Promise Of Love

Promise Of Love
26. cemburu 2


__ADS_3

Wildan pun segera mengajak Alya untuk masuk ke dalam mobil, segera Wildan melajukan mobilnya menjauh dari pandangan Vino. di sana tampak Vino masih memandangi mobil Wildan hingga menghilang di ujung jalan. Rasa cemburu kembali mengepul di dadanya.


"kenapa lagi-lagi aku tidak suka melihat Alya berdekatan dengan laki- laki lain" batin Wildan sambil terus fokus dengan kemudinya


"aku cemburu, sangat cemburu, apa aku terlalu posesif " lagi-lagi otaknya di penuhi dengan pemikirannya sendiri.


"aku tidak suka .....!" Wildan memulai pembicaraan tanpa menatap Alya.


"a- apa?" Alya tampak terkejut dengan suaraku yang tiba- tiba. benar-benar membuat Alya bingung.


"kenapa kau tidak jujur padaku?" Wildan semakin mempertegas ucapannya.


Wildan pun segera meminggirkan mobilnya. ia menghentikannya dengan sangat kasar. tapi tak sekali pun Wildan memandang Alya, matanya masih lurus ke depan memandang jalanan yang tampak padat dengan pengendara. Kini Alya pun mulai memahami ucapan Wildan.


"maaf ....!" hanya kata itu yang keluar dari bibirnya, entah apa dia marah pada Wildan ataukah dia takut pada kemarahannya.


Wildan tidak merasa cukup hanya bisa berada di sampingnya. Dia cuma ingin melihat cinta itu hanya untuknya. Begitu serakahnya dia. Tapi cinta memang tak memandang logika. Mungkin dia sangat pandai dalam memimpin perusahaan atau menyembuhkan orang sakit. Tapi kenapa menaklukkan satu gadis saja tidak bisa. Begitu sulit baginya.


Dia pun turun dari mobil dan Alya mengikutinya. Wildan duduk di depan kap mobil, matanya masih menerawang jauh. ia sangat lelah. rasa takut kehilangan menguasai pikirannya.


"apa kau marah padaku?" Alya mendekat padanya dan duduk di samping Wildan. Wildan tampak menghembuskan nafas beratnya. ia mencoba untuk berfikir jernih.


"aku tidak marah, mungkin aku yang egois!" ucapan Wildan kini sedikit melunak.


"maafkan aku!" kata itu lagi yang keluar dari bibir Alya. walaupun tidak tahu apa kesalahannya tapi ia tidak mau kemarahan pria di sampingnya itu bertambah besar.


" kenapa dia itu sangat pemarah ..." batin Alya.


"mungkin karena cinta ini .....!"


Wildan segera meraih tubuh Alya, hingga tidak ada jarak di antara mereka. Mereka pun saling berhadapan. Mata mereka bertemu.


"lihat aku ...., aku ingin melihat cinta di matamu!" ucap Wildan dengan tatapan yang sulit di artikan.


******


Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan 'ku bicara


Agar kau juga dapat mengerti

__ADS_1


Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah ku lupa kurasakan


Tanpa tahu mengapa


Yang kutahu inilah cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyuman mu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


*****

__ADS_1


mungkin lagu ini cocok untuk menggambarkan perjuangan hati Wildan.


karena bahkan aku tidak tahu kenapa aku seperti ini


"aku tidak perlu menjawab kan?" seperti biasanya. kepolosan Alya malah menjadi bumerang baginya. bagaimana tidak, Alya malah balik bertanya padanya.


"aku tau itu, maafkan aku ....!" Wildan merasa frustasi. Tapi dia juga merasa bersalah karena sudah memaksanya.


jika pun nanti aku tidak menjadi milikmu, orang lain juga tidak akan memilikiku



Wildan mengusap air mata Alya yang meleleh di sudut matanya, Wildan tau walaupun dia tidak mengucapkan. dia yakin dengan hatinya.


aku tau dalam hatinya dia sangat mencintaiku


"aku memang tidak bisa mengatakan cinta Wildan" batin Alya.


"tapi aku tau kamu mengerti hanya dengan melihat mataku" Alya masih merasa ragu dengan perasaannya. Rasanya masih sulit mengartikannya. Dia masih takut jika semua ini hanya rasa nyaman saja.


"maaf, lain kali aku akan lebih jujur padamu Wildan!" ucap Alya setelah dalam diamnya. Walaupun air matanya itu sebagai tanda atas apa yang ada di hatinya.


"aku juga minta maaf karena aku terlalu berlebihan!" Wildan pun mengalah untuk kali ini.


Mereka pun akhirnya mengakhiri drama cinta di pinggir jalan ini.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan mobil pun kembali melaju


lima belas menit pun berlalu mereka sampai di rumah, mereka tertinggal acara makan malam. mungkin akan terjadi drama lagi sekarang.


"kalian dari mana saja?" seperti biasa bibi Retno selalu memandang Alya dengan ketus dan merendahkan.


"sebegitu bencinya bibi Retno padaku, hingga untuk tersenyum saja tidak mau" batin Alya, rasa sakit menjalar di hatinya. ia merasa sangat kecil jika melihat tatapan dari mamanya Wildan.


"bagaimana aku bisa bermimpi menjadi menantu rumah ini." batin Alya.


"kami ada urusan sebentar ma!" Wildan berusaha menjelaskan. Dia tidak suka jika mamanya memandang Alya seperti itu. dia menyembunyikan Alya di belakang tubuhnya.


"sampai semalam ini, hanya berdua?" Retno begitu tidak bersahabat.


"kami bukan anak kecil lagi ma, jangan khawatir!" kata Wildan sambil memeluk manja mamanya. walau bagaimanapun dia tetap mamanya yang selalu dia sayangi dan hormati.


BERSAMBUNG

__ADS_1


jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


kasih Vote nya juga.


__ADS_2