Promise Of Love

Promise Of Love
77. berpamitan


__ADS_3

Pagi ini Alya bangun terlebih dahulu dia menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga , dan tak lupa dia membuatkan secangkir kopi untuk suami dan ayahnya, setelah makanan siap alya membawa kopi untuk ayahnya yang sudah duduk di meja makam


“ayah ini kopinya ....!”


Tuan Sanjaya yang sedang sibuk membaca koran segra mendongakkan wajahnya melihat Alya yang membawakan kopi untuknya, semenjak Alya datang di rumah ini Alya tak pernah lupa menbuatkan kopi untuk ayahnya


“terima kasih sayang ..., saranya seperti ibu kamu masih hidup kalau ada kamu di samping ayah, kamu tak pernah lupa merawat ayah!”


“ayah ini bisa aja!”


“cepetan kamu panggil suamimu, dan jangan lupa bawakan kopi juga untuknya, kita sarapan bersama!”


“baik yah, aku panggil Wildan dulu ya!”


Tuan sanjaya membalas dengan anggukan. Alya pun berlalu dengan secangkir kopi di tangannya, saat masuk di dalam kamar dia tak mendapati Wildan di kamar


Tapi kemudian dia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, dia menaruh kopinya di atas meja dan menyiapkan pakaian untuk Wildan, tak lupa dia mengelap sepatu nya


Tak berapa lama Wildan keluar dengan hanya mengenakan handuk yang di lilitkan sebatas pinggang, dada bidangnya terlihat jelas dengan totol- totol tetesan air


“kenapa melihatnya seperti itu, apa kau suka dengan dada bidang ku?”


Alya yang tersadar dari tadi masih melihat kearah Wildan segera memalingkan pandangannya


“enggak, siapa juga yang suka, cepetan pakai bajumu, sudah di tunggu ayah sarapan!”


Alya berusaha mengalihkan pembicaraan


“pakaikan bajuku dulu!”


“nggak mau!”


“beneran nih nggak mau, kamu kan istriku sekarang ...!” Wildan pura- pura kecewa


“apa boleh buat, baiklah ...!”


“kalau terpaksa nggak usah ...!”


“siapa yang terpaksa, nggak kok ...!” Alya mendekati Wildan dan mengambil kemeja yang sudah ia siapkan tadi, dia mengenakan dengan perlahan, matanya tak beralih melihat dada dan perut datar suaminya


“kenapa kamu suka ya?” Wildan melengkungkan senyumnya


“ti- tidak ...!”


“jadi kamu nggak suka?” Wildan memelototkan matanya dan kedua tangannya mencengkeram pinggang Alya hingga membuat mereka sangat tekat, hembusan nafasnya pun hingga bisa di rasakan


“aku suka kok, lepaskan ya ...!” Alya tampak gugup

__ADS_1


“kamu boleh pegang ini kok, sini, sini sini!” Wildan menempelkan tangan Alya ke dada dan perutnya


Alya hanya bisa menurut, dadanya berdegup sangat kencang, mungkin Wildan sampai bisa mendengarkannya,


“kalau sudah puas melihatnya , sekarang kancing kan kemejaku!”


Alya tersadar dari diamnya, dia segera mengancingkan satu persatu, setelah selesai dengan kemejanya, kini ia memandang celana di sampingnya dengan wajah bingungnya


“baiklah sekarang biar aku pakai sendiri!”


Mendengar perkataan Wildan Alya sedikit tenang, dia merapikan tempat tidur sambil menunggu Wildan selesai merapikan dirinya


Wildan segera duduk di sofa dan meminum kopi buatan istrinya


“sayang” panggil Wildan pada Alya


“iya!”


Alya segera mendongak, dan melihat lambaian Wildan menyuruhnya duduk di sampingnya


Setelah Alya duduk di sampingnya, dia mengelus lembut rambut Alya


“nanti ber kemas lah, sore ini kita bersiap- siap untuk pindah!”


