
POV ALYA
rasanya salah jika aku cuekin Vino, dia sudah cukup baik padaku, dia juga bos yang baik
akhirnya aku pasrah membiarkan Vino menemaniku dalam pesta ini, lagi pula aku tidak memiliki teman di sini selain Jesi,
aku kenbali melihat kearah Wildan, tampaknya dia sudah melupakan keberadaanku di pesta ini
pesta segera di mulai, saat mendengar pengumunan dari mamanya Wildan rasanya bak di sambar petir
bagaimana bisa , aku siapa? mungkin aku bukan siapa- siapa bagi mereka
air mataku meleh tak tertahankan lagi, hatiku hancur, sehancur- hancurnya, sepertinya Wildan juga tak ada niatan untuk menolaknya
aku benar- benar tidak menyangka di saat hati ini sudah mulai bisa menerima cinta ini, tapi kenapa malah kau hancurkan dalam sekejab
tak kalah kagetnya denganku , ternyata Vino pun juga ikut terkejut dengan pengumuman itu
"ambil ini .....!" Vino menyerahkan sebuah tisu kepadaku, rupanya dia sadar dengan air mataku
"trimakasih ....!" aku pun menerima tisu itu dan segera mengusap air mataku
"Indahnya cinta bisa pudar ketika datang cobaan, kamu harus menghadapi cobaan tersebut dengan sabar,supaya cinta yang indah kembali indah dan tidak pergi meninggalkan mu!" Vino berusaha menenangkan ku
"Seberapapun usahaku untuk tidak bersedih ,tetaplah airmataku tak bisa ditahan!"
"kamu boleh kok menjadikan bahuku sebagai sandaran ....!" tanpa jawaban aku segera menyandarkan kepalaku di bahunya hingga air mataku kini membasahi kemejanya
"jika kamu terus menangis , kamu akan terlihat lemah, jadilah kuat seperti biasa!"
aku pun segera menghapus air mataku, mungkin benar yang di katakan Vino, aku harus bangkit, aku punya kehidupan sendiri, aku harus berdiri di kakiku sendiri,
__ADS_1
******
sekarang waktunya pesta dansa, rasanya aku tak ingin melihat pemandangan ini
bagaimana bisa aku manpu melihat pemandangan ini
di sana aku melihat Wildan sedang menari bersama Vani, gadis arogant itu
rasanya air mata yang sudah mulai kering kini kembali memenuhi kelopak mataku
"mau menari denganku?" tiba- tiba Vino mengajakku menari
"nggak .....!" aku menolaknya dengan tenaga seadanya, rasanya badan ini sudah lemas
"ayolah ......, kalau mereka bisa menari, kenapa kita tidak ....??? Vino tetap memaksaku, ya mungkin jika aku menari dengan Vino aku akan terlihat lebih kuat
"baiklah ....ayo ....!" aku segera menarik tangan Vino dan menuju ke lantai dansa
ternyata Wildan menyadari kehadiranku di dekatnya, dia tak hentinya menatapku
tatapan yang sama saat melihat aku bersama Vino, tapi apa maunya kenapa dia cemburu dengan Vino sedangkan dia kini sedang menari bersama Vani
dia tak hentinya menatapku tapi aku berusaha menghindari tatapannya dengan fokus menari bersama Vino
tapi tiba- tiba sebuah kaki menjegal kakiku, hingga aku kehilangan keseimbangan dan ......
aku kira aku akan jatuh, tapi ternyata aku terjatuh di pelukan Vino, kami pun saling pandang
tapi tiba- tiba dia kenarik tanganku. kami pun sekarang berganti pasangan, Vino menari dengan Vina sedanga aku sekarang sedang ada di pelukan Wildan
"apa yang kau lakukan? aku tidak suka melihat kau bersama dengan pria itu, tapi kau malah berpeluk- pelukan dengannya!" Wildan pun sambil tetap memelukku dan sedikit mengikuti irama lagu, dia berbisik padaku
__ADS_1
aku pun tidak mau kalah, aku segera membalas bisikannya "apa bedanya kau denganku, kau juga menari dengan gadis itu!" aku pun segera melepas pelukan Wildan dan menarik tangan Vino
kami pun kembali pada formasi semula, aku dengan Vino, sedang Wildan dengan gadis arogant itu
kini aku melihat ke gadis arogant itu, dia tersenyum licik padaku, aku kini sadar berarti yang menjegal kakiku tadi pasti gadis itu, dia mau membuat Wildan marah
"Vino antar aku pulang .....!" aku mengakhirinya dan menarik tangan Vino, Vino pun tak Mampu menolak dia ikut saja kemana aku membawanya
saat sudah berada di depan rumah Wildan, Vino menghentikan langkahnya "tapi kamu mau pulang kemana? kamu kan tinggal di sini .....!"
"antar aku ke kontrakanku!"
tapi kali ini Vino tak mau bertanya lagi , entah apa yang dia pikirkan tapi dia tampak bingung
********
selama perjalanan kami hanya diam , Vino tampaknya tau apa yang aku rasakan makanya dia tak mau banyak bertanya padaku
"kita ke xxxxx!" aku pun segera memberi tau alamatku padanya
"baik .....!"
Vino tetap konsentrasi dengan mobilnya hingga kami sampai di depan kontrakanku yang sudah aku sewa satu bulan lagu itu
mungkin memang ini gunanya aku menyewa kontrakan ini, mungkin memang keluarga Wildan tidak pernah menginginkan kehadiran ku di sana
aku pun keluar dari mobil Vino, tapi aku tidak mempersilahkan Vino mampir, karena ini sudah sangat malam,
untung aku meninggalkan kunci di bawah pot bunga di teras, sehingga aku nggak kebingunggan membuka pintu
ya karena aku keluar rumah Wildan cuma membawa handbag yang isinya hp dan kartu identitas saja dan beberapa lembar uang lima puluh ribuan sisa gajiannya kemarin
__ADS_1