Promise Of Love

Promise Of Love
68. meminta restu


__ADS_3

Tak berapa lama setelah kepergian Wildan , Alya segera masuk ke kamar mandi, walaupun di rumah kecil Alya tak ada bak mandi untuk berendam, tapi geyuran air dari gayung saja sudah sedikit membuat tubuh menjadi segar, tak butuh waktu lama, Alya pun sudah menyelesaikan acaranya mandi, dia sudah mengganti baju pestanya denga baju rumah kaos oblong dan celana selutut, walaupun di rumah Alya memang tak terlalu suka memakai bawahan sampai di atas lutut


Ini jas nya Wildan, aku cuci sekalian saja lah


Saat melihat jas di atas tempak tidur , itu milik Wildan yang di pakai Wildan untuk menyelimutinya,dia segera mengambilnya dan memasukkan ke ember cucian, dan menambahkan sabun cuci, dan memberi sedikit air


Tok tok tok


Sebelum sempat menyelesaikan pekerjaannya tiba- tiba ada yang mengetuk pintu, Alya segera mencuci tangannya dan berjalan menuju pintu depan yang tak butuh waktu lama, karena jarak dari kamar mandi dengan ruang tamu hanya lima meter


Ceklek


Dia kan orang itu, yang di suruh Wildan untuk menjagaku, katanya dia tidak akan menampakkan diri, tapi sekarang ....


“maaf nona , saya hanya mengantar sarapan untuk nona .....!” pria kekar itu menyerahkan sebungkus plastik yang berisi makanan lengkap dengan minumannya


“benarkah ..., maaf saya Cuma kaget, terima kasih ya!”


Alya tersenyum sungkan sambil menerima bungkusan makanan


“kalau begitu saya permisi dulu ya nona, selamat pagi!” pria itu mendur beberepa lang kah trus menghindar dari pandangan Alya, entah di mana dia dan temannya bersembunyi hingga selama ini Alya sama sekali tidak menyadari keberadaannya


Alya pun segera masuk kembali ke dalam rumah sambil menikmati sarapan paginya, dan tidur untuk menggantikan waktu tidurnya semalam yang terjaga semalaman.


***


Di tempat lain, Wildan setelah meninggalkan rumah Alya dan mengendarai mobilnya sampai di rumah besarnya, rumah keluarga Wijaya


Ternyata di sana sudah bersiap menyambut Wildan, , mereka sudah bersiap di ruang keluarga, memang di perjalanan Wildan sudah mengirim pesan kerumah supaya tidak seorang pun meninggalkan rumah


“selamat pagi ...!” Wildan menyapa keluarga besar itu

__ADS_1


“selamat pagi nak, duduklah ...!” papanya menyambut tetap dengan ramahnya, papa Wildan memang orang yang sangat ramah, dan paling pengertian dengan anak- anaknya


“ini karena papa yang selalu memanjakan anak- anak , jadi nglunjakkan dia!” mamanya langsung memberi pandangan sinis kepada Wildan


“mama ...., bisa diam dulu kan, biar Wildan menjelaskan dulu!” papanya menghentikan nyua supaya suasana tidak semakin memanas, dan anggota keluarga yang lain hanya bisa diam dan menjadi pendengar supaya tidak semakin keruh suasananya yang sudah sangat canggung, yang seperti bola panas yang bisa sewaktu- waktu siap untuk meledak


“baik ..., jelaskan nak ...!”


“pa, ma, nek ..., aku akan menikah dengan Alya, setuju atau tidak aku akan tetap menikah dengannya!” masih dengan nada yang tenang Wildan memberi penegasan


“apa ini tidak terburu- buru nak?” papanya kembali dengan tetap sabar


“ini bukan keburu- buruan pa, aku sudah mengenal Alya sudah dari belasan tahun lalu!”


“tapi dia masih anak ingusan, sedang lihat kamu, kamu itu dokter besar, dan pemilik beberapa rumah sakit, bagaimana kau bisa menikah dengannya!” mama Wildan menentang dengan keputusan Wildan dengan berbagai alasan


“aku akan membimbingnya, dia juga desainer, bajunya sudah banyak di pakai para konghlomerat, mereka suka dengan desains baju Alya, bukan tidak mungkin dia akan menjadi desainer ternama di kota ini!” Wildan tak mau kalah


“Vina itu bukan pilihanku, dia pilihannya mama, aku sudah bilang beberapa bulan lalu jika aku akan setuju dengan mama tapi hanya sampai pada aku menemukan jati diri Alya!”


“tapi Wildan ...!” sebelum sempat menyelesaikan kata- katanya, Wildan terlebih dulu memotong kata- kata mamanya


“maaf ma..., ini sudah keputusanku, permisi ...!” Wildan segera beranjak dari duduknya dan meninggalkan keluarga besarnya


Wildan kembali menjalankan mobilnya hingga sampai di depan sebuah rumah besar, dia menyerahkan kunci mobilnya pada pelayan laki- laki di rumah besar itu, sepertinya Wildan sudah akrab sekali dengan rumah itu, para pelayan menunduk hormat melihat kedatangan Wildan.


“selamat datang tuan muda!” salah satu pelayan mengikuti langkah Wildan


“terima kasih pak Harun, bagaimana rumah ini semuanya baik- baik saja kan?” Wildan menjatuhkan tubuhnya di sofa depan tv


“semua baik tuan, apa tuan muda membutuhkan sesuatu?”

__ADS_1


“ambilkan minuman dingin saja!”


“baik tuan muda!” tak butuh waktu lama pak Harun sudah kembali dengfan ,membawa minuman dingin dan potongan buah untuk Wildan


Pak Harun adalah kepala pelayan di rumah besar itu, rumah itu adalah rumah milik Wildan pribadi yang sudah dia beli sendiri untuk Alya, Wildan sudah memperkerjakan beberapa pelayan yang di kepalai oleh pak Harun


“pak Harun ...!” pak Harun yang berdiri tak jauh dari Wildan pun segera terkesiap


“iya tuan muda!”


“sebentar lagi saya akan membawanya ke sini, jadi layani dia dengan baik!”


“tentu tuan muda!”


Wildan pun segera beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar atas di ikuti oleh pak Harun hingga punggung Wildan tak terlihat di balik pintu, baru pak Harun beranjak dari tempatnya berdiri dan melanjutkan pekerjaannya


-


-


-


-


-


terimakasih ya atas dukungannya


jangan lupa like n vote ya


biar tambah semangat nulisnya

__ADS_1


😘😘😘😘


__ADS_2