
POV WILDAN
Hari ini aku bertemu dengan mama, mama memaksaku untuk datang ke kafe menemui Vina, kalian tau Vina, ya dia gadis yang di rencanakan dengan untuk menjadi tunanganku
Tapi kalian tau kan itu tidak akan terjadi? Selama cintaku masih sama besar dengan dengan Alya, tak kan ada satu pun orang yang bisa memisahkan aku dengannya
Aku harus menuju ke sebuah kafe, aku tau itu kafe milik keluarga Vina, bukan mungkin juga keluarga Alya, aku tinggal cari buktinya saja kan, ya Tuhan jangan pupuskan harapanku ini
Setelah sampai di depan kafe aku pun segera memarkirkan mobilku, ok aku lakukan ini untuk mengulur waktu saja, aku akan menemukan sesuatu
Aku sampai di pintu masuk kafe, mataku menuju ke3 segala arah, tiba-tiba sebuah panggilan mengagetkanku
“kak Wildan, sini .....!” Vina tampak memanggilku, aku melihat ke arahnya, dia tidak seorang diri, di sana ada gadis lain yang tidak begitu asing, dia sepertinya aku sangat kenal
“Alya .....!” aku terkejut sekali melihat keberadaannya di situ
“ silahkan duduk dokter Wildan ...!” apa aku tidak salah dengar dengan sapaan yang di berikan Alya padaku, itu mengingatkanku pada saat pertama kali aku bertemu dengannya, apa dia sudah menganggapku orang asing lagi,
aku pun akhirnya duduk, tapi pandanganku tak ingin beralih darinya, entah apa yang dia fikirkan, dengan menyapaku seperti itu
“bagaimana ?, acaranya akan di adakan di luar ruangan atau di dalam ruangan, temanya apa?” mendengar itu, rasanya takut sekali, seandainya itu acaraku denganya pasti keadaanya tidak akan seperti ini
“kita rencananya akan mengambil tema di ruang terbuka, iya kan kak ...?” Vina tampak menggelayut manja padaku , sebenarnya aku berharap yang melakukan ini adalah Alya
“terserah kamu saja ...!” aku masih tak hentinya menatap, aku benar benar tak tau apa maksud dari sikapnya padaku, dia cuek sekali padaku, seolah olah tak terjadi sesuatu di antara kita
“silahkan anda memilih desainnya, kalau menurut saya, ini lebih cocok kalau di pakai di luar ruangan!” Alya menunjuk ke salah satu gambar
“sedangkan untuk cowoknya tinggal menyesuaikan saja dengan warna baju ceweknya!” Alya menjelaskan panjang lebar
“bagaimana kalau ini saja kak, aku suka ....!” rasanya aku risih sekali dengan sikap Vina, tapi aku mau berbuat apa, seandainya saja yang manja ini Alya aku pasti tidak akan menolak
“terserah kamu saja ....!” aku kesal sungguh kesal sekali
__ADS_1
“untuk warnanya aku suka warna putih , iya kan kak!’ kali ini aku Cuma bisa mengangguk saja
“OK ...., untuk tahap terakhirnya biar aku ukur ya ..., bisa dari nona Vina dulu!” Alya pun mulai mengukur dari lebar dahu , panjang baju , kingkar dada, kingkar pinggang, lingkar pinggul, lingkar lengan , semuanya tentang Vina sudah selesai
Kini Sekarang giliranku yang akan di ukur, dia mengukurku menanbahkan panjang lengan dan panjang jas , panjang kakku,i rasanya senang sekali bisa sedekat ini denganya
Saat mengukur lebar bahuku tiba- tiba ku pegang tanganya, aku tak mampu menahannya seperti ini, tapi memang rasanya aneh saja dalam keadaan seperti ini aku tak bisa berbuat apa apa
Setelah selesai pengukuran dia ber pamitan untuk ke toilet,
“karena sudah selesai, kalian boleh pergi, aku permisi ke toilet dulu ....!” Alya pun segera lari ke dalam toilet wanita,
Aku bingung harus beralasan apa pada Vina, aku harus menyusul Alya dia hutang penjelasan padaku
”VIna aku pergi dulu ya, kamu mau pulang atau masih mau di sini?” aku berusaha mencari alasan pada Vina
“boleh bareng nggak sama kakak?”
“maaf Vina, tapi nggak bisa ...., aku harus ke rumah pasien saya, nggak jauh dari sini, kamu pulang sendiri saja nggak pa pa kan?”
Setelah menemukan cara aku segera memutup pintu toilet agar tak ada yang masuk
“kenapa kau di sini, ini toilet wanita, bagaimana kalau ada yang masuk!” Alya tampak sekali kebingungan
“aku sudah memberi tanda toilet sedang di perbaiki, jadi tidak akan ada yang masuk kesini, sekarang jelaskan padaku apa yang kau lakukan?”
“tidak ada!”
“maksudku bagaimana bisa kamu berbuat seperti itu padaku?”
“seperti itu apa maksudnya?”
“kamu tidak cemburu?”
__ADS_1
“kenapa aku harus cemburu?” mendengar jawaban Alya membuatku tidak terima, aku merasa dia tidak jujur, aku menarik tubuhnya hingga mendekat sangat dekat
“a- apa yang mau kamu lakukan?” Alya terlihat gugup, membuatku semakin ingin mendekat dengannya, hingga tubuh Alya terhimpit tembok dan tubuhku
“aku Cuma ingin mendengar jawaban yang paling jujur dari hatimu!”
“menjauhlah dariku!”
“katakan kalau kau cinta padaku!”
“aku nggak cinta sama kamu!”
“tatap mata aku, jujurlah pada hatimu, mata dan mulutmu berkata lain!”
“aku berkata sebenarnya!” mendengar itu aku sangat marah, aku hilangan kiendali, aku mendaratkan bibirku di bibirnya, seketika kami terdiam
Ini untuk pertama kalinya aku menciumnya, tapi rasa bersalahku muncul karena aku telah berlaku kasar padanya, dia mendorong tubuhku keras sampai tubuhku menjauh beberapa langkah dari tubuhnya, alyapun berlari meninggalkanku seorang diri
Entah apa yang di pikirkan alya saat ini aku merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan
-
-
-
-
-
-
jangan lupa like n vote nya ya
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