
kerinduan akan selalu datang kenapakkan kakinya di setiap hati yang mendabakan kehadiran seseorang
hari berlalu begitu indah, bunga saling bermekaran menyambut datangnya mentari mengikuti alunan musik , detak jantung seakan memberi isyarat tak ada cinta yang terlupakan
hari hari di desa di nikmati wildan dengan sangat menyenangkan, kemanapun Wildan pergi slalu di temani oleh Alya
sekarang Wildan lebih hati hati tiap kali mengajak Alya keluar rumah, walaupun di kota dia banyak bodyguard tapi di desa ini dia harus mengandalkan diri sendiri
ya siapa yang tidak kenal dengan Wildan Adi Wijaya, anak kedua dan tiga bersaudara keluarga Adi Wijaya, pemilik Rumah sakit Swasta di Jakarta dan beberapa perusahaan proprerti di ibu kota
Wildan kembali memeriksa luka Alya yang sudah mulai mengering, ia membuka perbannya
"kayaknya perbannya di copot saja, lukanya sudah kering" Wildan terus memperhatikan luka Alya, setelah mengobati luka Alya, Wildan pun segera membereskan peralatan kesehatannya, tapi kegiatannya terhenti setelah Alya memberinya pertanyaan yang tak pernah secepat ini ia duga
"sebenarnya apa tujuan dokter ke sini?" akhirnya Alya memberanikan diri untuk bertanya
"dirimu....!" dengan yakin Wildan menjawab, tapi tanpa memandang Alya
"apasih maksud dokter?" wajah alya tampak semakin bingung dengan jawaban Wildan
"aku memenuhi janjiku ....!" sekarang Wildan lebih berani memegan kedua pundak Alya, dan merekapun saling berpandangan, manik mata tajam Wildan seakan memberi perangkap pada Alya, tapi tampak wajah Alya semakin bingung
"janji apa?"sungguh teka teki itu menbuat alya semakin bingung, Wildan masih tetap dengan memegang pundak Alya
__ADS_1
"kau benar- benar tidak ingat aku? coba kamu perhatikan wajahku, ayo lihat sini...!" Wildan sambil mendekatkan wajahnya, hingga wajah mereka berjarak tak lebih dari satu centimeter
"apa????"Alya pun sampai membulatkan kedua matanya
cletuk
tiba- tiba sentilan mendarat di kening Alya
"aduuuuh...!"Alya pun otomatis mengelus keningnya, tapi sekarang wajah Wildan tampak kesal sendiri
"dasar bocah ini, otaknya terbuat dari apa sih, gitu aja susah ngingat" Wildan pun menggerutu sendiri, dia tampak semakin frustasi, bagaimana lagi caranya untuk mengingatkanya
"kamu ya....., rasanya pengen banget njitak berkali kali kepala kamu ya!" Wildan pun kehabisan akal
"hei....kamu ,aku bicara padamu....!" Wildan pun sambil memetik metikkan jarinya di depan mata Alya, berharap ada jawaban darinya
"e.... e.... ,aku bingung!" Alya pun sambil berputar membelakangi Widan, yang masih setia menunggu jawaban
"gimana.....? apa kau ingat.....? Wildan pun semakin di buat penasaran, Alya kemudian melengkungkan senyumnya
"iya, a k u i n g a t .....!" suara Alya pun sedikit berbisik, di telinga Wilsan sambil berlalu meninggalkan Wildan yang masih terbengong
"I l o v e y o u !!!!!" Wildan tampak kegirangan , rasanya tak sia sia perjuangannya
__ADS_1
****
Wildan pun tak mau membuang waktu, ia segera menemui Pak Danu dan mengutarakan rencananya untuk membawa Alya pulang, karena tidak mungkin dia meninggalkan pekerjaannya begitu lama, mama nya juga sudah kebakaran jenggot menyuruhnya untuk segera pulang
"pak Danu, aku berencana membawa pulang Alya, mudah mudahan bapak mengijinkanku!" perkataan Wildan sedikit membuat pak Danu tersentak kaget
"bagaimana bisa pak dokter, aku sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri, tidak ada yang beda antara Alya dan Rani!"wajah pk Danu nampak kebingunggan, ia seakan lupa dengan janjinya pada Wildan bahwa dia akan melepaskan Alya jika Alya sendiri yang meminta pergi
"maafkan saya pak ,tapi saya melakukan ini ada alasannya, jika aku jauh dengan Alya bagaimana bisa saya melindunginya, sedang di kota....., aku punya tanggung jawab sebagai dokter, aku harap bapak bisa maklum!" alasan Wildan memang dirasa masuk akal buat pak Danu
"tapi apakah benar kau akan menjaga Alya dengan baik di sana?" tapi pk Danu masih meragukan Wildan
"bagaimana aku bisa sampai di sini, bapak sudah tau, apa tujuanku, aku ingin menjaga Alya, jika nanti Alya sudah bisa membuka hatinya untuk ku, pasti aku akan menikah dengannya, aku tidak mungkin memaksakanya sekarang pak, Alya juga harus melanjutkan pendidikannya pak, aku akan mencarikan universitas untuk Alya!"
"baik lah pak dokter, aku setuju, jika memang di sana ia dapat melanjutkan pendidikannya, aku mengijinkanmu membawanya pergi!"
"trimakasih pak!"
********
setelah percakapannya dengan Wildan, malam harinya Pak Danu membicarakan perihal itu kepada Alya, awalnya Alya menolak, tapi setelah mendengar penjelasan dari pak Danu akhirnya Alya bisa menerimanya,
walaupun dengan berat hati ia setuju untuk meninggalkan pak Danu dan Rani.
__ADS_1
jangan lupa kasih sukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya 🙏🙏🙏🙏