
seperti pagi pagi biasanya Alya berangkat di antar Wildan, karena Wildan tidak akan meninggalkan kesempatan untuk bersama Alya walau cuma sebentar. Seandainya iya bisa membawa Alya ikut bersamanya, mungkin itu akan ia lakukan.
pagi di awali dengan sedikit menggoda Alya dan melihat wajah Alya sedikit sebal dan merona karena candaannya. akan membuat hari- hari Wildan lebih bersemangat.
Saat Alya turun dari mobil Wildan ternyata di seberang jalan ada yang memperhatikannya.
seorang gadis, dia cukup cantik dan terlihat berkelas. Diam- diam gadis itu mengikuti Alya, dan dengan sengaja menabraknya dari belakang. Hingga membuat Alya kehilangan keseimbangan, Alya pun tersungkur ke tanah.
"ups. . ...., ma- af tidak sengaja!" tampak gadis itu menutup mulutnya sedikit menggoda. senyum licik keluar dari bibirnya. Alya hanya menatapnya dengan kesal.
"Tapi kau sepertinya sengaja ....!" ucap Alya sambil berusaha bangun
"auhhhh ....!" tapi ternyata Alya kesusahan karena lututnya terluka karena gesekan dengan tanah yang keras.
tapi bukanya menolong gadis itu malah meninggalkannya begitu saja.
"dasar pasti dia tadi sengaja, auh....., sakit sekali!" gerutu Alya. sambil mengusap lututnya yang terlihat memerah karena mengeluarkan darah.
"Alya kau kenapa?" tiba- tiba Ardi mendekat dan membantu Alya berdiri, dan memapahnya duduk di bangku taman halaman kampus
"kakimu terluka!" ucap Alya sambil menahan sakit. tampak Ardi cekatan membersihkan luka di lutut Alya.
setelah membersihkan dengan air mineral segera ia ambil sapu tangan di sakunya dan membalutkan di luka Alya.
"terimakasih .... !"
"kenapa kau bisa seceroboh ini?, kalau kakak sampai tau .....!" Ardi terlihat sangat khawatir.
"jangan bilang masalah ini kepadanya ya, ku mohon!" Alya pun sambil menyatukan kedua tangannya dengan memasang wajah memelasnya. Akan menjadi masalah yang sangat besar jika sampai Wildan tahu.
"dasar kau ini!" Ardi sambil mengacak- acak lembut rambut Alya. Ada kehangatan di hatinya. tapi segera ia tepis karena gadis di hadapannya adalah milik kakaknya.
"tapi kau janji kan?" Alya tampak memastikan.
"baik, tapi ceritakan dulu padaku apa yang terjadi?"
"aku terjatuh, karena tampa sengaja ada yang menabrak ku tadi, tapi dia sudah meminta maaf kok!" Alya sedikit berbohong dia tidak mau ada masalah.
"Alya. ......!" tiba- tiba Jesi menyapa Alya, tapi saat melihat Ardi di sebelah Alya, Jesi malah tertegun.
"ya sudah temanmu sudah datang, jaga dirimu, aku pergi dulu!" Ardi pun beranjak dari duduknya dan sedikit tersenyum pada Jesi sambil berlalu.
"Alya....., aku klepek- klepek melihat senyumnya! bikin aku meleleh .....!" Jesi duduk sekenanya,.
__ADS_1
"augh .....!" ternyata Jesi mengenai lutut Alya yang terluka
"maaf maaf, lutut mu kenapa? tanya Jesy tak kalah khawatir.
"tidak apa- apa, ayo ke kelas!" Alya segera meraih tangan dan menarik Jesi ke kelas.
******
seperti biasa saat ada jam kosong sebelum berangkat ke kafe Alya dan Jesi selalu menghabiskan waktu di kantin.
saat Alya berjalan membawa dua gelas minum, tiba- tiba sebuah kaki dengan sengaja menjegal kaki Alya.
seketika Alya pun terjatuh dan semua minumannya tumpah ke badannya.
"augh ....!" saat Alya mendongakkan wajahnya, ternyata pemilik kaki itu adalah gadis yang sama yang telah mendorongnya.
"dia lagi ...., apa sih maunya .....?" batin Alya. sambil menatap tajam gadis di depannya.
gadis itu langsung beranjak dari duduknya, dan jongkok di samping Alya. Ada aura permusuhan di antara mereka.
"ini adalah permulaan, masih ada kejutan kejutan lain yang akan terjadi setelah ini!" gadis itu membisik di telinga Alya tampak mengancam.
"apa urusanmu denganku? kenapa kau menggangguku?" tanya Alya yang masih belum merubah posisinya.
"ayo teman- teman kita pergi, disini gerah!" tapi saat gadis itu hendak meninggalkan Alya. langkahnya segera di cekal oleh kaki Alya.
gubrak
"auhhhggg ....." gadis itu terjatuh
"itu balasan dariku karena telah berani menggangguku ...." ucap Alya sambil berdiri meninggalkan gadis itu yang masih terduduk sama dengan posisi Alya.
"awas saja kau ....!" ancam gadis itu.
"aku tunggu kelanjutannya ..." ucap Alya dengan senyumnya.
"Alya ...., kau tidak pa- pa?" Jesi segera menghampiri Alya yang sudah terbangun.
"tidak pa- pa, temani aku ke toilet!" terlihat Jesi menatap gadis yang bermasalah dengan Alya.
"kenapa kau bisa berurusan dengan Reva, dia itu berbahaya sekali!"
"aku juga tidak tau, kenapa dia menggangguku!"
__ADS_1
"kenapa ya?, sangat sulit menghadapi dia, semua di sini lebih suka menghindar dari pada bermasalah dengannya!"
"aku tidak takut!" Alya tampak yakin.
baju Alya sedikit basah karena tertumpahi minuman.
"aku ke toilet dulu ya, bajuku basah!"
"baiklah aku tunggu di sini!"
Alya pun dengan langkah cepat menuju kamar mandi.
setelah membersihkan bajunya, Alya berdiri di depan kaca besar dan membenarkan dandanannya, kemudian dia teringat dengan apa yang di katakan Reva.
"sebenarnya apa masalahku dengannya, sial sekali aku hari ini, bisa- bisanya di kerjainnya hingga dua kali!" belum berhenti dia ngedumel tiba- tiba ada yang masuk ke kamar mandi.
Alya sedikit terkejut saat melihat siapa yang masuk, dia Reva.
"hai... gadis kumel, senang bertemu denganmu lagi, aku tidak akan melepaskanmu!"
"aku juga senang!" lagi-lagi Alya berani menimpali. Reva salah jika menganggap Alya gadis lugu yang tidak akan melawan.
"ternyata kau berani ya padaku!" Reva tampak marah dan segera mendekati Alya.
"aku bukan gadis yang lemah, apa masalahmu padaku?" ucap Alya.
"jauhi dokter Wildan, dia milikku!"
Alya sedikit terkejut, "bagaimana dia bisa kenal dengan Wildan?" batin Alya
"apa urusannya denganmu?"
"dia tunangan ku, camkan itu baik-baik ....!" sambil menunjuk kepala Alya kemudian Reva meninggalkan Alya.
Alya masih tertegun tidak percaya dengan yang di katakan Reva. mana mungkin, jika Wildan punya tunangan kenapa harus sampai mencarinya sampai ke pelosok dan membawanya kembali ke sisinya.
BERSAMBUNG
jangan lupa kasih like dan komentarnya ya
kasih vote juga ya
happy reading 😘😘😘😘
__ADS_1