
Di kampus hari ini Alya hanya mengambil nilai semesternya saja, karena akan liburan semester maka dia agak sibuk mengurusi ini itu di kampus, kemana- nama ia tidak pernah terpisah dengan sahabatnya siapa lagi kalau bukan Jesi
“rencana mu liburan ini kemana Al?” tanya Jesi pada Alya
“mungkin di rumah saja, soalnya ada kakakku di rumah, atau mungkin aku akan mengajak kakak berjalan- jalan keliling jakarta!”
“wah ada kakakmu, aku pengen sekali ketemu sama kakakmu ...!”
“ya udah kamu main aja ke rumahku, kamu juga boleh nginep kok!”
“yang benar? Eh Ardi sering main ke rumahmu nggak?”
“kenapa Enang nya?”
“kan rumah kakaknya bersampingan dengan rumahmu, itu loh pak dokter ganteng ...!”
“jarang sih, paling Wildan yang sering pulang ke rumah mereka!”
“tapi kamu kan dekat sama dia, kenalin dong aku sama Ardi!”
“ok, ntar kalau dia ke sini biar aku ku kenalin deh ...!”
“wah ...., panjang umur, lihat itu dia mau ke sini!” Jesi pun menunjuk ke arah ujung jalan, di sana terlihat Ardi yang berjalan hendak menghampiri Alya yang sedang duduk di kursi taman bersama Jesi
“hai Alya ....!” Ardi pun menyapa Alya
“hai Ardi, sudah mau balik ...?”
“ males sih ...., masih siang ...!”
Jesi mengedip - kedip kan matanya memberi tanda pada Alya
“oh iya Ardi kenalin , ini teman aku Jesi ...!”
“hai Jesi, salam kenal ya ..., tapi sebenarnya aku sudah kenal kok, kamu satu kelas sama Alya kan!” Jesi dan Ardi pun saling bersalaman
“kamu mengenalku ...!” Jesi enggan melepaskan tangan Ardi
“ ya, tapi bisa lepaskan tanganku dulu kan?”
“iya ..., maaf ...!” Jesi pun melepaskan tangannya dari tangan Ardi
“mau bareng denganku ...?” Ardi menawari tumpangan pada Alya
“enggak usah lain kali saja, aku sudah janji mau bareng sama Jesi kok, iya kan Jes ...?”
“i- iya ....!” Jesi nampak masih terpesona dengan kegantengan Ardi
“ya sudah aku duluan ya, sampai jumpa lagi Jesi!” akhirnya Ardi pun berlalu meninggalkan mereka berdua
__ADS_1
“apa aku tidak salah dengar, Ardi menyapa ku Al ...., ini sungguh hari yang indah ...!’'
“ya sudah deh jangan banyak menghayal, kamu jadi mengantarku ke butik apa enggak?”
“ok ..., ayo ..., let's go ...!”
Mereka pun berjalan menuju parkiran tempat jesi memarkir mobilnya, tak butuh waktu lama mereka pun keluar dari parkiran dan melesat menuju ke butik tempat Alya bekerja, setelah sampai di depan butik Alya pun segera turun dari mobil
“maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu, tapi lain kali aku janji bakan temenin kamu seharian!” Jesi merasa tidak enak
“sudah santai saja, aku masuk dulu ya, hati- hati di jalan ...!”
“bye ...!” akhirnya Jesi melajukan mobilnya kembali meninggalkan Alya
Setelah kejadian tempo hari antara dia dan Reva rasanya dia sedikit canggung untuk bertemu kembali denan tante inez, tapi mau tak mau Alya harus menghadapi ini, entah bagaimana sikap tante inez padanya
Kini Alya memasuki butik dan berjalan menuju ke ruangan tante inez, butik terlihat sangat ramai, para karyawan sibuk melayani pelanggan, di sana sini sudah banyak desain baju milik Alya yang sudah di pajang, mulai dari baju sehari- hari hingga baju pesta
“hai Alya, bu inez sudah menunggu mu dari tadi lo!” kata salah satu karyawan
“benarkah? Ada apa ya?” Alya tampak sedikit ragu
‘apa mungkin aku akan di pecat ya karena kejadian kemarin?’ Alya berargumen sendiri dalam batinnya
“coba kamu masuk saja!”
