelan.
" Hussssttt...!!. Sabar ya sebentar lagi dokter akan datang! ". Ucap Brian mencium pucuk kepala istrinya.
Sambil menunggu kedatangan dokter keluarga nya. Brian pun menyelimuti istrinya dengan selimut tebal. Lalu ia juga ikut memeluk tubuh Intan dalam dekapan nya. Brian dapat merasakan suhu tubuh istrinya yang terus menggigil kedinginan. Namun, Ia juga mengeluarkan keringat. Hingga wajahnya ,dan juga kulitnya ikut basah akan keringat yang keluar dari tubuhnya itu.
TBC
MAU BIKIN READERS GEREGETAN DULU YAππ, DAN SETELAH TERUNGKAPKAN FAKTANYA PASTI KALIAN AKAN BILANG OH π€π€π€
__ADS_1