“pindah? Pindah kemana?” Alya merasa bingung dan sedikit kecewa sih sebenarnya


“pindah ke rumah kita!”


“bukan, tapi rumah kita!”


“rumah kontrakan kita?” sekarang Alya lebih merasa lega, karena jika ke kontrakan lamanya dia bisa berdekatan dengan bapak dan kakaknya


“kenapa kamu banyak sekali bertanya sih ...!”


kini gantian Wildan yang merasa pagi ini istrinya terlihat agak cerewet


“maaf, tapi bukankan ini masih terlalu cepat, aku masih ingin bersama ayah!”


Alya berusaha mencari alasan supaya tidak pindah


“kita nanti bisa sering berkunjung ke sini kan!”


“baiklah, terserah kau saja, lagi pula aku kalau berdebat denganmu juga nggak akan pernah menang!” Alya mengerucutkan bibirnya


***


Setelah perdebatan panjang, Alya dan Wildan pu memutuskan untuk turun sarapan, ia tidak mau semua menunggu mereka, mereka sarapan dengan suasana yang sedikit canggung

__ADS_1


Vina yang masih belum bisa terima Wildan menikah dengan Alya , sesekali mencuri pandanng pada Wildan


“tuan Sanjaya!” Wildan mulai membuka pembicaraan


“iya, ada apa nak? Kenapa kamu masih memanggilku seperti itu, kamu kan suami putriku!” dengan pandangan tegasnya tapi masih menyiratkan keteduhan


“maaf, yah ...., Wildan dan Alya rencananya akan pindah hari ini, jadi sekalian kami mau pamit!”


“kenapa cepat sekali!” Vina tampak terkejut, padahal dia masih ingin mendekati Wildan, ia berfikir kalau tinggal dalam satu rumah pasti akan lebih mudah mendapatkan hati Wildan


“iya nak, kenapa terburu- buru sekali, aku masih ingin kalian lama tinggal di sini!” nyonya Helsa tapi dengan senyum yang sulit di artikan,


“kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi?” Tuan Sanjaya


“entahlah, yah, Alya juga tidak tau,” raut Alya sedikit kesal dengan keputusan sepihak yang di lakukan Wildan


“Wildan hanya mau mandiri saja yah, biar Alya lebih dewasa lagi dalam menjalani rumah tangga ini.”


Alya hanya bisa diam pasrah, dia tidak mungkin melawan suaminya walaupun saranya masih berat meninggalkan ayahnya yang baru saja iya temui setelah sekian lama jauh


“ya sudah terserah kalian saja,” ujar Tuan Sanjaya


***


Setelah selesai sarapan Wildan dan Tuan Sanjaya berangkat kerja, karena kini Vina sudah bekerja di kantor papanya, dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Wildan


“pa, hari ini papa kan keluar kota, jadi apa boleh aku berengkat ke kantor bareng wildan?”


“kenapa tidak bareng papa saja?”


“arah kita kan berlawanan pa, kalau ke rumah sakit Wildan kan satu arah, bagaimana Wildan, nggak pa pa kan kalau aku nebeng?”


Wildan tampak berat, kemudian dia melihat ke arah Alya, Alya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju


“Baiklah ..., ayo!”


Vina pun terlebih dulu masuk ke dalam mobil Wildan, tuan Sanjaya pun sudah lebih dulu berangkat, Wildan masih mematung di samping Alya


“kenapa tidak cepat berangkat?” Alya semakin heran


“apa kau tidak ingin memberiku sesuatu?”


“apa?”


“sesuatu yang bisa membuatku semangat kerja sepanjang hari ini!”


“apa sih? Jangan membuatku bingung!”

__ADS_1


Wildan benar- benar tak sabar menunggu wajah polos istrinya, dengan cepat dia meraih tubuh Alya dan mengecup bibir merah Alya


Alya yang masih terkejut dengan perlakuan tiba- tiba Wildan masih tak percaya, Vina yang melihat adegan ciuman di depan matanya, hatinya terasa sangat terbakar


__ADS_2