“baik lah aku masuk ...!”
“alya ..., kamu sudah datang? Aku menunggumu dari tadi, duduklah ....!” sapa tante inez dan mempersilahkan Alya duduk
“tante tidak marah padaku ...?”
“marah untuk apa sayang ...?” tante inez malah tersenyum ramah padanya
“soal kemarin, antara aku dan Reva aku minta maaf tante ...!”
“itu urusanmu dengan Reva nak, tante sih maunya kalian akur, tapi apa boleh buat, itu masalah kalian berdua, Reva memang suka semaunya sendiri, tapi sebenarnya dia baik kok ...!”
“makasih tante, karena tante tidak marah padaku!”
“iya, tapi kalau soal Vino, dia anak tante , jadi tante tau, dia sulit jatuh cinta, jadi tante mohon kalau kamu tidak bisa memberikan cintamu untuknya maka jangan beri harapan padanya!”
“tapi kalau soal ini, tante salah ..., Vino tidak mencintaiku tante , kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja !”
“mudah- mudahan seperti itu ...., oh iya sebenarnya tante memanggilmu kesini, tante ingin membicarakan hal serius sama kamu!”
“hal serius apa tante?”
“desain- desain kamu banyak di sukai semua kalangan baik anak muda maupun paruh baya jadi tante akan memberi bonus pada setiap desain kamu dua kali lipat, bagaimana?”
__ADS_1
“apakah tante serius ..., ini bukan mimpi kan?”
“tante serius sayang ..., ada satu hal lagi, klien kita kemarin sangat menyukai desain kamu, dia juga mau kamu yang jadi EO untuk pesta pertunangannya!”
Kali ini Alya benar- benar bingung harus senang atau sedih, karena dia harus mengurusi pertunangan Vina dan Wildan
“baik tante!”
“kamu tidak pa pa?” tante inez menyadari perubahan raut muka Alya
“aku baik kok tante, kalau sudah selesai saya permisi dulu te, say ke kafe dulu!’'
“baiklah, hati- hati di jalan .....!”
“permisi tante !” Alya pun meninggalkan ruangan tante inez dengan perasaan campur aduk, dia keluar dari butik dan mencari angkot, tak butuh waktu lama angkot pun datang
Kini Alya harus duduk berdesakan di dalam angkot, karena sekarang adalah waktunya orang- orang pulang kerja dan pulang sekolah, jadi angkot pun sangat penuh
Akhirnya Alya bisa bernafas lega saat angkot telah berhenti di depan kafe, Alya pun langsung berlari menuju ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan seragam kafe
Setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaannya , kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, waktunya kafe tutup, Alya kembali mengganti pakaiannya dan mengambil tasnya bersiap untuk pulang
“boleh aku antar?” Vino menawarkan diri, tapi kemudian Alya teringat dengan perkataan tante inez
‘mungkin benar kata tante inez , aku tak boleh terlalu memberi harapan pada Vino, dia orang yang baik’ batin Alya
“maaf..., tidak usah aku ada yang jemput kok!”
“benarkah ...?” Vino tampak tak percaya
“benar..., Wildan menungguku kok ...!”
“mana? Tak ada mobilnya?”
“iya, karena mobil nya ada di ujung jalan sana, di depan mini market, dia tadi bilang mau belanja dulu, ya sudah aku permisi dulu ya ...!”
“ ya sudah terserah kamu ..., aku harap kamu tak bohong sih ...!”
“sampai jumpa besok!” Alya pun bergegas meninggalkan Vino
Alya pun pergi dengan buru- buru berharap Vino tidak curiga, Alya berjalan agak jauh dari kafe agar Vino tidak melihatnya, dia terus berjalan sambil menunggu angkot yang lewat, semakin jauh dia berjalan tapi tak juga mendapatkan angkot
-
-
-
-
__ADS_1
terima kasih karena sudah membaca novelku
jangan lupa like n vote ya biar tambah semangat nulisnya